Mengenal Lebih Dekat Tentang Mindfulness dan Kebermanfaatannya

Bagi kalian mahasiswa psikologi pasti tidak asing ya mendengar kata ‘mindfulness’, tapi ada beberapa orang yang mungkin bertanya-tanya mengenai apa sih itu mindfulness? Nah sebelum membahas pengertian dari apa itu mindfulness, kita akan membahas mengenai konsep dan sejarah singkatnya.

Advertisement

Mindfulness awalnya merupakan tradisi yang berasal dari timur. Konsep mindfulness sendiri berakar dari agama Buddha dan dari tradisi yang berfokus pada pemeliharaan perhatian dan kesadaran. Pada tradisi agama Buddha, mindfulness merupakan jalan untuk mencapai Vippassana, yaitu kesadaran (sati) dan perhatian. Perhatian dan kesadaran ini dapat menciptakan kondisi pikiran yang natural, sederhana, dan akrab.

Nah kemudian praktik mindfulness ini dibawa keluar dari tradisi Buddha sehingga dapat dilatih dan dipelajari oleh siapapun. Mindfulness mulai muncul pada psikologi barat dan medis. Praktik mindfulness kemudian beralih ke ranah psikologi, neurosains, dan medis dengan memunculkan efek yang positif di dalam pikiran dan keseluruhan tubuh.

Lalu apa sih itu mindfulness? Nah menurut Berthon & Pitt (2019) mindfulness berasal dari kata Sati yang dalam bahasa Pali (Bahasa yang digunakan pada pengajaran agama Buddha) yang berarti ‘mengingat’. Maksud dari kata ‘mengingat’ ini bukan berarti kita flashback atau mengingat masa lalu dan hal-hal yang sudah terjadi, melainkan kita mengingat untuk menjadi sadar dan memperhatikan diri kita pada saat ini juga (Siegel et al., 2009).

Advertisement

Selain itu, pengertian lainnya adalah mindfulness merupakan tradisi Buddha yang menggunakan teknik terapi modern guna meningkatkan perhatian dan menyadari pemikiran yang terdistorsi. Brown dan Ryan (2003) mengungkapkan bahwa mindfulness merupakan suatu keadaan dimana perhatian dan kesadaran yang terfokus pada kejadian yang terjadi saat itu juga. Jadi mindfulness merupakan kesadaran dan pemberian perhatian secara pribadi pada saat itu juga.

Tapi apakah mindfulness sama dengan meditasi? Dilansir dari Kompas.com, praktik meditasi merupakan sarana untuk mengubah pikiran, mendorong konsentrasi dan memberikan ketenangan serta emosi yang positif. Praktik meditasi ini membutuhkan waktu luang khusus untuk fokus pada tubuh dan ritme napas. Sedangkan mindfulness adalah melakukan kegiatan sehari-hari, namun dengan kesadaran penuh, sebagai contoh, ketika kita sedang makan kita benar-benar merasakan makanan yang kita makan bukan sambil melamun atau memikirkan yang lain atau ketika kita sedang belajar di kelas, pikiran kita tetap terfokus dengan penjelasan guru/dosen, bukan malah melamun atau berpikir kemana-mana.

Menurut Brown dan Ryan (2003) aspek-aspek mindfulness terdiri dari perhatian dan kesadaran. Perhatian dan kesadaran inilah yang menjadi inti dari mindfulness. Kesadaran adalah aspek dimana kita dalam keadaan kondisi sadar mulai dari masuknya rangsangan, baik itu panca indera, kinestetik, dan aktivitas pikiran, sedangkan aspek perhatian adalah asuatu proses guna memfokuskan kedalam keadaan sadar.

Mindfulness juga terdiri dari lima aspek yang terperinci yaitu mengamati, mendeskripsikan, bertindak secara sadar, tidak menghakimi pengalaman batin, dan tidak bereaksi terhadap pengalaman batin (Baer et al., 2008)



Lalu apakah mindfulness itu perlu dilatih? Menurut Waskito (2019) individu perlu melatih untuk mengarahkan atensi atau perhatian agar memiliki kelenturan psikologis. Kelenturan psikologis adalah keunggulan mindfulness berupa kelenturan pada perhatian dan kesadaran terhadap pengalaman. Kelenturan ini menjadi sebuah karakter pada individu sehingga individu dapat memusatkan atensi atau perhatian pada pengalamannya. Untuk  menjadi kebiasaan, mindfulness perlu dipraktikan dan dilatih.

 

Mace (2007) mengungkapkan bahwa praktik mindfulness terdiri dari praktik informal dan formal. Praktik informal meliputi mindful activity, seperti contoh yaitu ketika kita sedang makan, membersihkan barang-barang, mengendarai kendaraan bermotor dan lain-lain; selain mindful activity, ada pula pemberian tugas terstruktur seperti pemantauan diri dan problem solving; dan praktik informal yang terakhir adalah mindful reading seperti puisi dan meditasi singkat.

 

Sedangkan praktik formal meliputi praktik meditasi yaitu meditasi duduk dengan fokus perhatian pada napas, sensasi tubuh, dan suara; selain itu ada pula meditasi berjalan, peregangan dengan yoga, serta penugasan kelompok dan diskusi pengalaman mindful. Dan ada pula mindfulness yang berbasis intervensi seperti MBSR atau Mindfulness-Based Stress Reduction, lalu MBCT yaitu Mindfulness-Based Cognitive Therapy, DBT atau Dialectical Behaviour Therapy, dan ACT yaitu Acceptance and Commitment Therapy.

 

Menurut Arif (2016) manfaat melakukan praktik mindfulness adalah individu akan memiliki sikap dan sifat mindful atau berkesadaran. Penyebab mengapa individu berkesadaran karena meditasi formal dan informal mindfulness membuat individu memiliki karakteristik yang tidak menghakimi, sabar, cara pandang seorang pemula, percaya, tidak bersitegang, menerima, dan mampu  merelakan. Jalan mindfulness sendiri adalah kita mampu menerima diri kita saat ini secara apa adanya.

 

Menurut Waskito (2019) kajian riset menunjukkan beberapa dampak positif yag dapat dicapai melalui praktik mindfulness. Brown dan Ryan (2003) mengungkapkan bahwa mindfulness memiliki hubungan yang positif dengan efek menyenangkan, efek positif, kepercayaan diri, dan rasa optimis, dan juga ada hubungan negatif dengan afek yang tidak menyenangkan seperti kecemasan, depresi, dan neurotik. Dengan menerapkan mindfulness, individu dapat meningkatkan hal-hal positif di dalam hidup, dan menurunkan hal-hal negatif sehingga dapat berdampak pada kesejahteraan dan kebahagiaan.

 

Dilansir dari Kompas.com untuk mempraktikan mindfulness ini tidak harus mengikuti kelas khusus, tetapi bisa juga untuk mempraktikannya di rumah dengan cara seperti ketika kita bangun dari tidur coba dengan memperhatikan pernapasan kita sebelum beranjak dari tempat tidur, lalu bisa juga dengan memperhatikan perubahan postur tubuh dan sadari bagaimana perasaan dan pikiran kita ketika kita berdiri dari meja atau berjalan di luar kantor/sekolah.

 

Selain itu, juga bisa dengan memperhatikan tekstur, merasakan rasa, dan mencium aroma makanan saat kita makan kemudian pikirkan dari mana makanan itu berasal dan koneksi yang sudah dibuat sebelum makannan tersebut dihidangkan lalu rasakan kenikmatannya, dan bisa juga dengan memperhatikan gerakan tubuh saat berjalan atau berdiri lalu rasakan udara lembut menerpa wajah, lengan, dan kaki saat berjalan dan lakukan hal tersebut secara perlahan.



Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya

Advertisement

“Artikel ini merupakan kiriman dari pembaca hipwee, isi artikel sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.”

Berikan Komentar

Tim Dalam Artikel Ini

Penulis

Mahasiswa jurusan Psikologi

CLOSE