Dulu ketika itu saya sangat suka dengan filosofi lilin. Sebatang lilin yang menyala dengan api terangnya dan menjadi pelita disaat gelap. Indah bukan? Engkau bagaikan pahlawan, sinarmu membuat sekitar terlihat, sinarmu membuat hangat lingkunganmu, sinarmu menerangi berbagai sudut ruangan.

Namun, perlahan waktu berlalu, lilin yang kokoh itu mulai berkurang tingginya, padatan tubuhnya mencair jatuh. Akhirnya, sang lilin kehambisan sumbunya untuk menjaga apinya tetap hidup, api itu pun padam. Filosofi lilin adalah engkau menjadi penerang bagi sekitarmu dengan mengorbankan dirimu. Heroik.

Advertisement

Namun sekarang, entah karena berbagai pengalaman yang telah saya telah lewati, saya rasa filosofi lilin tak selamanya benar benar baik. Manusia tak bisa hanya diumpakan dengan lilin saja dan kehidupan tidak sesimpel jalan hidup lilin. Boleh memang jika kita bicara menjadi bermanfaat dengan sinar kita untuk sekitar, namun apakah dengan mengorbankan diri sendiri itu juga termasuk hal yang baik?

Hidup tidak sesederhana itu. Satu hal yang pasti kesamaan yang pasti antara lilin dan manusia adalah ketidakabdiaan. Ya , cepat atau lambat sumbu kita akan habis dan akhirnya api akan padam.


Atau mungkin lebih pedih lagi adalah untuk dimatikan ketika lampu kembali terang. Sesakit itu bagi mereka yang berjuang dan diabaikan.


Advertisement

Lantas, apakah saya mempunyai prinsip lain? Tak jauh beda sebenarnya, namun filosofi lilin tetaplah filosofi yang bisa kita terapkan. Menjadi manusia bermanfaat adalah suatu yang begitu mulia. Manusia yang paling bermanfaat adalah sebaik baiknya manusia, tidak diragukan lagi. Namun karena waktu kita terbatas, suatu saat tubuh kita tak akan kuat lagi, perlahan api itu akan mengecil seiring detik jam berlalu. Karena itu, bukan menjadi penerang lalu perlahan padam, tapi kita bisa memberi api itu kepada lilin lain. Bukan kah ada yang bisa diberikan sebelum padam? Api.

Entah dalam kehidupan kita api itu adalah nasehat maupun ilmu, yang terpenting adalah niat untuk saling memberi cahaya penerang bagi mereka, bagi lilin yang akan menyinari sekitarnya kelak. Satu lilin akan padam perlahan dan terangnya akan sementara saja, namun ketika api itu sudah dibagikan kepada lilin lain, seisi ruangan, bahkan seisi rumah dapat diterangi.

Waktu yang Tuhan berikan tidaklah selamanya, pada akhirnya kita juga akan padam apinya. Tapi api dapat menyebar dan tetap akan menerangi jika kita memberikannya, bahkan api kita pun tak akan habis, justru apinya semakin banyak. Meski lilin itu sudah padam, namun api itu akan terus menjadi penerang.

Kemudian filosofi dan perumpamaan lainnya tentang peran manusia kembali bermunculan. Bagai ini lah, itu lah, seperti ini seperti itu dan perumpamaan lainnya. Seolah berlomba lomba untuk menafsirkan manusia yang bernyawa dengan berbagai benda mati di dunia. Kenyataanya, manusia tak sesederhana itu. Mungkin iya, beberapa sifat dapat disamakan dengan sifat lainnya pada suatu perumpamaan, tetapi tidak keseluruhan.

Manusia begitu rumit, kompleks dengan segala karsa yang dimilikinya. Menjadikan dan menilai serta menganggap keseluruhan hidup manusia bagai satu benda bukanlah hal yang bijaksana. Karena satu hal yang tak pernah bisa dimiliki oleh benda ataupun makhluk lainnya di dunia dan hanya dimiliki manusia adalah akal. Kau mau menjadi lilin dan mati kemudian atau menjadi payung lalu ditinggalkan dipojokan juga terserah.


Tapi manusia bukan hanya soal itu. Bukan untuk berdiam pada satu peran yang merugikan atau dianggap benda tak bernyawa tak berperasaan.


Lilin, sepatu, korek api, payung pohon, rumput laut atau apapun organisme dan benda di dunia ini yang ingin kau jadikan dan ambil pelajarannya sebagai dasar hidup adalah kehendakmu sendiri. Terserah saja kau mau menjadi seperti apa, sifatmu mirip apa dan bagaimana. Satu hal yang penting dan jangan dilupakan, kau tetaplah manusia. Kamu jauh lebih berharga.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya