Hei, bagaimana kabarmu? Tidak terasa sudah kurang lebih dari lima tahun sejak terakhir kali kita memutuskan untuk mengakhiri kisah antara kita. Aku tidak mengerti mengapa hingga detik ini aku masih saja mengingatmu, padahal aku sudah memaafkan segala salahmu. Mungkin kamu mengerti, Bukan hal yang mudah bagi aku untuk dapat merelakan apa yang telah kita rancang bersama, hingga kau sendiri yang menjatuhkan segala harapan itu, sampai tak bersisa. Kepercayaan yang kita bangun bersama, tidak dapat lagi disatukan.

Aku senang, satu persatu dari impianmu dapat terwujud. Kamu adalah salah satu dari orang yang beruntung, yang sudah menikmati kesuksesan diusia sangat muda. Aku? hah tidak perlu kau menanyakan tentangku, aku masih melalui berbagai proses yang begitu panjang, langkahku pun masih terseok-seok, tidak sepertimu yang sedang menikmati masa masa muda dengan keberhasilanmu yang luar biasa.

Advertisement

Hahaha ya aku paham, Mungkin itu adalah salah satu alasanmu meninggalkanku dan lebih memilih dia yang setara denganmu, karena aku begitu jauh tertinggal darimu. Tapi, tidak mengapa, setidaknya aku yang menemanimu memasuki gerbang kesuksesan itu. Namun sayang, bukan aku yang menemanimu untuk menikmati suksesmu hingga sekarang.

Prosesku untuk melupakan segala tentangmu tidaklah mudah, bagaimana tidak? Kita mempunyai satu lingkup pertemanan yang sama. Ya teman temanmu adalah temanku juga, bahkan kita tergabung di satu group whatsapp yang sama hehe. Berbagai pertemuan pertemuan yang membuat kita saling bertatap muka. Jujur kadang aku ingin menghindari pertemuan yang dimana ada kamu disitu, tapi kembali lagi teman-temanmu adalah teman temanku juga. Sulit memang bagiku ada di keadaan ini, namun aku selalu mencoba berdamai dengan keadaan, ya berdamai dengan keadaan, berdamai dengan hatiku.

Ketika libur semester tiba, dimana semua teman teman kembali dari kota perantauan mereka masing masing, ya termaksud kamu salah satunya, entah itu di moment liburan bulan puasa maupun natal dan tahun baru. Moment moment itu yang selalu saja mempertemukan kita, tentunya dengan keadaan yang berbeda. Berkumpul rasanya tidak seasik dulu, canda tawa terasa hambar. Sebelum aku berkumpul bersama yang dimana ada kamu disitu, aku selalu menguatkan diriku sebelum pergi, menghilangkan rasa egois,  canggung, dan menghilangkan rasa benci kepadamu. Aku bisa lakukan itu semua, aku berusaha terlihat baik baik saja di depanmu dan teman teman. 

Advertisement

Bahkan beberapa kali kamu mampir ke rumahku ketika hari natal tiba, tentunya bersama teman teman lainnya. Tidak pernah aku sangka sebelumnya, kamu akan berani kembali lagi ke rumah ini. Tapi tak mengapa, toh niatmu baik. 

Kisah ini mendewasakan aku, bahkan mungkin juga denganmu. Aku tidak bisa benar benar membencimu, aku tidak bisa menghindar dari pertemuan pertemuan itu. Aku ikhlas dan menerima atas segala yang sudah pernah terjadi. Aku dan kamu dengan besar hati kembali menjalin hubungan pertemanan seperti awal kita bertemu, meskipun selalu saja ada rasa yang berkecamuk di dalam dada.

Terkadang, teman teman bertanya kepadaku. Kok kamu bisa ya berteman dan menjalin hubungan baik denganmu yang sudah menghianati. Aku hanya bisa menjawab dengan senyuman tulus, dan mengatakan bahwa kita sudah sama sama dewasa, tidak harus bertingkah layaknya anak anak yang memutuskan komunikasi, memblokir kontak, menghindari, saling mencaci dan memutuskan pertemanan hanya karena cinta yang patah.

Ohiya, Aku menuliskan beberapa bait puisi tentangmu, saaat kata kata tak mampu diucapkan, biarkan aku mencurahkan segalanya dalam puisi ini.

 

Hei kamu, masa laluku

Masihkah kamu mengingatku ?

Aku adalah kekasihmu yang dulu

Bolehkah kali ini aku merindu ?

 

Hei kamu, masa laluku

Entah mengapa aku masih saja mengingatmu

Sesekali aku merindu

Sesekali aku bernostalgia sendiri

 

Hei kamu, masa laluku

Perjalananku melupakanmu, hingga kini tidaklah berujung

Aku dengan segala caraku, terus mencoba

Namun, tidak ku temukan hasilnya 

 

Hei kamu, masa laluku

Begitu hebat segala tentangmu

Hingga aku terlihat seperti orang bodoh

Yang selalu saja terjebak di masa lalu

 

Hei kamu, masa laluku

Kamu terlihat semakin bahagia sekarang

Semoga kamu benar-benar sedang menikmati kebahagiaan itu

Bukan hanya sekedar topeng maupun gimik yang kau buat-buat 

 

Hei kamu, masa laluku

Mengantarmu ke gerbang kesuksesan, itu tugasku

Namun sayang, menemanimu hingga sekarang 

Hanyalah mimpi indahku

 

Hei kamu, masa laluku

Sudahlah, tidak perlu selalu memohon ampun

Aku sudah terlebih dahulu memaafkanmu

Walaupun aku masih saja tenggelam dalam kenyataan 

 

Hei Kamu, masa laluku

Tahun teruslah berlalu

Mengarungi harapan yang telah berlalu

Mengikhlaskan dan menerima adalah suatu keharusanku 

 

Hei Kamu, masa laluku

Aku tidak tau, apa rencana semesta dimasa depan

Jika kita masih diizinkan dipertemukan

Aku harap kamu bukan lagi Januariku dimasa lalu

Jika tidak, biarkan aku terus belajar mengikhlaskan 

 

Untuk kamu, yang tidak bisa aku benci

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya