Mengenang Pak Raden

Saya beruntung sempat menjadi generasi yang menyaksikan karier gemilang Pak Raden dari serial televisi. Waktu itu, serial 'Si Unyil' selalu menjadi tontonan favorit saya sepulang sekolah. Sampai saat unyil menjadi modern dengan membawa serial 'Laptop Si Unyil', beberapa kali juga saya sempatkan untuk menontonnya meskipun saat itu, Unyil tetap pada usianya sedangkan saya beranjak dewasa.

Advertisement

Sekarang, cerita Unyil, Pak Raden, dan kawan-kawan tidak bisa lagi dinikmati anak saya. Memang, anak saya masih terlalu belia untuk menonton dan mengerti. Akan tetapi, menyajikan tontonan seperti seri Si Unyil lebih baik daripada sinetron masa kini, menurut saya. Apakah tidak ada lagi generasi Indonesia yang mau membuat serial berkualitas seperti yang Pak Raden buat? Sejauh ini , saya belum menemukannya.

Sementara itu, untuk mengobati kerinduan saya akan karya-karya buatan Pak Raden yang memiliki nama asli Suyadi, saya masih sering menonton serialnya di youtube. Saya juga mengenalkan sosok pria berkumis tebal favorit saya itu kepada anak saya melalui media itu.

Pada awal tahun 2017, anak saya genap berusia 5 tahun. Saat itu saya berpikir untuk memberikan hadiah yang bagus dan bermanfaat seperti sebuah buku, misalnya. Dia sudah mengenal huruf dan suka sekali buku dengan ilustrasi gambar.

Advertisement

Pada saat itu, secara tidak sengaja saya menemukan ada pre-order buku dengan gambar yang di ilustrasikan oleh Suryadi alias Pak Raden. Saya betul-betul senang! Saya tidak menyangka, setelah dua tahun kepergiannya di dunia, Pak Raden masih meninggalkan bekas yang bermanfaat seperti buku itu!

Dengan segera, saya memesan buku tersebut, judulnya Seribu Kucing untuk Kakek dan Pedagang Peci Kecurian. Keduanya adalah buku anak yang keseluruhan cerita dan ilustrasinya dibuat oleh Pak Raden. Buku itu diterbitkan oleh Noura Books sebagai peninggalan terakhir dari beliau.

Advertisement

Review Singkat Buku Seribu Kucing untuk Kakek

Kalau orang luar punya Hans Cristian Andersen sebagai pendongeng andal, Indonesia patut berbangga karena punya Pak Raden! Tulisannya yang klasik sangat khas memperlihatkan kisah sehari-hari yang sarat makna. Setiap kita bisa mengambil hikmah dari cerita berlatar kehidupan sehari-hari yang sederhana.

Dalam buku Seribu Kucing untuk Kakek, saya seperti diajak untuk terharu dan senang di waktu yang bersamaan. Ketika saya bacakan ceritanya kepada Danu, anak saya, ia langsung berteriak gembira “aku mau kucing! Aku mau ke rumah kakek!” saat cerita sampai pada bagian kompetisi makan yang berhadiah anak kucing lucu — spoiler sedikit, sisanya baca di bukunya, ya!

Saya sendiri sebagai pembaca dewasa yang sudah melewati masa-masa ceria seperti Danu pun turut merasakan kesenangan dari cerita tersebut. Sederhana dan sarat makna. Dua frasa itu yang sekiranya menggambarkan tulisan Pak Raden. Sekaligus, saya juga merasa seperti bernostalgia membaca buku-bukunya. Saya seperti sepantar lagi dengan anak saya dan, ya, rasanya jadi ingin bertemu kakek dan meminta satu kucingnya! Haha

Oh iya, bagi bunda yang mau beli bukunya juga, ada kok di toko buku online mizanstore. Waktu itu saya pesan langsung ketika ada promo PO di websitenya. Saya sangat puas karena proses pemesanannya mudah dan bukunya sampai tepat waktu seusai PO ditutup. Sebagai tambahan hadiah atas pemesanan buku tersebut, saya mendapatkan satu buah kaus dengan ilustrasi spesial yang dibuat Pak Raden dan itu menjadi baju favorit, Danu, anak saya.

Danu kini menjadi penggemar Pak Raden, seperti saya. Kami berdua sangat berbangga bahwa Indonesia masih memiliki sosok pendongeng yang patut dibanggakan. Terima kasih, Pak Raden, untuk semua dongeng terbaiknya!

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya

Advertisement

“Artikel ini merupakan kiriman dari pembaca hipwee, isi artikel sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.”

Berikan Komentar

Tim Dalam Artikel Ini

Penulis

CLOSE