Bagaimana sistem kemungkinan? apakah cinta perlu pertimbangan? atau sekadar nyaman–pada seseorang–yang tak pernah disangka akan hadir?

Pertimbangan-pertimbangan; angka, waktu, usia, jarak–haruskah mereka campur tangan dalam sebuah hubungan? apakah cinta perlu serumit itu? lalu bagaimana dengan mereka yang sanggup? keberartian dan apa saja adalah mungkin, mungkin.

Advertisement

Aku tak pandai menerka-nerka nanti; yang terjadi beberapa waktu akan datang–yang entah sepanjang apa itu bila diberi angka. aku hanya berpikir aku akan bisa meluruskan apapun yang terjadi di “Nanti” itu, sanggup menghadapinya–dan itu tak mudah. aku hanya berpikir aku mendapatkan, sekarang.


It's just matter of time, right?


Bagaimana dengan usia? jarak? ketika tiba-tiba kubeberkan usia yang menyuguhkanmu sebuah ternyata dan antara yang kemudian akan hadir, haruskah pertimbangan-pertimbangan itu menguasai isi kepalamu? atau kaubisa pura-pura saja tak peduli, sampai kautemukan itu–keberartian.

Advertisement

Bukanlah hal yang mengenakkan, ketika kau jatuh secara fatal dan harus bangkit kembali. bukanlah hal yang menyenangkan, ketika kau tercebur ke air yang cukup dalam dan harus berenang keluar genangan seluas kemungkinan dan pertimbangan, yang entah sudah berapa pekan di kepalamu. lalu seresah kemudian, katanya: Cinta itu buta, tak memandang apapun–dan aku menerapkannya, sendirian.

Terkadang, aku tak mengerti dan paham pada diri sendiri, kau saja tak bisa mencintai dirimu sendiri, bagaimana orang lain? lalu untuk apa aku membuang-buang angka dan waktu untuk memanjakan diri sendiri? terlalu mudah jatuh itu menguasai aku, dan kau tak merasakannya. aku punya cara mencintai diri sendiri, meski tak paham bagaimana. lalu aku punya caraku sendiri untuk mencintaimu.


kemudian aku rela malu di hadapanmu–kita di hadapan orang-orang, kemudian kau perlahan menganggap kerabat-kerabat antara sementara aku perlahan memangkas selang.


Kebiasaanku, pergi ke kedai-kedai kopi untuk pulang sementara, karena di sana aku bisa menemukanmu dalam jelmaan kopi atau cokelat, atau buku-buku. dan tak pernah paham aku sedang jatuh cinta–atau hancur, sedang mendapatkan–atau kehilangan. kemungkinan dan pertimbangan itu yang terus mengikutiku ataupun kau, menculik diam-diam dan perlahan–lalu kau dan aku seperti tak pernah dipertemukan, dan apa maksud Tuhan? sebenarnya?

Entah, aku seperti berusaha; berenang sendirian. rindu, rindu ini bukan tanpa alasan. aku hanya–tanpa malu–yakin, perhatian itu bukan tanpa alasan.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya