Sebelum kamu hadir, aku hampir menyerah pada takdir…


Sebelum kamu hadir, aku sering menyalahkan segala hal yang tak sesuai ingin. Aku sering menyalahkan semua orang yang seakan pergi dan tak bersedia mampir, saat hidup terasa sangat getir. Merasa hampa dan seperti tak punya siapa-siapa untuk diajak bercerita. Sebelum kamu hadir, aku bahkan sudah tak bisa lagi membedakan mana ketulusan dan mana kebohongan yang kian hari terasa begitu samar. Semua hati yang datang padaku, rasanya seperti hanya ingin singgah dan bukan menetap. Menyalahkan diriku sendiri seperti menjadi kebiasaan walaupun terkadang itu bukan kesalahan yang harus aku khawatirkan. Berkali-kali disakiti membuat hatiku menjadi mati untuk merasakan cinta yang benar.

Advertisement


Pasrah pada Tuhan, membuatku tak ingin menuntut apa-apa lagi perihal perasaan…


Rasanya, terlalu banyak hal yang aku lewatkan saat patah hati. Aku hanya berkutat pada kesedihan dan menyalahkan diri sendiri. Tanpa pernah melihat bahwa selalu ada kebaikan disaat Tuhan membuat hatiku terluka.  Aku hanya sibuk bertanya mengapa dan mengapa tanpa pernah mengikhlas segala rasa yang memang bukan pada tempatnya. Biarkan patah hati mendewasakan kita, biarkan patah hati membuatmu mengerti bahwa dirimu sendiri adalah orang yang paling pertama harus bahagia sebelum kamu sibuk membahagiakan dia. Pasrah dan ikhlas adalah penyembuh paling mujarab saat segala luka seperti mengikatmu dalam ruangan yang hampa. Sebab semakin kau genggam, kamu hanya akan semakin terluka.


dan akhirnya, Tuhan menjawab segala doa dan pinta, Dia mengirimmu sebagai penenang jiwa…


Advertisement

Kamu tahu? Sekarang aku begitu takut untuk jatuh cinta, sekarang aku begitu takut untuk percaya bahwa seseorang yang bersamaku tak akan pergi begitu saja. Sekarang rasanya begitu sulit untuk memberikan hatiku seutuhnya karena semua luka yang pernah ada. Begitu hebatnya orang-orang sebelum dirimu menggoreskan luka yang butuh waktu lama untuk menyembuhkannya. Maafkan aku, saat pertama kali kita berjumpa aku justru lebih sering membuatmu kecewa. Maafkan aku, jika aku lebih sering meragukan semua niat baikmu untuk menuju hubungan yang lebih serius karena aku belum sepenuhnya sembuh dari trauma. Namun melihat semua usahamu, semua ketulusanmu, kini aku bersyukur karena Tuhan akhirnya mempertemukan kita. Akhirnya Dia menjawab segala doa yang aku pinta. 

Terima kasih karena tak pernah menyerah untuk meyakinkanku. Terima kasih karena tak pernah lelah untuk membuatku percaya bahwa kamu memang menyayangiku. Terima kasih karena mau bersabar untuk meredam egoku. Terima kasih, karena mau menerima segala kurang dan lebihku. Serta terima kasih, karena meyakinkanku bahwa aku berharga, untuk kau cintai dengan segenap rasa..

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya