Bulan Ramadan yang telah ditunggu-tunggu akhirnya telah tiba. Bulan yang penuh berkah dan kemuliaan. Ramadan dan kewajiban berpuasa di dalamnya, tidak diragukan lagi hikmahnya bagi umat manusia. Ramadan adalah keseimbangan hidup yang dapat menimbulkan ketenangan, ketenteraman dan kebahagiaan lewat suatu kebersamaan yang indah. Ramadan juga selalu menghadirkan suasana keceriaan pada umat Islam di seluruh dunia ini. Banyak orang dengan sukacita sudah mulai menyambut datangnya bulan suci ini. Mulai dari iklan sirup yang sudah mulai tayang sampai penjajan takjil yang sudah mulai menyiapkan lapak jualannya disepanjang pinggir jalan raya yang biasanya menyebabkan kemacetan di sore hari.

Kebiasaan yang dilakukan pada saat bulan Ramadan pada umumnya seperti mulai dari sholat tarawih berjamaah di masjid bersama keluarga, tadarusan bersama di masjid, terbangun ketika sahur karena mendengar ronda keliling kampung yang bertugas membangunkan warga yang dilakukan oleh pemuda-pemuda kampung, sahur bersama keluarga dengan masakan khas ‘ibu’, ibadah shubuh berjamaah di masjid, Jalan-jalan pagi bersama keluarga dan teman-teman kampung, ngabuburit bersama dengan keluarga ataupun teman di jalan utama atau mengelilingi kampung, dan buka puasa bersama dengan senyum bahagia mewarnai setiap anggota keluarga atau bahkan kadang-kadang ta’jil bersama di masjid. Biasanya momen yang paling berkesan dan istimewa pada saat bulan Ramadan adalah ketika kita bisa melewatkan semua itu bersama dengan keluarga dikampung halaman.

Advertisement

Namun hal tersebut dirasakan berbeda oleh setiap anak rantau karena harus memenuhi tuntutannya seperti mengejar karier atau sedang menempuh Pendidikan. Setiap anak rantau selalu punya keinginan menghabiskan Ramadan di kampung halaman tercinta. Tapi ketika kita akhirnya merantau jauh dan melewatkan bulan puasa di tanah rantau seorang diri, pasti ada rasa rindu dan sedih yang begitu dalam yang dirasa. Melewatkan bulan Ramadan di tanah rantau memang punya suka dukanya sendiri. Namun, selalu ada hal-hal kecil yang sebenarnya sangat istimewa untuk disyukuri.

Jauh dari rumah itu membuat kita lebih menghargai apa artinya kebersamaan seperti halnya makan sahur sendiri. Waktu berbuka pun sendirian di kamar kost. Jauh dari rumah seperti ini membuat kita bisa lebih menghargai kebersamaan. Kita baru menyadari bahwa kebersamaan yang dulu mungkin kita anggap biasa ternyata mempunyai rasa dan kenangan yang berharga. Kita jadi lebih banyak bersyukur atas semua yang pernah kita miliki.

Lebih mandiri meski awalnya karena terdesak. Kalau dulu mungkin makan sahur dan menu berbuka sudah disiapkan oleh ibu di rumah, kini di tanah rantau kita harus menyiapkannya sendiri. Awalnya mungkin agak sulit tetapi karena terdesak akhirnya kita harus berusaha melakukannya sebaik mungkin. Dan tanpa kita sadari kita jadi lebih mandiri dengan melakukannya.

Advertisement

Menemukan banyak saudara baru di perantauan yaitu meski jauh dari sanak keluarga, kita tetap bisa menemukan saudara baru di tanah rantau. Bahkan momen sahur, berbuka, dan salat tarawih jadi lebih berwarna karena kita bisa melewatkannya bersama saudara-saudara baru kita di tanah rantau yaitu dengan teman-teman seperkuliahan ataupun teman yang berada di kos. Apalagi kalau sudah bertemu dengan teman yang sama-sama jadi anak rantau seperti kita atau bahkan ternyata merantau dari kota yang sama, perasaan senasib justru akan makin merekatkan kedekatan kita. Kita bisa saling mengenal satu sama lain diantara anak rantau dari berbagai kota mulai dari Aceh sampai Papua.

Belajar banyak tentang mensyukuri rezeki seperti halnya yang dulu pada saat kita masih tinggal dengan orang tua, menu untuk makan sahur dan berbuka bisa sangat bervariasi dan melimpah beraneka ragam. Kini saat merantau sendiri, bisa makan selain mi instan dan telur saja rasanya sudah luar biasa. Dari sini, kita menjadi belajar banyak soal rezeki. Mensyukuri yang sedikit menjadi cara kita untuk belajar menjadi seorang pribadi yang lebih dewasa. Rezeki pun bukan lagi soal banyak dan sedikit tetapi keberkahan yang bisa kita dapat darinya.

Mempunyai rasa tanggung jawab lebih dalam beribadah karena pada saat di tanah rantau, kita yang bertanggung jawab penuh atas diri sendiri. Mau beribadah atau tidak, itu juga jadi tanggung jawabmu sendiri. Mungkin tidak ada yang akan memarahi atau mengomeli kita saat kita tidak shalat tarawih misalnya. Tetapi kualitas ibadah kita bisa menjadi semakin membaik pada saat di tanah rantau. Karena kita sadar bahwasanya hal tersebut menjadikan kita merasa punya tanggung jawab pribadi untuk ibadah sendiri. Dan di sini rasa kesadaran dari diri kita sendiri dengan niat sedang diuji.

Berada jauh dari keluarga saat bulan Ramadan mungkin membuat kita sering merindukan keluarga. Meski begitu, selalu ada hal-hal sederhana yang bisa tetap kita syukuri dan menjadikan bulan suci ini lebih istimewa.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya