Oleh Rojwa Legiana Rachmiadi

Pada bulan November 2016 lalu, hawa dingin menyambut kedatangan kami di Cappadocia, Turki sekitar pukul lima pagi. Kami berlomba dengan waktu, menaiki balon udara setinggi 100-1500 kaki di atas permukaan untuk melihat terbitnya matahari dari ufuk timur, juga pemandangan yang menakjubkan sekitar kota yang dihiasi dengan bukit dan lembah. Balon udara lain pun ikut berterbangan menyambut kedatangan mentari.

Advertisement

Galeri Karpet Buatan Tangan

Setelah turun dari balon udara, kami menempuh perjalanan dengan bis kurang lebih 10 km ke galeri karpet buatan tangan. Saya melihat sejumlah wanita yang sedang merajut, satu per satu ia lilitkan sebuah helai benang dengan yang lain. Turki memang tercatat sebagai salah satu negara pertama yang menggunakan metode merajut karpet diantara abad ke 1 dan 4 sebelum Masehi.

Bahkan, seorang wanita yang mahir merajut karpet akan memiliki peluang lebih besar untuk dinikahi karena ia bisa menawarkan karpet tersebut sebagai mas kawin untuk calon suaminya. Harga satu karpet kecil saja tak murah, harganya berkisar dari satu juta rupiah hingga ratusan juta. Mereka tidak dibayar per jam, melainkan dengan kualitas; seperti kerumitan desain, bahan, dan ikatan per sentimeter per segi. Namun, kesenjangan gender masih berwujud; penenun pria tidak diterima dalam budaya Turki.[1]

Advertisement

Kota Bawah Tanah Derinkuyu

Berikutnya, Cappadocia juga dikenal dengan geologi batu yang mudah untuk dipahat namun tetap stabil, dan bangunan-bangunan yang terbuat asli dari pahatan batu saja seringkali ditemukan di mana saja. Mulai dari perumahan tradisional di perkampungan, hingga hotel bintang lima untuk para turis. Pemandu tur mengatakan bahwa bagi yang mengidap penyakit jantung, kejang-kejang, atau klaustrofobia tidak dianjurkan untuk mengikuti kegiatan setelah ini.

Selepas turun dari bis, dengan harga Rp150,000,00- per orang, kami memasuki sebuah museum dengan pintu yang menyatu dengan sebuah kota bawah tanah (Derinkuyu Underground City). Faktanya, kota ini tidak sengaja ditemukan oleh sebuah keluarga lokal di tahun 1963 saat merenovasi rumahnya dan menemukan jalan menuju ruangan misterius.

Hingga saat ini, tidak ada yang tahu persis kapan kota tersebut dibuat. Sulit sekali untuk mengusut tenggang waktu pembangunan karena minimnya dokumentasi, dan penduduk yang dahulu tinggal antara sudah lama menghilang atau pindah.[2] Namun, beberapa ahli berpendapat bahwa kota ini dibuat oleh penduduk Persia di tahun 1500-1200 sebelum Masehi.[3] Kota yang berkedalaman sebelas lantai ini dilengkapi dengan 600 pintu masuk yang dapat menampung ribuan orang, juga terowongan panjang yang terhubung dengan kota bawah tanah lain. Jika sebuah wilayah sedang ada dalam situasi genting, mereka akan bersembunyi dan menyiapkan jebakan-jebakan seperti mendorong batu untuk menutup sebuah ruangan, dan menjatuhkan tombak melalui lubang yang terletak di atas kepala.[4]

Kami diwajibkan untuk mengikuti pemandu tur dan berjalan bersama rombongan, karena satu langkah yang salah saja bisa berakibat fatal. Selama berjalan menuju gang sempit dan menunduk melalui berbagai macam lubang, pemandu seringkali mengatakan bahwa tempat yang kami lewati dahulu merupakan sebuah makam, dapur, ruang tidur, sumur, ataupun kamar mandi.

Masjid Biru Sultan Ahmed I

Keesokan harinya, rombongan kami berjelajah menuju Istanbul dengan kapal feri, melihat perbatasan antara dua benua. Di sisi kanan, saya melihat sisi Asia dari Istanbul yang lebih ramai, sibuk, dan padat. Sedangkan di sisi Eropa, terlihat sebuah masjid besar dan arsitektur-arsitektur berupa peninggalan sejarah yang masih dipertahankan. Meskipun sebuah masjid adalah tempat untuk beribadah, masjid ini telah menjadi tempat wisata juga dengan harga Rp.150,000,- per orang. Kami pun turun menggunakan bus menuju Masjid Sultan Ahmed I yang dikenal dengan julukan “Masjid Biru”.

Setelah kekalahan perang pada tahun 1603-1618 dengan Persia, Sultan Ahmed I memutuskan untuk membangun sebuah masjid besar untuk mempertegas kembali kekaisaran Ottoman.[5] Masjid ini selesai dibangun pada tahun 1617, sesaat sebelum kematian Sultan Ahmed I pada usianya yang ke-27. Julukan “Masjid Biru” ini diambil dari 20,000 keramik buatan tangan yang kemudian dilukis biru menyala, hijau, dan biru kehijauan, dengan motif pohon cemara, tulip, dan mawar yang menyimbolkan surga.

Sultan Ahmed I sengaja meminta hiasan keramik mewah agar dapat memantulkan cahaya alami dari sekitar 200 jendela yang menembus kedalam.[6] Seiring dengan berjalannya waktu, harga keramik semakin meningkat. Hal ini menyebabkan penurunan kualitas keramik yang dibeli secara bertahap terlihat pada warna-warna keramik yang memudar.[7] Sebenarnya, saya tidak setuju dengan masjid yang dijadikan sebagai tempat wisata umum, karena telah menyimpang dari tujuan sebenarnya. Sehingga, terdapat lebih banyak orang yang berfoto dan bersenda gurau dibandingkan dengan yang beribadah.

Hagia Sophia

Tepat di seberang Masjid Biru, dengan tiket masuk yang berkisar Rp.150.000, kami pun jalan kaki menuju Hagia Sophia. Hagia Sophia adalah sebuah museum yang dahulu merupakan gereja yang berubah menjadi masjid. Bangunan ini pertama kali dibuat oleh Kaisar Konstantios di tahun 360 sebagai sebuah gereja, namun terbakar setelah terjadinya kerusuhan publik di tahun 404 akibat perselisihan pendapat antara istri dari Kaisar Arkadios dan Apatriarch Ionnes Chrysostomos. Selama bertahun-tahun bangunan ini kembali dibangun, namun tandas akibat kerusuhan publik.

Setelah konstruksi ulang yang terbaru, gereja ini kembali dibuka sebagai tempat dimana berlangsungnya seremoni para Kaisar. Selama terjadinya Perang Salib di tahun 1204-1261, Istanbul mulai diduduki oleh orang-orang Latin. Penaklukan Fatih Sultan Mehmed di tahun 1453 menghasilkan renovasi Hagia Sophia menjadi sebuah masjid sebagai simbol kekuasaan. Strukturnya telah diperkuat dan terlindungi dengan baik, hingga dibangunnya empat tiang tambahan akibat kerusakan yang dialami setelah gempa, dan juga sebagai simbol religi.[8]

Sejak Hagia Sophia menjadi sebuah masjid, tempat ini menjadi pusat tarik tambang antara kelompok agama, politik, dan budaya. Sehingga, mosaik-mosaik yang berbau gereja dirusak dan ditutupi sedemikian rupa. Saat diresmikan menjadi museum oleh Mustafa Kemal Ataturk di tahun 1935, sebagai kampanye untuk mensekulerkan Turki,[9] berbagai potongan-potongan sejarah tidak bisa dihidupkan kembali tanpa menghancurkan yang lain.[10] Kini, hiasan lilin dari gereja dan kaligrafi Muhammad ﷺ di Hagia Sophia telah menjadi sebuah simbol dari bangunan bersejarah perpaduan antara dua agama, Kristen dan Islam.

Menurut saya, Hagia Sophia ini menjadi sebuah bangunan yang merefleksikan Turki sebagai sebuah negara. Saat pertama kali tiba di Turki, saya mengira bahwa akan ada banyak orang yang mengenakan hijab seperti di negara Islam lainnya. Namun pada kenyataannya, Turki adalah negara sekuler. Pemandu tur juga menyatakan bahwa akan ada orang-orang yang menggunakan pakaian terbuka atau memiliki tato meski agamanya Islam, yang sebenarnya cukup mirip dengan keadaan Indonesia saat ini.

Grand Bazaar

Keesokan harinya, perjalanan pun diakhiri dengan mencoba kebab autentik seharga Rp.50,000,- di Grand Bazaar, pusat perbelanjaan tertua di dunia. Saat menginjak langkah pertama ke dalam pasar tersebut, banyak penjual saling menyaut “Murah, murah” dan seringkali menanyakan, “Indonesia or Malaysia?”. Ternyata, orang-orang Turki sudah mengenali penduduk Indonesia sebagai orang-orang yang senang belanja.

Pedagang-pedagang Turki pun tak takut untuk bersaing dengan yang lain. Semua orang saling menawarkan harga yang lebih murah, dan tidak akan berhenti hingga kami membeli sesuatu. Grand Bazaar ini sudah berdiri sejak tahun 1461 dengan dinding tua sejak abad ke-15, dilengkapi dengan 60 jalan yang berbeda dan lebih dari 4,000 toko.[11] Setiap jenis kain berharga, perhiasan, perabotan rumah tangga, dan barang antik dari yang murah hingga yang mahal, tersedia dijual oleh bisnis keluarga lokal yang turun temurun.

Sumber

[1] http://www.turkishculture.org/tapestry/anatolian-carpets/carpet-weaving-tradition-600.htm?type=1.

[2] https://www.theepochtimes.com/who-built-the-underground-city-of-derinkuyu_1209041.html

[3] http://www.todayifoundout.com/index.php/2013/09/intriguing-ancient-underground-city-derinkuyu/

[4] http://www.ancient-origins.net/ancient-places-europe/incredible-rock-houses-and-underground-cities-cappadocia-001394

[5] https://theculturetrip.com/europe/turkey/articles/the-history-of-istanbuls-blue-mosque-in-1-minute/

[6] https://www.khanacademy.org/humanities/art-islam/islamic-art-late-period/a/the-blue-mosque-sultan-ahmet-camii

[7] http://www.bluemosque.co/architecture.html

[8] http://ayasofyamuzesi.gov.tr/en/history

[9] http://www.dw.com/en/hagia-sophia-museum-or-mosque/a-39428448

[10] https://www.youtube.com/watch?v=KRPp3jzv1Tw

[11]http://www.istanbultrails.com/2008/10/how-to-prepare-for-the-grand-bazaar-of-istanbul-worlds-oldest-and-biggest-covered-market/

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya