Suatu ketika dalam benak saya teringat akan kejadian lampau saat masih anak-anak. Entah berapa tahun sudah tepatnya. Saya berada di rumah tetangga dalam rangka menghadiri selamatan. Kala itu siang hari cerah dan tentu saja gerah. Para tamu sudah berdatangan dan duduk bersila berdampingan.

Seperti kebanyakan budaya malu ketimuran, ruang kosong di dalam rumah masih banyak. Orang-orang lebih nyaman duduk di dekat pintu dan dipojokan. Takutnya nanti disuruh baca doa, padahal doa tidur saja kadang lupa. Sosok yang ditunggu-tunggu pun datang. Seorang ustadz atau seorang tokoh agama atau apapun namanya. 

Advertisement

Layaknya seorang tokoh masyarakat berpengatahuan religi mumpuni, penampilannya serba putih mengenakan gamis. Acara belum dimulai, perut saya sudah meronta meminta tumbal. Para tamu sedang asyik bincang siang saat itu. Tak ketinggalan tokoh agama yang baru datang tadi. Singkat cerita yang paling saya ingat dari perbincangan hangat itu adalah “daripada anak saya pacaran lebih baik dinikahkan saja langsung” ucap orang itu dengan penuh keyakinan. 

Rasanya tak ada hal lain yang saya paling ingat selain perkataan itu. Bahkan makan apa saya pas selamatan pun saya sudah lupa. Sepertinya ada hal yang menarik dari perkataan sang tokoh agama tadi sehingga teringat sampai sekarang dan tiba-tiba muncul ke permukaan seolah menemukan pancingan.

Masih dalam perjalan hidup yang sama, beberapa tahun sebelumnya saat remaja. Ketika fungsi-fungsi otak saya sudah berjalan semestinya tetapi kadang tidak dipakai dan saat mengenal segala bentuk kedewasaan.

Advertisement

Jujur saja mungkin sebagian besar dari kita mulai tertarik dengan sebuah hubungan di kala remaja, anggaplah kisaran umur 10 tahunan ke atas, Sebenarnya dibawah dari itu juga ada tanda-tandanya, tapi tak lebih dari sekedar senda gurau. Setidaknya itu di zaman saya, sebelum akhirnya mengetahui kenyataan bahwa anak zaman sekarang sudah lebih dewasa dari umurnya. 

Kembali ke topik, kita paling menginginkan suatu hubungan terjadi saat remaja, memasuki masa sekolah atas dan rata-rata sudah pubertas. Keinginan itu tentunya semakin kuat. Begitu pula saya, saat SMA tentunya ada rasa ketertarikan dengan lawan jenis dan menjalin hubungan layaknya kisah FTV yang tayang tiap hari tak kenal waktu.

Lingkungan pun mendukung akan hal itu. Bahkan mungkin menjadi tekanan secara langsung kepada diri pribadi. Tiga tahun dilewati, saya tidak menemukan apapun. Sejengkal masuk ke hubungan pun tidak. Apa yang salah dengan saya? apakah saya titisan Patkay?.

Beralih dari kelam masa lalu pribadi menuju pandangan sosial yang umum. Secara sadar kita menginginkan hubungan. Seperti pengalaman saya dan beberapa dari anda bahwa masa-masa pengenalan. Pengenalan mengenai suatu hubungan yang timbal-baliknya sebatas sama-sama untung. Kita tahu akan hal itu, pertamanya. Menjalaninya tentu saja pastinya begitu gembira, mulanya. Lambat-lambat laun ada ketidakserasian dan berakhir kerugian. Baik satu pihak ataupun kedua belah pihak. Wajar, saat itu adalah fase pengenalan.

Semakin berpengalaman dalam menjalin hubungan dan lika-likunya, kita semakin mengingkan sesuatu yang lebih. Sebanding dengan tingkatan kedewasaan pikiran, ada hal yang perlu di lengkapi dan tak bisa hanya dilakukan seorang diri. Berlalu remaja, memasuki fase proses menuju kedewasaan. Belum dewasa sepenuhnya dan memiliki tanggung jawab seutuhnya. Proses inilah yang mungkin paling asyik diantaranya. Kebutuhan mengeksplor diri sedang bergejolak, tanggung jawab perlahan terlihat dan keinginan kuat untuk menjalin hubungan yang mengikat.

Masih dalam kehidupan saya, beberapa tahun silam itu saya rasakan. Merasa ingin menjalin hubungan yang dapat terus berjalan hingga maut memisahkan (halah, ini adalah kalimat paling bohong sejagat raya). Kenyataanya, saya masih terlalu pemula untuk membangun hal semacam itu. Utopia relasi yang saya coba bangun perlahan runtuh dan hanya menyisakan sedikit fondasi keyakinan. 

Keyakian bahwa sebenarnya ada hal yang tak selalu bisa untuk di harapkan terjadi di kenyataan. Seberapa pun berharap dan mempertahankan. Kembali, saya gagal dan gema suara Patkay terdengar di kepala. Hubungan saya berakhir dengan orang itu dan tak berselang lama tak sampai dua hari, ia menjalin hubungan dengan yang lain. Gema suara Patkay semakin kencang terdengar sekarang.

Ditengah-tengah hiruk pikuk tersebut, tiba-tiba sekarang semarak terdengar seruan nikah muda dimana-mana. Alasannya inilah itulah agar kamu bisa cepat menunaikan syariat. Suara tokoh agama masa kecil itu pun kembali menggema bersaing dengan suara Patkay di kepala. Tentunya jalan nikah untuk menghindari hal yan tak diinginkan sebenarnya salah. Tetapi ada saja yang dengan mudahnya bilang nikah pada remaja-remaja bahkan kepada anak dibawah umur. 

Seperti yang saya jelaskan mengenai fase-fase hubungan sebelumnya, ada hal yang belum bisa remaja dan anak-anak tangani dalam masa pernikahan. Kamu akan menemukan alasan ini ketika sudah masuk ke dalam kondisi seperti saya atau proses menuju dewasa.

Ketika hubungan tak lagi hanya sekedar suka sama suka. Jauh dari itu, tanggung jawab menyertainya semakin dalam hubungan tersebut. Paling tidak ada pertanyaan yang muncul di kepala saat dibilang “nikah muda atau cepat nikah” yaitu “siapkah kamu? bukan hanya fisik tapi juga mental”.

Saya bukan menghalangi anda untuk nikah muda. Silahkan saja, mau nikah mau enggak itu urusan anda, tanggung jawab anda. Tapi satu hal yang tak bisa saya terima adalah ketika pernikahan dijadikan alasan untuk menghindari zina, perbuatan tercela, maksiat, apalah sebagainya. Hei, pernikahan itu adalah hal yang mulia dan paling bermoral, jangan dijadikan alat untuk melegalkan perbuatan amoral.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya