Masa-masa remaja adalah masa dimana semua dilakukan itu terasa sulit, apalagi harus mendengar wejangan dari berbagai pihak mengenai sesuatu yang menurutnya benar. Tentu saja itu menguras waktuku yang seharusnya aku habiskan untuk berpenasaran ria dalam duniaku sendiri.

Salah satu yang hingga sekarang masih berada dalam ingatanku adalah ketika seorang motivator membuat acara televisi dan aku dengan tidak sengajanya menonton acara tersebut, di salah satu sesi terdengar sebuah ucapan yang berbunyi “Menerima diri sendiri adalah awal dari kebahagiaan kita”. Pernyataan yang sepertinya ranum di pikiran kita ini, ternyata mengantarkan hasil yang membuat seorang remaja seperti ku dulu memikirkan segala hal yang sebenarnya tidak tersampaikan oleh sang motivator tersebut. Ya memang tidak sepenuhnya tersampaikan. Kita yang mendengarkannya mungkin mengerti apa yang dimaksud olehnya, namun sebenarnya kita tidak sepenuhnya mengerti tujuannya. Apalagi aku yang masih remaja kala itu, yang masih selalu sibuk mencari kebenaran yang hakiki.

Advertisement

Aku tidak akan berbicara mengenai masa remaja yang pernah aku alami, karena itu akan memakan waktu yang benar-benar panjang untuk menceritakannya, apalagi masa yang sangat labil, pasti semua orang bingung untuk mencernanya. Sebenarnya, aku adalah orang yang paling membenci diri sendiri karena beberapa hal yang membuatku tidak percaya diri terhadapnya. Contoh paling terbesar yang membuatku tidak percaya diri adalah talenta yang Tuhan berikan. Aku terkadang merasa aneh sendiri karena tidak punya keahlian apapun, terkadang merasa seperti orang yang paling berbeda dimanapun aku berada. Karena masih mempunyai sifat labil, aku selalu berusaha agar menjadi seperti mereka, jika tidak maka bully-an itu akan segera aku dapatkan.

Waktu terus berjalan, proses demi proses aku jalani dan terima dengan baik, pendewasaan diri juga mulai dirasakan dari lingkungan yang aku terima dalam proses tersebut. Aku mulai melihat beberapa teman yang sering menjatuhkan bully-an kepada teman-temannya begitu bahagia, setiap orang yang sedikit saja memiliki kekurangan pasti menjadi bahan untuk mereka mencapai kebahagiaannya. Aku hanya memerhatikan kebahagiaan mereka, ya hanya memerhatikan.

Proses yang aku jalani menuju pendewasaan diri menjadi begitu indah, Aku menjadi orang yang melihat sisi dari setiap kejadian. Jika tidak menghargai sebuah proses yang terjadi kala itu, mungkin aku sudah ikut membahagiakan diri dengan membully orang yang mempunyai kekurangan. Tapi aku sadar, dulu juga aku berada pada tingkatan mereka. Peralihan pemikiran ini yang membuat aku semakin yakin bahwa tidak ada orang yang akan bahagia dengan kebahagiaan yang hakiki dengan menjelekkan atau menjatuhkan orang lain.

Advertisement

Setelah kejadian tersebut aku mulai menjauhkan diri dari semua orang, menutup kepala dengan sangat erat agar tak mudah lagi terpengaruh akan sebuah kebahagiaan yang begitu semu, kebahagiaan yang dibuat dengan menyakiti orang lain, kebahagiaan yang dibuat dengan menjatuhkan orang lain.

Aku mulai menikmati proses dengan kesendirian yang begitu sendiri, semuanya kulampiaskan melalui kertas yang ada, mulai kutuliskan kenangan yang membuatku kesal. Lama bersendiri pun membuat beban semakin bertambah dan begitu mendalam. Karena kebahagiaan yang kudapatkan sekarang itu adalah karena luka dimasa lalu. Sebenarnya aku bisa mendapatkan kebahagiaan tanpa harus menyabotase kesempatan berbahagia atas masa lalu, yaitu dengan berproses.

Sekarang waktunya aku untuk belajar untuk tidak lagi menyabotase kekurangan, melainkan belajar untuk mengampuni diri dan belajar untuk selalu berproses.

Semua talenta yang kupunya sekarang, kutemukan karena berproses dengan tidak menyabotase kekurangan, karena dalam hal sabotase itu adalah kekejaman. Aku mulai menyadari bahwa menghargai proses itu adalah penting dan sebuah hal yang luar biasa yang kutemukan kembali untuk menjalani hidup.

Aku kini mulai belajar untuk menghargai diri sendiri. Fakta yang kudapatkan dari beberapa orang adalah tidak akan ada orang yang bisa mencintai diri sendiri sebaik kita mencintai diri kita sendiri. Mulai paham dengan kalimat itu aku mulai merenungkan kembali dan berubah menjadi orang yang senantiasa menyayangi diri dengan berproses-proses ria.

Ternyata talenta yang dulu aku punya bukan untuk tidak dipercayai, tapi Tuhan memberikan-ku jalan untuk lebih jauh mengenal diri dan menyayangi diri sendiri.

Hal yang paling penting dari diri sendiri adalah sifat yang menjadikan diri kita, menerima diri sendiri dengan apa adanya dan bukan menurut standar dari orang lain. Tidak ada satupun keinginan lagi ingin menjadi orang yang paling ingin dipandang, menjadi orang yang kaya, dan menjadi orang yang selalu dihormati. Itu semua sirna, kini aku ya aku bukan dia.

Jadi, dari pada mengeluh dan marah-marah tentang kekurangan, lebih baik berproses menuju diri yang lebih baik hingga nafas terakhir, menjalani hidup sesuai dengan ketetapan yang sudah ada, dan satu lagi. Jangan pernah menyabotasenya.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya