Aku merindukannya, sangat merindukannya. Sahabat terbaikku yang kini meninggalkanku. Tanpa ada salam perpisahan, dia meninggalkanku dan meninggalkan sejuta kenangan yang telah kami rajut bersama.

Najmi, dialah sahabat karibku. Kami selalu menghabiskan waktu bersama, dia selalu ada untukku baik suka maupun duka. Dia yang selalu menghapus airmataku dan selalu membuatku tertawa. Aku sangat nyaman berada di sisinya. Kami sangat kompak dalam berbagai hal.

Aku menganggapnya bukan hanya seorang sahabat, melainkan abang kandungku. Maklumlah aku anak pertama dan tidak mempunyai abang, jadi bersamanya aku merasa dilindungi. Kami mempunyai hobi yang sama yaitu berkebun. Dia sering kali memberiku tanaman bunga mawar, karena aku sangat suka mawar. Berbagai macam warna bunga warna mawar sudah aku tanam, dan dia sering membantu untuk merawat bunga mawar itu.

Melihat kedekatanku dengan Najmi, pacarku sangat cemburu. Dia terganggu melihat kedekatanku dengan Najmi, padahal sudah berulang kali aku katakan bahwa aku tidak memilki hubungan apa-apa , kami hanya sebatas sahabat. Aku cukup mengerti kondisinya, sehingga aku berusaha untuk menjaga perasaannya. Begitu juga dengan pacar Najmi yang sering kali cemburu, bahkan kekasih Najmi sering menyindirku di sosial media.

Oleh sebab itu, aku dan Najmi berusaha untuk saling menjaga perasaan pasangan kami masing-masing, sehingga mengurangi waktu kebersamaan kami. Namun, jauh berada di sisi Najmi, membuat ada sesuatu yang lain di hatiku. Seperti ada yang kosong, aku merasa hariku sangat membosankan dan aku merindukannya.

Advertisement

Sore itu, kami berjanji untuk bertemu di tempat biasanya, dari kejauhan aku melihat Najmi sedang menikmati kopi kesukaanya. Dia melambaikan tangan ke arahku sambil tersenyum. Aku merasa jantungku berdebar. Aku merasa ada sesuatu yang lain dari biasanya, karena kali ini Najmi hanya diam dan hanya memandangiku. Aku salah tingkah, aku pura-pura tidak tahu Najmi memandangiku dan coba fokus ke ponselku. Tiba-tiba Najmi berkata sambil memegang tanganku.

“Die, aku cinta sama kamu. Aku sudah berusaha untuk menghilangkan semuanya dan hanya menganggap kamu sahabat aku, tapi aku nggak bisa, rasa ini semakin kuat. Aku nggak mau membohongi rasa ini. Aku tulus sayang sama kamu, bukan sebagai sahabat. Please, maafkan aku”

Aku terdiam cukup lama, karena aku tidak tahu harus berkata apa. Jujur aku senang atas pengakuan Najmi, tapi aku juga terkejut dengan semuanya yang tiba-tiba. Aku cukup senang dengan hubungan kami sebelumnya sebagai sahabat, aku tidak mau semuanya berubah karena ini. Jauh di lubuk hatiku yang paling dalam aku juga mencintai Najmi, tapi aku tidak mampu melakukannya. Karena aku tidak ingin melukai perasaan kekasihku dan kekasih Najmi. Setelah lama aku berkutat dengan pikiranku aku memutuskan untuk menolak Najmi.

Setelah kejadian itu kami tidak saling bertemu, bahkan kami lost contact. Terakhir kali aku mendapat kabar dari temannya, Najmi melanjutkan kuliah di luar negeri. Aku sudah putus dengan kekasihku. Tiga tahun tidak bertemu dengannya tidak ada rasa yang berubah, aku masih mencintai Najmi dalam diam.