Hai kamu… Telah sekian waktu sejak kepergianmu. Bukan, bukan kamu yang pergi, melainkan aku yang memutuskan untuk tak tinggal lebih lama lagi.

Jika dapat kuibaratkan, maka kamu adalah matahari, sedangkan aku adalah lebah. Aku mencintai cahayamu, namun tak bisa mendekatimu, karena kutahu pasti, saat aku mendekat lebih dan lebih lagi, aku akan terbakar, dan hangus.

Advertisement

Terkadang Tuhan menciptakan skenario kehidupan ini dengan sangat lucu. Terkadang orang yang sangat kita inginkan, belum tentu adalah orang yang ditakdirkan untuk kita. Namun orang yang tak pernah disangka-sangka sama sekali, ternyata adalah belahan jiwa kita. Haruskah kita marah dan mengamuk pada skenario Ilahi? Tidak… SkenarioNya adalah yang terbaik. Itu yang selalu kucoba yakini dalam hati.

Karenanya, semenjak saat itu, kurapalkan sebuah kata setiap hari, menjadi seperti sebuah doa pribadi: Move on… Move on… Move on… Sekelumit kata yang terus dan terus kuucap. Karena aku tak mau selamanya terkungkung dalam bayang-bayangmu.

Move on... Tapi kenapa sulit sekali kulakukan? Kau bagai bayanganku, mengikuti kemanapun langkahku. Hingga terkadang aku benci pada diriku yang sebegitu lemahnya menghadapi segala sesuatu tentangmu. Padahal kamu kini hanya tinggal memori usang, harusnya sangat gampang kubuang.

Advertisement

Kucoba lagi dan lagi untuk move on, melupakanmu dan semua tentang kita, semua rasa yang pernah ada.

Move on… Sebuah kata sederhana, tapi kenapa begitu sulit dilakukan?

Ternyata aku yang salah selama ini. Kukira selama ini move on berarti melupakan. Tapi kurasa yang lebih tepat adalah mengikhlaskan yang telah lalu, serta melangkah kedepan.

Karena kenangan itu tak akan pernah bisa dilupakan, kenangan akan selalu tersimpan. Kenangan adalah masa lalu. Dan kita bisa berdiri saat ini adalah karena masa lalu yang kita alami.

Yang harus kulakukan kini adalah mengikhlaskan segala tentang kamu, tentang kita dimasa lalu. Tahu sadar bahwa masa itu sudah pergi dan tak kan kembali. Mengikhlaskan kamu seikhlas-ikhlasnya. Menyadari bahwa kita dijodohkan Tuhan sampai disini saja, dan takdir masa depanku bukanlah bersama kamu. Memahami bahwa hidup yang sebenarnya adalah di saat ini, dimasa kini. Bahwa mungkin tak akan ada hari esok, hingga yang harus kulakukan adalah menghidupi saat ini, bukan meratapi masa lalu, atau terlalu berharap terlalu banyak untuk hari esok.

Kini aku sudah jauh lebih kuat, tak lagi memaksakan sebuah senyum dan merasakan guratan perih dalam hati saat tak sengaja mendengar namamu disebut.

Move on… Sayang. Aku sudah berhasil move on. Bukan darimu, tapi dari kegagalan kisah kita dimasa lalu.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya