Seperti yang kita tahu, Indonesia merupakan negara yang memiliki budaya yang sangat beragam, dari Sabang sampai Merauke terdapat 1.128 suku, 737 bahasa, 6 agama besar serta berbagai kepercayaan lainnya.

Bila dipahami dengan baik dan benar serta memiliki cara pandang yang positif, segala perbedaan tersebut dapat menghasilkan energi yang sangat luar biasa. Tetapi perbedaan tersebut juga tidak menutup kemungkinan untuk "memancing" terjadinya perpecahan.

Advertisement

Jika kita ingat – ingat lagi, Indonesia memiliki cita – cita proklamasi yang tertulis di Pembukaan UUD 1945 pada alinea kedua yang berbunyi :

"Dan perjuangan pergerakan kemerdekaan Indonesia telah sampailah kepada saat yang berbahagia dengan selamat sentosa mengantarkan rakyat Indonesia ke depan pintu gerbang kemerdekaan Negara Indonesia, yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil dan makmur".

Pada alinea tersebut dapat diartikan bahwa kemerdekaan negara ini dapat mengantarkan Indonesia menjadi negara yang bersatu dan makmur. Namun nyatanya saat ini banyak sekali masalah-masalah yang menghambat cita-cita tersebut. Ya, Negara Indonesia sering sekali dihadapkan dengan permasalahan-permasalahan yang disebabkan oleh perbedaan.

Advertisement

Contohnya seperti ketegangan antar etnis, penyebaran isu SARA sampai munculnya masalah ideologi radikal. Hal tersebut dikarenakan masyarakat di Indonesia kurang memahami nilai-nilai yang ada di dalam tubuh Pancasila. Ironisnya lagi, saat ini masih ada saja masyarakat yang acuh tak acuh dan tidak hafal sila-sila di dalam Pancasila.

Solusi yang bisa ditawarkan dari hal tersebut adalah menanamkan nilai-nilai pancasila terutama nilai persatuan sejak usia dini. Jika kita lihat saat ini, pendidikan di Indonesia memiliki beban kurikulum yang sangat berat, siswa dituntut menimba ilmu dari pagi hingga sore, ilmu yang di dikedepankan pun hanya dari aspek kognitif.

Jika dilihat, saat ini memang pemerintah kurang mengedepankan pendidikan persatuan, padahal pendidikan moralitas dan perdamaian juga sama pentingnya dengan aspek kognitif. Seperti yang kita tahu, usia anak 4 sampai 12 tahun merupakan usia "emas" dimana indra anak – anak sangat mudah dan sangat cepat sekali menerima segala hal atau informasi yang orang tua ajarkan.

Dengan begitu saat anak sudah mencapai usia seperti yang disebutkan diatas merupakan waktu yang tepat untuk pihak orang tua maupun guru di sekolah mengajarkan nilai-nilai dari pancasila. Untuk menumbuhkan situasi perdamaian, sebaiknya menumbuhkan rasa cinta tanah air terlebih dahulu.

Mengajarkan rasa cinta tanah air pada anak-anak di lingkungan sekolah dapat dilakukan dengan mengadakan lomba di setiap peringatan kemerdekaan Indonesia, mengadakan pentas seni yang berhubungan dengan budaya Indonesia, mengenalkan bahasa daerah, rumah dan pakaian adat.

Setelah rasa cinta tanah air itu muncul maka akan diikuti dengan rasa perdamaian. Saat dewasa nanti diharapkan mereka dapat menjadi warga negara yang baik, mempunyai rasa cinta yang tinggi terhadap negara, menciptakan perdamaian serta mampu mengharumkan nama bangsa.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya