Lebih dari seabad berlalu, nama “Jack the Ripper” masih bergema. Sosoknya tak pernah teridentifikasi sampai detik ini. Ia memang bukan pembunuh berantai pertama, tapi ia yang pertama membuat media dunia secara bombastis memberitakan kisahnya. Jika ada satu hal positif dari Jack the Ripper, maka itu adalah sosoknya yang mengilhami berbagai novel, film, animasi, game, bahkan karya ilmiah. Ceritanya terus disampaikan turun-temurun. Paling tidak, sampai generasi kita saat ini.

Sering juga disebut sebagai “Whitechapel Murderer”, Jack the Ripper yang berarti Jack si pencabik aktif di sekitar Whitechapel, sebuah distrik kecil di London Timur pada 1888 hingga 1891. Whitechapel sendiri merupakan distrik berpopulasi super padat akibat banyaknya imigran Yahudi, Rusia, dan Eropa Timur yang menetap di sana.

Advertisement

Seperti kebanyakan tempat dengan populasi yang sangat padat, lahirlah kesenjangan sosial. Jurang antara si kaya dan si miskin terbentang lebar. Perampokan, kekerasan, dan ketergantungan alkohol menjadi hal yang umum dijumpai. Buruknya situasi ekonomi mengantar banyak wanita untuk terjun ke dalam gelapnya dunia prostitusi. Pada akhir 1880-an, tercatat lebih dari 62 hotel plus-plus dan 1200 wanita berprofesi sebagai pekerja seks komersial dalam satu distrik. Kekacauan sosial inilah yang membuat perspektif bahwa Whitechapel merupakan sarang imoralitas di London.

Selama tiga tahun yang singkat, terjadi sebelas pembunuhan sadis. Lima diantaranya diduga dilakukan oleh Jack the Ripper. Lima korban yang dianggap masuk ke dalam kategori lima kanonis tersebut yaitu Mary Nichols, Annie Chapman, Elizabeth Stride, Catherine Eddowes, dan Mary Jane Kelly.

Peristiwa pertama yang menandai kemunculan Jack the Ripper ialah kematian Nichols. Mayatnya ditemukan pada Jumat, 31 Agustus 1888 dalam keadaan mengenaskan. Tenggorokannya disembelih, perutnya robek disertai banyak sayatan di bagian tubuh lainnya.

Advertisement

Oleh karena banyaknya penyerangan terhadap wanita pada zaman itu, polisi ragu menentukan berapa banyak korban yang dibunuh oleh pelaku yang sama. Korban-korban yang dirasa paling terkait dengan Jack the Ripper memiliki kesamaan ciri, yakni pembunuhan yang brutal, serangan bertubi-tubi yang merusak wajah, merobek tenggorokan dari kiri ke kanan, dan mutilasi organ-organ khususnya organ vital.

Pada beberapa kasus, ginjal, rahim, dan jantung korban sudah lenyap. Di kalangan pembunuh, pengambilan organ tubuh memang dianggap sebuah kesuksesan. Bagai piala yang pantas dibanggakan, hal ini menjadi kesenangan sendiri bagi sang pelaku.

Meski tidak dapat mengungkap wujud sang pelaku, polisi dapat mengira-ngira pola penyerangan yang dilakukan Jack the Ripper. Pertama, ia akan menyergap korban. Kemungkinan Jack the Ripper merupakan penduduk lokal yang sering pergi ke bar untuk minum dan menggunakan jasa wanita tuna susila karena kebanyakan korban dari pembunuhan keji ini merupakan penjajah seks yang tinggal di pinggiran timur London. Wanita peminum berat juga rentan menjadi korban. Ada kemungkinan Jack telah mengincarnya selama beberapa waktu.

Kemudian, ia akan mencekik korban hingga kesulitan bernapas dan mati. Pencekikan juga dilakukan agar korban tidak bisa berteriak, sekaligus menghindari saksi mata. Barulah setelah itu Jack mulai menjalankan aksi brutalnya, yakni menyayat dan memutilasi organ korban yang berhasil ia bunuh. Pada umumnya, cipratan darah dari leher mengalir ke samping atau bawah korban. Teknik ini menguntungkan pelaku karena membuatnya tidak terkena cipratan darah.

Apakah korban diperkosa? Ternyata tidak ditemukan secara jelas aktivitas seksual yang dilakukan dengan para korban. Jack meninggalkan korban dalam posisi yang merendahkan martabat wanita, dengan luka terbuka dan dalam kondisi telanjang. Keadaan organ vital yang hancur membuat para psikolog menduga Jack the Ripper mendapatkan kepuasan seksual dari apa yang dilakukannya, yaitu melakukan penetrasi dengan pisau.

Sebenarnya, tidak ada yang tahu pasti apakah Jack merupakan nama asli sang pembunuh atau bukan. Nama ini muncul dari surat yang ditulis seseorang misterius untuk kepolisian. Meski banyak yang meyakini surat ini ditulis asli oleh si tukang jagal, tak sedikit pula yang menganggap surat tersebut sebagai hoax yang ditulis oleh jurnalis untuk membangkitkan minat publik akan kasus ini sehingga penjualan koran juga meningkat.

Salah satu surat populer lainnya berjudul “From Hell”. Surat ini diterima George Lusk, salah satu anggota komite tim penjagaan. Datang dengan sebuah ginjal yang direndam dalam alkohol, membuat peristiwa ini semakin menyebar luas.

Tanpa mengetahui kebenaran sesungguhnya, orang hanya bisa berasumsi. Ada lebih dari ratusan hipotesis mengenai sosok tersangka yang sebenarnya. Pola mutilasi yang cukup rapi membuat banyak orang berpikir jika Jack berprofesi sebagai ahli jagal atau dokter bedah. Pembunuhan yang terjadi menjelang akhir pekan mengantar publik pada opini bahwa pelakunya pekerja setempat.

Selain itu, muncul juga pendapat bahwa pelaku merupakan kaum terdidik kelas atas ataupun bangsawan, yang ingin menunjukkan superioritasnya terhadap kaum miskin. Kebanyakan psikolog meyakini jika pelakunya adalah sosok penyendiri, sederhana, hobi minum dan menggunakan jasa pekerja seks komersial, serta memiliki kelainan seksual. Apapun itu, aksi yang dilakukan oleh pelaku sangatlah kejam.

Lantas, bagaimana dengan proses penyelidikan? Meski telah dikerahkan awak kepolisian dalam jumlah besar, hasilnya nihil. Penyelidikan dilakukan dari rumah ke rumah, berbagai bukti forensik dikumpulkan, dan lebih dari 300 orang terduga diinvestigasi. Celah kasus ini tertutup begitu saja meninggalkan misteri di dalamnya. Para terduga yang hidup pada masa itu pun kini semuanya telah tiada, sehingga tidak ada alasan lebih lanjut yang mengarahkan polisi untuk terus menjalankan penyelidikan.

Jika Sherlock Holmes nyata, mungkin potongan puzzle ini dengan mudah dapat diselesaikan. Ia menyisakan misteri bagi siapapun, kecuali Sang Ilahi tentunya. Akan tetapi, misteri menjadi menarik karena kemisteriannya. Pada 2006, majalah BBC dan masyarakat Inggris menetapkan “Jack the Ripper” sebagai tokoh Britania terburuk dalam sejarah.

Merasa keberadaannya layak untuk dikenang, Madamme Tussauds London berusaha untuk mengabadikannya dalam bentuk bayangan. Tidak ada patung lilin yang ditampilkan di ruang horor museum lilin terbesar di dunia itu, dikarenakan kebijakan yang tidak mengizinkan sosok yang tidak diketahui rupanya untuk ditampilkan.

Mengaku tertarik pada kisah pembunuh berantai dan serial detektif? Whitechapel layak dimasukkan ke dalam destinasi impian kamu nih! Ada banyak tur yang membawa kamu menjelajahi waktu dan menyusuri langsung lokasi asli kisah “Jack the Ripper”. Hanya dengan kurang lebih 250.000 rupiah, rasakan sensasi berkeliling bersama polisi dan penduduk era Victoria di malam hari. Pastikan kamu memesan tiketnya secara online ya agar tidak kehabisan, mengingat banyak orang dari berbagai penjuru dunia yang ingin mencobanya. Selamat memecahkan kasus, wahai detektif!

#AyoKeUK #WTGB #OMGB

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya