Nyatanya Memilih Sendiri Saat Orang Lain Sudah Menambatkan Hati Itu Berat Sekali

Saat Memilih Sendiri

Aku hampir menangis sesenggukan saat menuliskan ini. Dengan mudahnya orang-orang di sekitar menyimpulkan aku tak laku, sok jual mahal, dan keras kepala. Aku menangis seolah-olah mereka tak peduli aku juga masih punya perasaan.

Advertisement

Apakah mengambil keputusan untuk sendiri dulu itu buruk? 

Apakah menolak seseorang di saat hati masih ragu itu salah?

Apa menurutmu aku tak ingin seperti yang lain melabuhkan hati pada seseorang?

Apa setiap orang mendapatkan jodoh di usia yang sama bahkan orangnya pun sama?

Apa aku harus selalu mengiyakan setiap perkataan di saat hati dan pikiran ingin membantah habis-habisan?

Percuma, semua pernyataan dan pertanyaanku ditolak habis-habisan. Tetap bagimu aku salah. Oke, aku akui orang yang masih mau mengingatkan adalah orang yang sayang. Namun, tak sadarkah jika yang kamu anggap baik untuk aku pilih belum tentu pula aku menganggapnya baik. Hidup memang seperti ini pemikiran masing-masing orang berbeda.

"Kamu pasti akan menyesal, umurmu berapa?"

Advertisement

Kamu seolah-olah selalu menanyakan umur. Padahal tanpa aku katakan kamu sudah tahu umurku berapa. Membandingkan dengan orang lain yang dengan mudahnya menambatkan hati, sedangkan aku dengan santainya masih sendiri. Kamu seolah-olah punya hak kendali atas diriku tapi bukankah akhirnya akulah yang akan menjalani jalan panjang kehidupanku sendiri?

Walaupun saat ini aku memilih sendiri dulu, sebenarnya itu berat. Bukan hanya mendengar nyinyiranmu maupun nyinyiran mereka. Bukan hanya iri dengan mereka yang telah bersama. Bukan hanya aku lelah sendirian ingin berbagi bersama pasangan. Melainkan ini adalah urusan hati yang pada hakikatnya ingin berlabuh pada orang yang tepat. 

Advertisement

Keluh kesahku memang panjang sepanjang keputusan yang diambil. Telah dipikirkan matang-matang hasil baik maupun buruk nanti akan diterima. Saat ini izinkan aku mengejar mimpi-mimpi yang bagi orang hanya mimpi. Biarkanlah aku percaya diri untuk terus berjuang dan nanti akan terbukti. Walau kelihatannya tak melakukan apa-apa aku bisa mengguncang dunia. Tertawalah, tertawalah sekeras mungkin. Saat ini mungkin mimpiku hanya bisa ditertawakan. Suatu saat nanti andai bisa kubuktikan tetaplah tertawa. Jangan sampai tawamu hilang. Karena kamu menyadari di dunia tak ada yang tak mungkin selama kita berusaha dan Allah meridhoi.


Ayah bundaku tersayang, teman yang kusayang dan tetangga selalu bertanya kapan, kapan, dan kapan…


Doakan aku ya doakan dalam jalan panjang kehidupan, dalam tikungan yang tajam, kerikil-kerikil yang siap menghadang dan ketidakpastian hasil akhir dari tujuan. Semoga itu hal terbaik yang aku jalankan. Akan ada hikmah di baliknya. Akan ada kedewasaan pada akhirnya. Tentunya semua itu akan menghasilkan rasa syukur yang tak akan henti untuk diucapkan.

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya

Advertisement

“Artikel ini merupakan kiriman dari pembaca hipwee, isi artikel sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.”

Berikan Komentar

Tim Dalam Artikel Ini

Editor

Not that millennial in digital era.

CLOSE