Saran untukmu yang Minder Karena Mengidap Mental Illness

bangkit dari Mental Illness

Bicara soal mental illness di Indonesia masih banyak orang yang belum sadar dan tahu soal mental illness itu apa. Apasih mental illness itu?

Advertisement

Mental illness adalah suatu gangguan kejiwaan yang mempengaruhi pikiran, perasaan, dan perilaku seseorang. Gangguan kepribadian ini membuat penderita sulit untuk mengetahui perilaku yang dianggap normal dan tidak atau penyakit mental adalah gangguan yang menyerang emosional, psikologis, dan kesejahteraan sosial seseorang. Penyebab mental illness amatlah beragam seperti trauma, kelainan otak, cedera kepala, stress berat dalam waktu lama dan lain sebagainya.

Sebagian mental illness dialami oleh remaja di awal usia 20-an. Penyebab terjadinya mental illness ini muncul oleh beberapa faktor seperti :

    1. Stress berat untuk waktu yang lama

    2. Trauma signifikan, seperti pertempuran militer, kecelakaan serius atau kejahatan dan kekerasan yang pernah dialami

    3. Kekerasan dalam rumah tangga atau pelecehan

    4. Faktor genetik

    5. Isolasi sosial atau kesepian

    6. Mengalami diskriminasi dan stigma

Advertisement

Dari penyebab mental illness tersebut hal yang paling parah adalah melakukan bunuh diri. Para pengidap mental illness merasa bahwa dirinya putus asa atas kehidupan yang ia jalani dan takut dikucilkan dengan orang sekitarnya. Justru jika kamu memiliki mental illness, cobalah untuk terbuka dengan orang-orang di sekitarmu. Terbuka dengan lingkungan sekitar dapat membantu pengidap mental illness untuk bangkit dari penyakitnya dan memiliki tujuan hidup yang baru. Dengan begitu kamu akan memiliki lingkungan yang positif.

Dari penjelasan mental illness tersebut, saya ingin berbagi kisah bagaimana bangkit dari penyakit mental illness. Bermula pada awal tahun 2017 gadis berinisial S.A memasuki bangku perkuliahan di salah satu universitas swasta. Saat itu S.A memiliki tugas kuliah untuk melakukan wawancara dengan narasumber psikolog dengan mengangkat isu LGBT. Saat selesai melakukan wawancara, ia akhirnya berbincang-bincang dengan narasumbernya tersebut, sampai akhirnya tanpa sengaja ia menceritakan masalah cukup serius yang tengah ia hadapi. Narasumber tersebut menyarankan ia untuk periksa ke psikiater karena ada kondisi yang harus ia atasi khawatir dengan masalah yang S.A hadapi dapat berpengaruh kepada kondisi kejiwaannya.

Saat itu S.A memberanikan diri untuk pergi ke psikiater seorang diri, berharap mendapat jawaban dari apa yang selama ini terjadi padanya. Hingga akhirnya dia mendapatkan diagnosa medis bahwa ia menderita mental illness, awalnya ia tidak terima dengan diagnosa tersebut namun perlahan ia mencoba untuk menerima bahwa dirinya mengidap mental illness. Rasanya kaget, kecewa, sedih, marah namun tidak ada tempat untuk bersandar. Mencoba bertanya kepada Tuhan mengapa di tahun tersebut sungguh berat untuknya, pertama banyak masalah yang tengah ia hadapi, kedua ia harus menerima bahwa dirinya menderita mental illness.

Ia mengaku bahwa sering mengalami depresi berat, mengurung diri dari orang sekitar, emosi yang drastis dapat berubah dan menyakiti dirinya sendiri. Kambuh yang dialami mental illness bisa apa saja salah satunya menyakiti diri sendiri, seseorang tanpa sadar menggoreskan benda tajam atau memukul dirinya sendiri jika mengalami depresi, itu merupakan bentuk pelampiasan emosinya. Jika ini dibiarkan dapat mengancam keselamatan dirinya.

2 tahun berlalu dengan segala upaya penyembuhan yang ia jalani, ia percaya bahwa dirinya  itu miliknya dan hanya ia yang dapat mengontrol dirinya. Ia mencoba mulai terbuka dengan lingkungan sekitar bahwa mental illness bukan hal yang dipandang sebelah mata. Ia menyadari bahwa dengan kondisinya saat ini banyak respon positif yang datang kepadanya, bahwa orang-orang disekitarnya sangat menyayanginya. Ia percaya penderita mental illness juga dapat hidup normal seperti orang-orang pada umumnya, ia percaya seseorang yang menderita mental illness tidak berbahaya bagi orang lain dan sekitarnya.

Untuk kamu yang mengalami mental illness, jangan pernah berkecil hati. Karena tanpa kamu sadari orang-orang di sekitarmu sangat menyayangimu. Jangan pernah takut dan malu untuk bercerita dan konsultasi secara medis. Dengan konsultasi kamu dapat mengetahui banyak hal baik untuk dirimu seperti bagaimana menangani rasa panik, menghilangkan ketakutan berlebihan dan menghindapi hal-hal buruk terjadi pada saat mental illness kamu kambuh.

Yuk! Mulai sharing dan terbuka dengan lingkungan sekitar. You must proud of yourself! Karena kekuranganmu adalah kelebihan dari dirimu yang orang lain belum tentu bisa menghadapi dan mengatasinya.

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya

Advertisement

“Artikel ini merupakan kiriman dari pembaca hipwee, isi artikel sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.”

Berikan Komentar

Tim Dalam Artikel Ini

Penulis

CLOSE