Saya mungkin benar menyunggingkan senyum tatkala melihat beberapa orang yang sedang atau barangkali menghabiskan waktu bercengkerama bersama kawanannya, barangkali pula saya sedang merasa iri dapat menonton mereka, yang mungkin pula bahagia menghabiskan harinya bersama teman kampus: bergosip, makan di kantin, dan ada lagi yang mengeluh dengan skripsi yang tak kunjung usai.

Atau bisa jadi saya hanya mengejek mereka—menertawakan suatu hal yang mungkin dilupakan mereka: menelpon orang tua atau pula sekadar relaksasi di rumah. Ah, biarkan saja. Karena hidup ini memang begini, ucap saya setengah membela mereka dengan rutinitasnya.

Advertisement

Panas seperti hari-hari biasanya menyelimuti udara di Surabaya, jangan heran, dan jangan mengeluh, panas neraka lebih dari ini—kata seorang teman yang tiba-tiba nyeletuk saat saya mulai mengkerut merasa kegerahan. Surabaya, keras, dan panas, tapi romantis, saya menimpali. Teman saya hanya senyum, mungkin merasa geli dengan tanggapan saja. Biarlah.

Kamis siang ini, memang kami—saya dan Faqih sengaja duduk-duduk saja di kantin sambil meminum kopi pekat kesukaan kami berdua.

"Bro, zaman wes edan yo! Ada kecelakaan bukannya dibantu malah pamer kamera untuk foto dan disebar ke grup-grup WA. Ngalah-ngalahin wartawan aja, bilangnya sih biar up to date. Tapi yo kan gak gitu juga lah!"

Advertisement

"Namanya juga manusia zaman sekarang, bro! Apalagi di kota besar seperti Surabaya, sulit untuk menemukan orang-orang yang bisa saling membantu! Pengalaman pribadi sih, saya pernah jatuh, bukannya ditolong malah cuma diliatin aja, yaudah, memang sudah zamannya kayak gini, bro!"

"Ini nih lagi, saya kurang suka pas lagi reunian bareng teman-teman SMA, bukannya nostalgia, malah sibuk main hape, up date sana, up date sini, posting status di WA, Line, dan Snapgram, yang bikin kesakralan reuni hilang, bikin gak mood, dan ujung-ujungnya saya males sendiri."

Dan saya hanya menepuk bahu Faqih tanpa mengucapkan apapun. Memang benar, manusia zaman sekarang sudah terlalu apatis terhadap lingkungan sekitar, jarak antarmanusia semakin jauh, dan waktu terlalu cepat berlalu. Saya menghela napas, dan melipat koran yang ada di atas meja kantin.

Topik percakapan kami pun berlanjut, membahas hal-hal yang akhir-akhir ini terjadi di sekitar kami—topik mengenai perpolitikan Indonesia, pembahasan mengenai selebriti yang mencari sensasi, dan topik mengenai kami; mahasiswa. Pembahasan tentang kami sebagai mahasiswa menjadi topik yang seru untuk kami bahas.

"Lucu aja sih, bro! Kita kan mahasiswa yang katanya generasi milenial cerdas intelektual, tapi kok suka titip absen dan melakukan copycat sana sini untuk memenuhi tugas!"

"Sudah tahu dapat merugikan diri kita sendiri, tetapi malah sering dilakukan, ya bro?" timpal saya.

Memang benar, titip absen merupakan sebuah kebiasaan yang sering dilakukan oleh beberapa mahasiswa—barangkali juga saya termasuk di dalamnya, di mana hal tersebut merupakan sebuah korupsi kecil yang secara tidak sadar akan membentuk pribadi yang tidak jujur dan akan berpengaruh besar terhadap keadaan bangsa kita, bukan begitu?

Copycat, juga merupakan fenomena yang dapat merugikan diri kita sendiri dan tentu saja orang lain, dan apakah yang disebut dengan kecerdasan yang dimiliki oleh generasi milineal adalah kecerdasan untuk melakukan copycat? Sungguh, miris!.

Pembahasan akhir dari percakapan kami adalah: bahwa sejatinya manusia zaman sekarang—era milineal, sedang mencari kebahagiannya dengan kepuraan-puraan, sehingga secara tidak sadar mereka membentuk sebuah penyakit: kalian tahu kan maksud saya apa?

Setelah itu, Faqih berdiri meninggalkan saya sendiri dengan merenungkan sebuah pepatah:

"Homo homini lupus—to speak impartially, both sayings are very true; that man to man is an errant wolf."

Pembicaraan tentang manusia memang tidak ada habisnya, sebuah paradoks yang tidak akan ada akhirnya dan akan kembali ke titik semula. Ya, namanya manusia.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya