Jomblo…….

Status hubungan yang menjadi pantangan untuk beberapa orang. Bahkan ada yang sampai tidak bisa hidup jika tak pacaran. Berniat bunuh diri jika sampai berstatus jomblo. Juga ada yang baru putus dari yang ini, jadian dengan yang itu. Status berpacaran adalah segalanya. Both men and women, they are totally same about this.

Advertisement

Ku pikir semua wanita seperti itu, ternyata tidak setelah ku menemukannya. Wanita yang dicomblangkan oleh sahabatku karena katanya, "It’s time for you to have a new girlfriend. Udah cukup buat lu ngejombs tiga tahun. Nggak bosen apa?" Dengan aksen kebarat-baratan yang lancar. Juni, bulan yang membuatku sadar bahwa aku salah bahwa cinta hanya untuk status.

Via Line, akhirnya kontaknya ada padaku setelah dikirimkan oleh sahabatku. Ku add contact, lalu ku chat. "Hai" pesanku sebagai pembuka, "Hai juga" balasnya.

Tak kenal maka tak sayang kata pepatah. Mungkin karena itulah banyak orang yang jika terlalu mengenal lawan jenisnya walau dekat via chat, bisa menjadi sayang padanya.

Advertisement

Wanita ini tak se-kota denganku. Dia di Bandung, aku di Magelang. Jauh memang, namun cinta tak berkuasa atas jarak. Orang yang belum pernah kau temui bahkan bisa menjadi orang yang paling kau cintai.

Bahkan segala tentang dirinya tak bisa kau lupa. Aku percaya kalau tak sendirian mengalami hal seperti ini. Banyak pasangan diluar sana yang mengalami hal yang serupa. Bahkan ada ribuan lelaki nan jauh di sana, sedang berperang melawan nafsu cinta yang sama seperti diriku. As you know, love is crazy, isn’t?

Ku rasa bukan rindu yang berat seperti kata Dilan. Namun hanya bertatapan muka lewat videocall selama sepuluh bulan PDKT itu sama halnya menjadi fans setia youtuber. Itu yang berat. Selalu bertatapan walau tak bertemu. Ingin rindu tetapi tak pernah bertemu. Ingin bertemu tetapi tak ada waktu.

Sepuluh bulan membuatku mengerti hal yang paling dia suka, hal yang paling dia benci, lagu kesukaannya, makanan favoritnya, tempat nongkrong langganannya, apa yang dia lakukan sebelum dan sesudah tidur, Aku tahu.

Kebiasaan-kebiasaannya, sangat ku suka. Dia tak suka saat ku memotong pembicaraannya, akibatnya dia akan cemberut tak ingin bicara. Berbicara hingga larut malam hingga aku ketiduran, keesokan paginya notifikasi handphone ku akan penuh dengan nama samaran nya, "Gendats". Walaupun aku sendiri tak tahu dia itu gendut atau tidak. Kemudian dengan ucapan selamat tidur sebagai penutup spam chat.

Ah sulit sekali ketika kau menjalani sebuah LDR yang dimulai tanpa pernah bertemu, walaupun dia itu teman sedari kecil dari temanmu. Kau tak bisa memberikan telinga untuk mendengar, bahu tuk bersandar, raga tuk berlindung. Terlebih juga tangan untuk menghapus air matanya yang terjatuh ketika ia menceritakan masalahnya.

Walaupun kata teman-teman hubungan kami terlihat baik-baik saja dan bisa membuat beberapa orang cemburu, namun ada perihal yang tak bisa dia lupa. Perihal orang yang pernah menjadi yang paling dicinta.

Ada hal yang membuat dia tak bisa lupa, lantaran hatinya pernah sayang sesayang-sayangnya berakhiran dengan jatuh sejatuh-jatuhnya. Tentu sakit saat merasakan dua hal secara bersamaan. Sakit yang takkan kau jumpai ketika jatuh saat bermain

Entah mengapa banyak pria berengsek yang membuat wanita sayang kepadanya, namun pada akhirnya membuat wanita menjadi benci kepadanya akibat perlakuan pria itu. Namun dengan bodohnya, wanita tetap saja sayang kepadanya. Ingin tetap bertahan terhadap keadaan dengan harapan pria akan kembali seperti semula saat awal jumpa.

Lebih bodohnya lagi, ada pria yang selalu meminta kesempatan kedua, ketiga hingga kesekian. Dan wanita selalu jatuh termakan perkataan. Dengan alasan tidak akan mengulangi kesalahan yang sama. I think that’s the worst bullshit. Apakah dia berpikir bahwa wanita itu seperti minuman ale-ale yang selalu memberi kesempatan untuk coba lagi?

Tak bisa kupaksa dia untuk melupakannya. Bagaimana bisa jika aku yang selalu berhari-hari bersamanya, namun pria tersebut yang telah bertahun-tahun dengannya? Dengan ditambah paksaan untuk balikan, tentu perihal untuk melupakan akan sangat sulit dilakukan.

Layaknya fisika, tekanan ada karena beban. Pria itu telah menjadi beban untuk hubungan, sehingga wanitaku mengalami tekanan. Segala hal yang ku lakukan selalu membuatnya teringat akan mantannya. Seperti emak-emak yang selalu menyalahkan hal yang dilakukan yang anaknya lakukan. Itulah diriku saat itu.

Kau hanya bisa mencoba mengerti, bertahan, bersabar dan tentunya memberikan tanggapan yang terbaik agar membuatnya merasa lebih tenang. Walaupun sebenarnya bukan yang terbaik, hanya itu yang bisa dilakukan.

Bulan Desember pun tiba. Setelah sembilan belas bulan saat Juni tahun lalu, berwacana untuk bertemu sejak awal berkenalan. Akhirnya, waktu yang ditunggu-tunggu diriku dan dirinya, terlebih teman-temanku. Aku berangkat ke Bandung melalui Jogja bersama lima sahabatku termasuk yang telah mengenalkan ku padanya tentunya.

Perihal memilih Desember adalah karena bagi beberapa orang, mereka percaya akan keajaiban yang terjadi pada bulan Desember. Kami berdua juga mempercayainya. Kami berharap pertemuan kami menjadi the most memorable moment.

Layaknya Dilan yang memikirkan Milea saat di kereta api di buku yang berjudul "Milea" karya Pidi Baiq, seperti itulah diriku saat itu. Namun bedanya, Dilan menuju ke Jogja dari Bandung. Dan saat itu Dilan sudah tak bersama Milea lagi.

Perjalanan di kereta menguras tenagaku lantaran hanya duduk, makan dan bercerita selama berjam-jam. Ditambah dengan otak yang membuatku lelah. Memikirkannya. Tiap detik.

Hari untuk bertemu. Ku mempersiapkan diri. Tegang, termasuk sahabat-sahabatku. Kami ke Puncak Bintang. Janji bertemu di sana, juga karena tak jauh dari rumahnya.

And yes, it’s a moment that I will never forget. I saw the sparkle at her eyes. Rambutnya panjang, sepunggung. Tubuhnya tak terlalu kurus, juga tak terlalu gemuk. Kulitnya putih tetapi tak pucat.

Everyone will be so crazy for it. Tak terkecuali aku. Kaku juga grogi. Semua orang akan mengerti yang kurasakan saat mereka pernah mengalami hal yang sama.

Tetapi semuanya bahagiaku tak bertahan lama, bahkan cinta yang berapi-api pun hanya menyala sementara. Bolehkah kita mengulang masa-masa yang indah itu? Bagaimana kah kabarmu? Aku rindu kau yang dulu dan obrolan kecil kita. Ku tak mengerti apa yang terjadi hingga berakhir.

Bukan karena ku tak mampu bertahan. Bukan juga karena ku tak lagi nyaman. Takdir yang memaksakan semuanya berhenti. April, bulan yang menjadi kenestapaan ku. Juga teman-temanku akan keadaan ku.

Aku tahu saatnya akan tiba, dia akan pergi. Cepat atau lambat itu pasti terjadi. Dia akan kembali? Ku tak yakin. Bertemu dengannya? Mustahil.

Andai saja waktu dapat diputar ulang, kan ku putar waktu jauh sebelum dia mengenal mantannya. Ku kan menemukannya terlebih dahulu agar tak terjadi seperti sekarang ini.

Ia harus pergi. Kanker payudara yang disebabkan mengkonsumsi alkohol saat dia masih bersama masa lalunya telah mengambil alih hidupnya. Sisa-sisa hidupnya hanya tentang obat-obatan, rumah sakit, terapi, dan tentu, aku.

Dia bukan orang miskin lantaran telat berobat. Namun karena terlambatnya pengobatan. Karena dia takut harus menjelaskan apa ke orang tua nya yang tak bisa menjadi dambaan semua anak walaupun hartanya berlimpah. Mengapa harus ada orang tua seperti itu?

I think it’s hard to forget her. I was so regret not beside with her when the last day of her life. Aku benci diriku. Ku benci pria berengsek yang telah merusak hidupnya. Ku benci orang tuanya. Mengapa mereka meninggalkan anak mereka begitu saja?

Perjuangan sahabatku menyemangati ku tak lebih besar dari nestapa ku. I’m a man who can’t be moved. Mereka berkata, "Lo udah berusaha yang terbaik di akhir hidup dia kok, bro. Dia pasti bahagia. Gue yakin. Tetapi dengan keadaan lo yang begini, malah membuatnya gak tenang. Trust me!"

Namun semua itu telah menjadi masa lalu ku. Bulan Juni, tepat 2 tahun. Aku sadar menangisi orang yang telah pergi takkan membuatnya hidup kembali. Aku sadar aku harus tetap melanjutkan hidupku. Karena hidupku bukan hanya tentang dia. Walaupun begitu, takkan pernah kulupa akan dirinya.

Semenjak buku diary nya sampai di rumahku dengan origami burung bangau di dalamnya yang bertuliskan pesan yang sangat indah.

Isinya:

24 Januari 2017

Hey kau,
yang sudah ajarkan arti sebuah cinta.

Kuharap burung bangau ini akan sampai padamu.

Mengenalmu, ku pikir kau seperti lelaki yang lain.
Yang hanya ingin memanfaatkan wanita, yang hanya ingin senangnya saja.
Ternyata aku salah, kau berbeda. Dan aku ingin selalu mengenalmu, walaupun takdir mengharuskan kamu tak perlu mengenal ku.

Mengenalmu membuatku mengenal hal lain selain mengenalmu. Aku mengenal cinta, kasih sayang dan rasa rindu.

Cinta yang tumbuh di hatiku bukan biasa, walaupun takdir mengharuskan kamu tak perlu mencintai ku. Kasih sayang, apa yang harus ku jelaskan tentang ini padamu? Sudahlah, lihat ke bawah. Akan ku jelaskan soal rindu.

Setiap hari, aku tak pernah tak merindukanmu. Sungguh.

Namun ada satu rasa yang kemudian timbul, yaitu sakit.
Seseorang teman mengatakan padaku bahwa semakin banyak yang kita tahu maka semakin banyak pula kita tak ingin kehilangan orang itu. Dan ya, aku tak ingin kehilanganmu. Aku mencintaimu, sangat mencintaimu. Walau takdir mengharuskan kamu tak perlu membalasnya.

Pada akhirnya, yang sudah ku ketahui akhirnya, aku tak bisa mendapatkan cintamu. Karena kau tahu keadaanku. Maaf.

Kau harus tetap melanjutkan kehidupan mu walau tanpa aku di dalamnya.
Mungkin berat, tetapi itu harus! Beruntungnya wanita yang akan mendapatkan mu.

Ini perintah nyonya besarmu yang kau sayangi.
Jangan membantah!

Aku suka saat kita di Puncak Bintang, tak pernah ku lupa bagaimana cara mu tersenyum dan tertawa.

Terima kasih sudah pernah hadir.
Kau anugerah terindah Tuhan yang pernah ku jumpa.

Bandung,
yang sedang mendung juga murung

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya