sekali lagi tanah itu memikatku dengan pesonanya, mengajak diri meraih asa diatasnya, bersama semilir angin yang berhembus dan menentramkan jiwa, menguatkan hati dan tekad untuk mewujudkan setiap mimpi dan cita-cita

Hembusan angin dan rintik hujan pagi itu mengawali khayal ku akan hangatnya udara musim semi di negara tempat Ratu Elizabeth bertakhta. Hari itu ku putuskan menghabiskan satu hari ku untuk menjelajah dan berselancar hanya untuk membayarkan rindu ku pada ibu kota negara yang terkenal dengan filmnya yang berjudul Harry Potter. Ya, nama kota itu adalah London. Kota dengan bangunan-bangunan bergaya arsitektur klasik modern yang tak pernah membuat bosan wisatawan dari segala penjuru dunia untuk mengeksplor keindahannya. Kota dengan berbagai macam bangunan bersejarah yang sampai saat ini masih terjaga kokoh ditengah gedung-gedung modern yang mulai memenuhi cakrawala.

Aku selalu ingin menjejakkan kakiku di Queen's Walk, jalan setapak di sepanjang tepian Sungai Thames, sungai yang menjadi awal peradaban rakyat Inggris. Ingin sejenak duduk di bangku-bangku di tepiannya dan menikmati bangunan landmark Kota London seperti Big Ben, London Bridge, Westminster Pallace, London Eye, Southbank Centre, dan bangunan lain di sekitarnya. Apalagi menghabiskan senja disana, bersama romantisnya semilir angin dari dedaunan yang rindang serta teduhnya remang-remang cahaya dari tiang lampu klasik yang melengkapi indahnya panorama bak sedang berada di negeri dongeng Cinderella. Atau hanya sekedar duduk-duduk sambil membaca buku tentang sejarah peradaban di negeri dengan sejuta keistimewaannya. Setidaknya itu bagiku.

Advertisement

Aku masih terkagum akan kota itu, dengan banyaknya jumlah penduduk tak pernah membuat kota ini terlihat semrawut, sumpek, dan padat. Keteraturan penduduknya dalam berbagai macam bidang membuat kota sibuk itu tetap terlihat rapi, bersih, nyaman dan enak untuk dipandang. Lalu lalang setiap manusia di dalamnya terkadang membentuk polanya tersendiri. Indah, mencerminkan penghargaan yang besar terhadap slogan time is money. Semua serba teratur, semua serba modern, tapi tidak pernah meninggalkan kekentalan sejarah dan budaya yang dimilikinya.

Aku masih terpaku dengan negeri ini, ku temukan hangat indahnya senyuman dari para pedagang di pasar Car Boot, pasar yang menjual barang-barang bekas dengan harga yang pas di kantong mahasiswa, pasar yang bagiku jauh dari kata mewah tapi tetap nyaman untuk sekedar berjalan-jalan, pasar yang menawarkan canda tawa dan interaksi orang-orang di dalamnya. Hangat, setidaknya disana dapat sejenak ku bernostalgia serta ku lepas rindu pada tanah air tercinta. Memang bagiku tak ada yang lebih ramah dari orang Indonesia. Tapi setidaknya di pasar ini dapat aku jumpai senyum-senyum hangat dan tegur sapa masyarakat lokal dengan logat British yang khas dan kental.


Dengan sapaan “darling” dari para penjual tua yang semakin memikat hati untuk sekedar mampir melihat-lihat jualannya. Ada kearifan lokal tersendiri yang dapat dirasakan disana.


Advertisement

Selanjutnya ingin ku langkahkan kaki pada Trafalgar Square, karena bagiku liburan mewah tak harus mahal. Dengan membawa makanan seadanya dan berpiknik disana rasanya sudah cukup untuk bersantai dan berwisata, apalagi untuk kalangan mahasiswa. Tempat nongkrong paling populer di Inggris ini menyediakan panorama yang klasik dan menawan, akses yang mudah ke tempat ini juga menjadi daya tarik bagi para backpacker untuk sejenak singgah dan menikmati canda tawa penduduk lokal maupun mancanegara. Terlihat keharmonisan yang mampu membuat pandangan mata terpana. Sungguh indah jika hidup ini saling berdampingan tanpa membeda-bedakan etnik, ras, maupun agama.

Kemudian ingin kuhabiskan siang ku sambil bercengkrama dengan burung pelikan yang bertebaran di St. James’ Park London, taman wisata yang berlokasi tepat di sebelah Buckingham Pallace. Ingin ku menebar makanan untuk burung-burung itu pada jam 2 siang, yang menurut sumber ku baca telah menjadi rutinitas disini sejak burung itu dihadiahi oleh Duta Besar Rusia pada tahun 1664.


Dan senjaku akan berlabuh pada sebuah kincir raksasa yang menjadi salah satu ikon Britania di era moden ini. Millenium wheel atau lebih dikenal dengan sebutan London eye, dengan ketinggian 135 meter menjadikan ia seperti roda pengamatan terbesar di dunia.


Bianglala modern yang berdiri kokoh di atas sungai Thames itu menyajikan pemandangan yang indah diatasnya, menikmati panorama seluruh isi kota london dengan latar belakang senja yang menawan menjadi detik-detik indah yang selalu dinantikan para pengunjung disana. Kemudian melihat gemerlap kehidupan modern yang terpancar dari lampu-lampu kota yang mulai menyala.

Kemudian ku tutup perjalanan ku dengan menyelisir setiap sudut jalanan di dalam kota, dengan latar suasana dan alunan musik jalanan menjadi irama yang mendamaikan jiwa. Senyum lembut dari musisi jalanan yang bagiku tak kalah dengan grup band dan musisi ternama disana. Dan kuakhiri dengan lantunan hamdalah, atas karunia Tuhan yang telah menghendaki kaki ini melangkah di tanah impian sejuta manusia di dunia. Kemudian kutuliskan lengkap kisah satu hariku disana, tentang hal sederhana dibalik modernitas para penduduknya. Bersama secangkir kopi dan secuil kisah itu pun akan kusulap menjadi lukisan indah serta simfoni merdu yang akan selalu membekas dalam jiwa dan menciptakan harmoni tersendiri bagi penikmatnya.

Bagiku, kutemukan indah dalam hal yang sederhana, dan merasakannya tak butuh waktu yang lama. Cukup sehari, saat kaki ini menjejak di tanah Britania.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya