Merindukanmu memang tak pernah tahu waktu. Malam ini entah mengapa serasa bisu, tak sedikitpun ku dengar suara yang menggema dalam sunyi, nyanyian alampun sama sekali tak kudengar malam ini, langit seakan gelap yang begitu pekat, ku tengok dengan seksama tidak ada tanda tanda hujan akan turun, bahkan cahaya bulan yang tampak tak cukup bisa menerangi, dan entah mengapa malam ini aku begitu khawatir dan gelisah, memikirkan rindu yang tak pernah tahu waktu.

Terus saja begini. Setiap mataku mulai terbuka di pagi hari, segala hal tentangmu selalu siap berada di depan mata, untuk menyambut dan memasuki setiap relung fikiranku hari ini, dan aku tak pernah keberatan akan hal ini, walaupun sesekali rindu menjadi membuncah begitu hebatnya, tapi tenang aku masih bisa mengatasinya.

Seperti layaknya manusia kebanyakan, aku selalu penasaran mengecek ponselku di setiap pagi tiba, dan secara otomatis jemariku selalu bergerak ke arah kontakmu, hanya untuk sekedar mengatakan, “Selamat Pagi”. Walaupun terkadang aku berpikir, aku tidak ingin seperti orang kebanyakan yang akan selalu melihat ponsel ketika bangun tidur, aku lebih ingin berdoa semoga kebahagiaan selalu bersama kita.

Tetapi aku belum cukup ahli untuk tidak meninggalkan kebiasaan itu, semua sudah terpatri dalam pikiranku, bahwa aku selalu ingin jadi orang kedua yang menyapamu, aku selalu ingin jadi orang kedua yang kau ingat sebelum kau memulai hari setelah Tuhanmu sampai nanti aku ingin menyapamu langsung disetiap pagimu bersama keluarga kecil kita. Impian yang sederhana bukan?

Sungguh sesuatu yang selalu ku minta dan kusemogakan pada pemilik semesta. Ah semuanya tampak menyenangkan. Sungguh kadang kala pemikiran pemikiran sederhana ini selalu menjadi teman setiap rutinitasku, dan ketika aku mencoba memengalihkan pada hal lain, entah mengapa otakku dengan lihai mengembalikannya untuk mengingatmu, aku memang menyayangimu dan kurasa itu sudah tertanam dalam hati dan pikiranku, dan semoga kau demikian sama halnya denganku.

Bahkan ketika aku berada bersama teman-temanku, di dalam otakku tak henti-hentinya menayakan bagaiamana kabarmu, sambil sesekali melirik ponsel, siapa tahu kau mengirimkan kabar, walau seringkali kenyataanya hal itu tak pernah terjadi, tapi lebih menjengkelkannya aku tak pernah bosan melakukannya, tapi bukankah aku juga manusia biasa yang punya perasaan dan batas kesabaran , tentu saja semua akan baik baik saja ketika batas itu masih ada.

Dan untuk malam hari, mungkin bisa dikatakan lebih parah lagi, Aku dengan terang-terangan selalu menanyakan tentangmu, karena dalam hatiku berkali-kali menyuruhku menghubungimu walaupun terkadang pikiranku menentang itu, takut- takut justru kamu akan terbebani dengan keegoisanku ini atau justru lebih parahnya kamu tak menanggapi itu, ah tentu saja sungguhku dibuat malu bukan kepayang.

Tapi kau harus tahu mengapa aku bersikap demikian, dan aku yakin kamu mengerti perihal itu, Dan akhirnya tak ada yang bisa kulakukan selain memendamnya , walau pernah sesekali mengucapkan, tapi nyatanya memendam rindu justru lebih menyenangkan, sembari menunggu kau mengatakan bahwa kau juga merindukanku, ku harap kau juga akan mengatakannya.

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya