Dalam hidup ini, mungkin saja telah cukup bagi hati mereguk segala kesakitan dan kekecewaan. Cinta yang tak berbalas, cinta yang tertanggalkan, atau pun cinta dalam diam. Kau pun mungkin pernah mengalaminya. Dia yang begitu baik, dia yang perhatian, dia yang selalu membalas sapamu. Tapi, benarkah ia memiliki rasa yang sama seperti apa yang kau rasakan?

Kalau iya, kenapa dia tak pernah bilang dia mencintaimu, kenapa kau bukan orang pertama yang tahu mengenai segala hal tentangnya?

Advertisement

“Tidakkah kau ingin tahu hatiku?

Betapa sulitnya menanggung perasaan yang terlampau seperti ini. Dan mungkin saja tuhan menyelipkan bagian lain dalam kisah cinta yang bertepuk sebelah tangan ini. Mungkin Tuhan juga sedang memberimu pemahaman dan pemakluman bahwa terkadang hati harus lebih dulu menyiapkan kapasitas untuk luka dan kecewa nantinya.

Bahkan dalam hidup ini, kita tidak bisa terlalu mengharapkan semua hal yang berlaku. Kadang ada takdir misterius yang senantiasa mendatangi manusia melalui banyak cara mempertemukan manusia yang satu dengan yang lainnya. Di sini, bisa jadi kau masih sebagai pemain figuran sementara. Nanti, siapa yang menduga.

Advertisement

“Sebab dengan hanya mencintainya sendirian telah memberimu denyar-denyar lembut yang menciptakan bahagia”

Kau, Saya dan mereka pernah menuliskan perihal luka yang dibarengi rasa bahagia hanya karena melihat senyumnya semata. Senyum yang menurut pandanganmu hanya tertuju padamu. Lantas, kau telah merasa bahagia Karenanya. Setidaknya, senyumnya berkisah tentang hati yang mendamba. Pikirmu.

Kau ingin sekali memiliki senyum itu. Namun kau cukup mengetahui bahwa terkadang cinta lebih sering dimenangkan oleh keindahan fisik ketimbang keindahan hati. Ya, ada banyak kesedihan yang lebih baik diterima dan berbangga atas semua itu. Setidaknya kau pernah merasakan ada denyar dalam dada walaupun denyarmu tak bisa kau perdengarkan padanya.

“Sekarang, jika saja tuhan mengabulkan satu harapan; Cukup berikan sepasang kaki yang senantiasa di dekatnya, menuju padanya, tentu saja di dalam hati selamanya.”

Maka ketika kau merasa telah kalah bahkan sebelum bertanding, membuatmu menjadi tidak percaya diri pada segala kelebihan lain yang kau punya. Ya, cinta yang tak berbalas kadang membuat kita menjadi sosok yang gampang menyerah. Menjadi tidak percaya pada diri. Menjadi kehilangan rasa kasih atas diri.

Pertemuan-pertemuan yang melibatkannya selalu menumbuhkan benih-benih harapan tentang keinginan untuk menyatakan perasaan. Setiap kali bertemu, meski hanya beberapa menit saja dan diakhiri senyum kecil di bibirnya, kau mengalami debar yang tak terkendali. Begitu mudah mencintainya sekaligus terlampau iri pada mereka yang lebih mudah dekat dengannya.

Kalau saja ketampanan fisik bisa membuat hatimu jatuh sebegini dalam, mungkin akan mudah merusak kenangan perihalnya yang kau simpan bertahun-tahun di tempat terbaik di hatimu. Namun terlalu sulit bagimu untuk sepenuh penerimaan melihatnya dengan seseorang yang dipilihnya.

Bukankah kita terlampau mudah memberi luka pada hati?

Ya, kau teramat mencintainya, masih sama besarnya seperti menit-menit kasmaran pertama dulu.

Sikapnya yang selalu membuatmu nyaman. Meskipun tanpa kata cinta bertumbuh dari bibirnya. Namun pilihanmu ialah sepenuh penerimaan membiarkannya bahagia dengan pilihannya dan kau hanya harus terus melanjutkan mencintai dirimu dengan lebih baik darinya. Betapa mudahnya mengalami kepedihan terhadapnya. Di depannya kau bisa terlihat biasa-biasa saja, namun di belakangnya sungguh kau sedang tidak baik-baik saja.

Suatu hari, kau memutuskan untuk merelakannya; cinta tak berbalasmu, cinta yang mengajarkan detak baru pada hatimu, cinta yang membuatmu sabar menunggu waktu. Dan Kau teramat ragu-ragu melakukannya, kau sangat ragu-ragu memutuskannya, kau luarbiasa tidak mau menghapuskannya, Namun keinginanmu yang kuat untuk segera mengakhiri kesakitan dengan keterpaksaan atau dengan keikhlasan kau harus segera memutuskannya.

Ya, lelaki itu. Bukankah dia lelaki pertama dan terakhir yang tak pernah hilang maupun sirna dalam ingatanmu? Dia yang membuat hitammu menjadi biru, dia yang amat kau cintai. Dia yang mencipta kenang dalam ingatan. Kau menghapus semua keinginan-keinginan bersama dengannya, di semua ruang dalam kepalamuyang menyimpan semua gambarannya. Kau menghapusnya.

Demi kebebasan hatimu kembali, Kau menghapusnya selamanya. Walaupun sebenarnya kau masih tak yakin semua kenangan tentangnya telah terhapus. Tapi satu hal yang kau yakini benar, bila ditakdirkan untuk bersama akan ada skenario yang indah untuk membuatmu bersatu.

“Dia yang pernah mencipta semesta bahagia dalam dirimu, dia yang harus kau tanggalkan dari hatimu”

Tapi untuk sekarang, kau harus melepaskan semua tentangnya bukan karena kau tak mencintainya. Kau hanya teramat mencintainya, dan melepaskannya adalah jalan satu-satunya untuk membuatmu kembali fokus dalam membangun masa depan. Agar kau tak selalu dikendalikan hati saat kerinduan, agar kau tak selalu membuat hatimu dalam kecemasan.

Ya, kau melepaskannya dengan senyuman. “Selamat tinggal cinta tak berbalasku” katamu lega.

Andai saja bisa kujelaskan perihal kehadiran semua rasa pada hati, Maka ketakjuban apa yang akan membuatmu merasa betah di sisi. Namun, Tuhan punya sisi cerita yang lain. Bisa jadi dipertemukan denganmu hanya untuk mengajarkan hati denyar-denyar lembut. Mengajarkan perihal kerinduan yang membuatmu meramu doa-doa kebaikan untuknya.

Ya. Kepadamu.

Dulu.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya