Ketika seseorang lebih memilih untuk meninggalkan, kamu mungkin akan bertanya kenapa, apa yang salah, dan bagaimana bisa begini. Kamu terus saja mempertanyakannya sampai kamu bercermin, apakah kamu kurang cantik atau apa. Ataukah ada yang salah dengan dirimu ataukah tidak. Kau tetap saja bertanya, pada dirimu atau mungkin bahkan orang-orang, apakah benar kamu terlalu ingin memiliki, apa memang kamu tak pantas untuk dia, atau dia yang tidak pantas untuk kamu.

Biar aku bantu untuk menjawab. Karena jawabannya mungkin tak akan kamu temukan ketika kamu bertanya pada orang lain, atau ketika kamu bertanya pada dia yang meninggalkanmu, bahkan ketika kamu bertanya pada teman terbaikmu. Jawabannya akan segera kamu temukan setelah tiba saatnya nanti, setelah kamu bisa berdiri lagi, setelah kamu sudah menemukan bahagia kembali.

Advertisement

Mungkin, saat ini rasanya sedikit sakit, atau mungkin akan terasa sakit sekali. Dia yang semula ada, untuk kemudian tiba-tiba tak ada. Dia yang semula kontaknya selalu tak pernah absen muncul di layar ponselmu. Dia yang selalu bilang selamat pagi, selamat malam, mengingatkanmu makan, bahkan mendengarkan ceritamu yang tak terlalu penting. Yang selalu intensif menemuimu, mengajakmu kencan di malam minggu. Kini mendadak semuanya hilang. Yang tersisa, tinggal foto-foto kalian di memory card kamu. Tinggal bunga mawar yang sudah layu, atau boneka pemberiannya saat kamu ulang tahun terakhir kali beberapa bulan yang lalu.

Lalu, kamu berpikir untuk mengganti nama kontaknya dari “Sayang” menjadi “Manusia sialan” dan sebagainya. Membuang dan membakar semua apapun yang pernah dia berikan untukmu. Menghapus foto kalian berdua, hingga kamu tak bisa lagi menemui jejaknya di kamarmu, di tempat manapun yang bisa mengingatkan kamu padanya. Kamu terus berusaha mati-matian seperti itu. Sebisa mungkin kamu ingin tak lagi memikirkan, namun semakin kamu berusaha, sialnya kamu semakin teringat padanya. Lalu tanpa sadar, kamu menangis, lagi dan lagi.

Atau bisa saja, kemungkinan yang paling fatal adalah kamu tak lagi bisa menemukan dirimu kembali utuh. Kamu merasa kehilangan separuh dari dirimu, mengurung dirimu di kamar berhari-hari, enggan pergi kemanapun, hingga kamu berpikir duniamu telah berakhir sampai di sini.

Advertisement

Bukan, bukan seperti itu caranya melupakan. Bukan dengan emosi yang meluap-luap, atau mungkin dengan mengurung dan menutup diri. Juga bukan dengan menyiksa dirimu, enggan makan dan menghabiskan waktu dengan menangis berhari-hari.

Hal yang terpenting adalah, maafkan dia, jika itu masih tidak bisa, cobalah untuk memahami kemungkinan terburuk yang akan kamu dapati jika sampai saat ini masih bersamanya. Jika itu masih tak bekerja, cukup percaya saja, akan ada kekuatan besar setelah kamu memaafkannya.

Lalu, setelah kamu memaafkannya, jangan lupa maafkan juga dirimu. Kembali bangun dirimu seperti sedia kala. Tidak, tidak pernah ada yang salah denganmu. Tak pernah ada yang kurang denganmu. Kamu hanya cukup menyadari bahwa memang kalian tak bisa bersama, bukan karena ada yang kurang dengan dirimu atau apapun itu.

Inilah kekuatan memaafkan. Pelajaran memaafkan akan membuat rasa sakitmu sedikit berkurang. Kau akan segera menemukan dirimu kembali, seperti sedia kala, seperti saat kau belum menemukan luka. Memaafkan selalu menjadi salah satu jalan untuk agar nanti kau bisa melupakan dia.

Bersyukurlah untuk segala hal yang ditunjukkan di awal, barangkali kalau kamu tahunya nanti-nanti, kamu akan merasa lebih sakit dari ini.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya