Seiring berkembangnya fashion industry, permintaan model pun meningkat terlihat dari banyaknya agensi model yang membuka scouting. Hampir setiap harinya model-model baru menghiasi fashion show atau photoshoot.

Stigma perfection seringkali kita dengar di dunia modelling. Fisik menjadi tolak ukur untuk standar kecantikan di dunia model. Selain stigma perfection, ada pula stigma prostitusi yang diam-diam melekat pada pekerjaan ini khususnya pada model perempuan.

Advertisement

Ika, seorang mahasiswi salah satu universitas di Jakarta, membagikan pengalamannya sebagai seorang model.

“Ya lumayanlah untuk tambah uang jajan dan menabung dari hasil keringat sendiri. Sekarang kalau ada barang yang mau dibeli juga nggak perlu minta dari orang tua lagi.” Kata Ika sembari tertawa ketika ditanya soal penghasilannya sebagai model. Dalam sekali fashion show model bisa mendapat bayaran hingga 1 juta rupiah.

Ika berbagi tahapan sebelum seorang model mendapatkan sebuah pekerjaan. Ada tahap seleksi atau casting yang harus dilalui para model sebelum benar-benar mendapatkan sebuah job. Biasanya di casting ini ada kriteria tertentu yang diberikan oleh client seperti minimum tinggi atau look yang sesuai dengan tema dari koleksi designer yang akan ditampilkan baik untuk fashion show, campaign ataupun photoshoot.

Advertisement

Selain walk-in casting ada juga casting melalui foto saja. Klien akan memberikan kriteria ke agensi dan agensi pun akan mengajukan foto-foto atau portofolio beberapa modelnya yang sesuai dengan kriteria yang diminta. Setelah casting ini selesai, maka model akan dihubungi secepatnya bila dia terpilih.

Menurut Ika, stigma prostitusi ini bukan hal baru dan sudah disadari olehnya bahkan sebelum dirinya terjun ke pekerjaan ini. Hal ini menurutnya disebabkan karena banyaknya pemberitaan di media tentang prostitusi yang berkedok sebagai model dan perbuatan beberapa orang yang meyimpang dari norma atau nilai yang berlaku di masyarakat.

Tak pelak pemberitaan-pemberitaan miring ini membuat masyarakat membentuk stigma yang seolah-olah menyamakan pekerjaan model sebagai bagian dari kegiatan prostitusi. Walau sudah dari tahun 2016 Ika terjun ke industri ini, dia pun tak menyangkal jika sampai saat ini dirinya masih memilih-milih pekerjaan yang akan dirinya lakukan.

Ketika ditanya tentang bagaimana pandangan orang tuanya terhadap pilihannya yang ingin terjun ke dunia model, Ika berkata bahwa pada awalnya kedua orang tuanya merasa berat untuk mengijinkannya menjadi model.

Tentunya sebagai orang tua, mereka selalu ingin memberikan yang terbaik untuk anaknya. Tak jarang, beberapa orang tua lebih memilih anak- anaknya untuk berkarir sebagai wanita kantoran dibandingkan menjadi seorang model. Memiliki karir sebagai business woman dianggap lebih aman dan memiliki jenjang karir yang tinggi sekaligus menghindari stigma prostitusi.

Image model yang terlihat berpenampilan glamor juga menjadi salah satu faktor lainnya mengapa stigma prostitusi ini bisa ada. Penampilan mereka yang nyentrik membuat banyak orang berpikir bagaimana mereka bisa membeli barang-barang mewah tersebut dengan hanya menjadi model? Hal ini pula yang mendorong masyarakat memiliki stigma bahwa model adalah dunia prostitusi.

Stigma prostitusi ini dapat mendorong tindakan pelecehan seksual. Salah satunya pengalaman yang dibagikan oleh seorang model freelance sebut saja namanya Ani seringkali pergi untuk casting dan memberikan nomornya untuk dihubungi. Ani tiba- tiba saja mendapatkan sebuah pesan melalui WhatsApp oleh seorang pria tak dikenalnya yang berisi ajakan untuk bersetubuh dengan kata-kata tak pantas. Saat itu juga Ani langsung memblokir nomor pria itu dan merasa takut.

Mulai terbukanya pemikiran orang-orang merupakan momen yang tepat untuk mengurangi bahkan menghilangkan stigma prostitusi yang salah ini. Salah satunya dengan membuat forum diskusi seprofesi melalui media sosial seperti Instagram, Twitter, Facebook, dan lainnya.

Semakin banyaknya model yang berprestasi dan go international juga merupakan cara untuk membuka mata masyarakat melihat bagaimana mereka berprestasi di kancah internasional. Sebut saja Ayu Gani, Kelly Tandiono, Laras Sekar, dan sederet nama model wanita berprestasi lainnya yang mampu membuat Indonesia bangga.

Stigma prostitusi diharapkan dapat perlahan terhapuskan dari masyarakat. Sudah saatnya masyarakat membuka mata lebar-lebar untuk dapat mengetahui dan sadar bagaimana stigma ini salah. Generalisasi hanya memperburuk stigma dan image dari model. 

Dengan menghapus stigma prostitusi dari dunia model, masyarakat dapat membantu mewujudkan mimpi perempuan di luar sana yang terhenti. Menciptakan rasa nyaman bagi para model dengan pekerjaannya, dan juga menghentikan pelecehan seksual yang mungkin saja terjadi karena adanya stigma prostitusi ini.

Terlepas dari segala pemberitaan media serta kasus-kasus yang sudah terjadi, semua itu dapat dijadikan pembelajaran bukan ajang untuk memperkuat stigma yang ada. Walau terlihat sulit untuk mengubah stigma prostitusi yang sudah lama melekat bukan berarti pola pikir masyarakat tidak dapat diubah.

Model tidak menjual diri melainkan menjadi sarana untuk mempromosikan produk yang mereka kenakan. Ketika seorang model memakai baju yang dianggap terlalu terbuka saat fashion show atau photoshoot, pandanglah pakaian itu sebagai seni atau karya dari seorang designer dan bentuk keprofesionalan model bukan sebagai indikator pembenaran stigma prostitusi pada model.

Banyak model yang sudah berkerja keras dan lalui untuk menjadi model yang baik terlepas dari oknum- oknum yang ada. Penghapusan stigma prostitusi bisa menjadi sebuah cara untuk mengapresiasi hasil kerja keras para model.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya