#MudaBerkarya-Caraku untuk Tetap Berkarya dan Tetap Bisa Merawat Orang Tua di Masa Tuanya

Hidup perlu keseimbangan antara pekerjaan, hobi, orang tua juga untuk diri sendiri.


Kenapa nggak cari kerjaan yang gajinya lebih tinggi?

Advertisement

Kenapa masih kerja di tempat seperti itu, sayang kan masih muda nggak kemana-mana?

Eh, kamu mau nggak kerja di sana? Gajinya pasti lumayanlah buat kamu. Tapi kamu pastinya harus jauh dari orangtua? Gimana?


Pernah tidak kamu mendapatkan pertanyaan seperti itu?

Advertisement

Seberapa sering kamu mendengarnya?

Dan seberapa banyak pengulangan jawaban yang sebenarnya tak perlu kamu katakan lagi?

Advertisement


Siapa sih di dunia ini yang nggak butuh uang?


Hampir seluruh kehidupan di bumi ini semuanya menggunakan biaya yang harus dibayar juga dengan uang.

Seperti halnya dengan diriku.

Berkali-kali juga berusaha meminta izin kepada orangtuaku, terlebih ibuku untuk merantau saja. Tapi apa mau dikata, yang kudengar dari jawaban beliau adalah: Apakah aku sanggup hidup di sana? Hidup di kota besar, tak kenal siapapun di sana, yang bahkan tidak pernah sama sekali pergi jauh dari rumah?

Sekali lagi yang ada aku hanya bisa merenung di kamar. Kembali mengingat kebutuhan keluarga yang sebenarnya tak tega hanya ayah dan ibuku saja yang bekerja. Dalam benak terdalam, rasanya ingin sekali mereka duduk di rumah, menikmati masa tua, dan tidak lagi memikirkan lelahnya bekerja. Apalagi ketika melihat ayah harus berkali-kali kambuh sakitnya karena kelelahan bekerja. Dan beliau tetap memaksakan diri karena tak mau membuat ibu juga aku khawatir.

Untuk itu kembali aku memutuskan untuk tidak kemana-mana. Aku tetap bekerja di tempat ini. Tempat di mana aku bisa mewujudkan impianku menerbitkan dua buku tunggalku sendiri. Di mana aku harus mengerjakan naskah di komputer kerjaan dan juga meminjam laptop temanku. Tempat di mana aku tetap bisa menyalurkan dan mengembangkan hobiku dalam menggambar. Yang mana membantuku melepaskan penat ketika ada masalah, justru bisa mendapatkan respon dari teman-temanku. Yang akhirnya beberapa dari mereka ada yang memesan gambar karyaku.

Tempat di mana aku tetap bisa menjadi guru sekolah minggu, yang mana ini adalah impian ibuku. Aku tetap bisa mengajar anak-anak seperti cita-citaku, meski tidak di sekolah formal. Yang terkadang pastinya setiap ada acara harus izin dan diperbolehkan bosku. Dan itu tidak bisa kudapatkan dari tempat kerja lain. Tempat dimana aku bisa mendapatkan izin pula untuk main band di kafe, resto juga wedding. Yang mana dulu harus bawa alat musik juga pulang samapi dini hari. Pernah juga sampai digosipin tetangga karena harus latihan dan main band sama anak laki-laki terus. Yang mana sempat tak ada restu dari orangtua karena beliau khawatir aku akan kecapaian di perjalanan karena esoknya harus kerja. Yang sudah sangat bahagia karena banyak penonton serta sesekali hanya dapat minuman atau makanan saja sebagai uang lelah. Tapi, sekarang aku tidak bisa main band lagi karena harus fokus dengan pekerjaanku lagi.

Meskipun siang dan malam aku harus bekerja sendirian di tempat ini, tapi aku bersyukur bisa dipercaya mengelola uang milik bosku. Dimana menjadi kepercayaan seseorang juga bukan hal yang mudah bagiku.

Kembali lagi aku tersadarkan dengan ini semua, ketika aku mulai tergoda dengan kenikmatan dunia yang hanya sesaat. Ketika ada bisikan untuk menjadi seperti mereka, bisa membeli barang apapun seperti orang lain yang bisa dapatkan dengan mudah tanpa perlu memikirkan besok makan apa.

Semua hal yang kudapatkan sampai saat ini bukan dari sesuatu yang mudah. Aku tidak mau hanya karena rasa iriku harus mengorbankan apa yang sudah kuperjuangkan dari awal, bahkan membantah orangtuaku hanya demi ambisiku sendiri.

Aku sadar, terkadang aku bahkan sebenarnya merasa malu ketika harus meminta uang pada orangtuaku ketika gajiku benar-benar habis. Rasanya sedih tapi aku membutuhkannya.

Bukannya tak ingin keluar dari zona nyaman. Sebenarnya aku pun berusaha untuk melakukannya. Bukan pula untuk mencari pembelaan diri. Bukan. Tapi aku rasa yang dilihat orang lain memang seperti itu. Yang pada kenyataannya mereka tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi.

Sejak awal aku mulai memutuskan untuk membuat konten pun sebenarnya terhalang dengan bagaimana aku membuat video, sedangkan aku hanya bisa di tempat kerja saja. Istilahnya, ke rumah pun hanya untuk tidur. Terbatas biaya juga fasilitas lainnya. Tapi aku rasa itu mungkin hanya karena aku melihat kata terbatasku saja. Aku pun mulai mencari cara lain supaya tetap bisa berkarya meski dalam keterbatasan.

Seperti halnya ketika aku harus mengikuti kompetisi menulis yang diadakan oleh Hipwee atau di tempat lainnya. Ketika melihat kegalan demi kekalahan yang sering kudapatkan rasanya ingin marah dan  kecewa dengan diri sendiri. Selain lelah bekerja juga lelah pikiran untuk membuat materi kompetisi. Tapi ujung-ujungnya hasilnya belum bisa kudapatkan.

Aku tersadarkan kembali dengan kompetisi yang pernah kumenangkan. Aku mengingat kembali di mana aku juga tidak boleh egois. Semua punya kesempatan yang sama untuk menang. Dan ketika ada kompetisi lagi aku harus berusaha meyakinkan diri sendiri bagaimana kembali bangkit dan move on dari kekalahan yang kemarin.

Memang tidak mudah. Serignya aku harus membutuhkan waktu merenungkan kembali tujuan awalku: menulis itu untuk apa? mengikuti kompetisi menulis itu apa? Apa hanya karena ingin memenangkan kompetisinya atau tulisan itu nantinya bisa menjadi motivasi orang lain kedepannya? Atau alasan apa yang sebenarnya mendasari aku melakukannya?

Bukannya tak belajar dari kesalahan. Aku mengakui kalau aku masih perlu banyak belajar dan pengalaman. Terus mencoba dan mencoba, entah harus mengalami kekalahan beberapa kali lagi.

Aku tidak bisa hanya bergantung pada kompetisi saja. Atau pada pesanan gambarku berapa, atau gajiku saat ini berapa. Aku berusaha mencari cara lain untuk tetap bisa membantu orangtuaku. Apalagi saat ini pembangunan rumahku sendiri masih belum selesai dan masih memerlukan banyak biaya. Rumah sederhana namun hangat yang kurindukan untuk bersama keluarga kecilku nantinya. Meskipun saat ini  masih sendiri. Rumah yang kupersiapkan sebagai bagian dari caraku memantaskan diri. Dari hasil menabung sedikit demi sedikit pekerjaanku yang sering diremehkan orang, juga ada bantuan dari orangtua. Tak sedikit juga teman-temanku yang tak percaya, aku mampu melakukannya meski dengan gaji yang mereka bilang tak cukup.

Orangtuaku semakin menua, begitupun juga aku dengan seiring berjalannya waktu. Kebersamaanku dengan mereka juga tidak tahu akan sampai kapan. Aku tidak bisa terus-terusan memberi makan rasa egois dan iriku. Aku masih punya dua tangan, dua kaki, akal dan pikiran dari Tuhan. Masih ada jalan dari Tuhan yang memang masih misteri bagiku. Meski dalam hidup yang serba terbatas, aku harus tetap berkarya meski dalam sela-sela pekerjaanku meski aku tidak bisa kemana-mana saat ini.

Aku tidak tahu apa yang teman-teman alami sampai saat ini. Tapi kita harus percaya, untuk hidup yang serba tak tertebak ini, selama doa orangtua selalu ada, selama diri sendiri tak menyerah, selama diri tetap mengandalkan Tuhan, keajaiban bisa terjadi tanpa diduga.

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya

Advertisement

“Artikel ini merupakan kiriman dari pembaca hipwee, isi artikel sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.”

Berikan Komentar

Tim Dalam Artikel Ini

Penulis

Bukan sekedar hobi melainkan memberi arti.

CLOSE