London merupakan negara pertama saya di Eropa, dan dari beberapa blog referensi yang saya baca dan berbekal dari referensi teman 1 kantor yang sebelumnya beberapa tahun sempat mencicipi beasiswa kuliah di London sangat menyarankan untuk mampir ke pasar tradisional di sana karena banyak barang barang dan makanan yang harganya lebih murah.

Karena prinsip travelling saya adalah Don't be a tourist, but be a local sehingga mengunjungi pasar tradisional sudah menjadi itinerary wajib saya. Menurut saya menikmati hal hal kecil seperti kehidupan sehari hari penduduk lokal mempunyai kenikmatan tersendiri, dan tidak saya pungkiri juga pasar tradisional juga sebagai tempat saya berburu oleh oleh untuk dibawa pulang ke tanah air.

Advertisement

Berbekal aplikasi citymapper dan google maps, akhirnya saya dapat menikmati 3 pasar yang membuat saya berdecak kagum karena apik, resik dan murah pastinya ditambah lagi dengan keramahan para penjualnya. Yang di jual di pasar ini pun beragam mulai dari hasil bumi, makanan, pernak pernik, bahkan sampai barang barang vintage yang langka.

Pesona pasar tradisional ini semakin bertambah karena pemandangannya yang indah dan tempatnya yang bersih sehingga betah saya untuk berlama lama disini. Karena waktu yang terbatas, perjalanan saya kali ini hanya terbatas di London dan Greenwich saja. Berikut 3 pasar tradisional yang sempat saya jelajahi

1. Borough Market

Advertisement

Pasar yang pertama kali saya kunjungi di UK. Pasar ini terletak di 8 Southwark St, London SE1TL. Untuk mencapai Borough market sangat mudah karena letaknya berada di pusat kota sehingga sangat mudah diakses dengan menggunakan transportasi umum. Pasar ini buka mulai pukul 10.00 – 17.00 (jangan lupa perhatikan waktu bukanya ya, jangan seperti saya kemarin yang datang terlalu malam sehingga ketika sampai disana ternyata sudah tutup).

Borough market merupakan salah satu pasar yang terkenal di kalangan para traveller dan merupakan salah satu tempat yang wajib dikunjungi. Bisa dibilang tempat ini bukan hanya sekedar pasar yang menjual berbagai jenis kebutuhan rumah tangga saja tapi juga sebagai tempat cuci mata yang sangat menyenangkan, karena interiornya yang semi outdoor serta desainnya yang membuat kita kembali ke jaman abad pertengahan memanjakan mata saya dan lensa kamera.

Sambil berkeliling pasar, semerbak bau makanan yang sedang dimasak juga sangat menggoda perut, mulai dari burger, paella, oyster bahkan sampai ke sandwich pun ada dan tidak perlu khawatir karena harganya cukup bersahabat dengan kantong dan porsinya lumayan besar sehingga bisa untuk sharing juga. Disini penjualnya juga ramah dan tidak segan segan untuk memberikan tester, jadi pembeli tidak kecewa.

2. Portobello Market

It's amazing how you can speak right to my heart, without saying a word you can light up the dark

Try as i may i can never explain, .. -Ronan Keating, When you say nothing at all-

Lagu lawas milik Ronan Keating ini kembali teringat dibenak saya ketika menginjakkan kaki di Nothing Hill gate. Yap, tujuan saya selanjutnya ke Portobello market yang letaknya di Nothing Hill dan lebih tepatnya di Portobello road. Pasar ini disebut sebut sebagai pasar barang antik yang terbesar di dunia.

Selain barang antik, pasar ini juga menjual sayur dan buah buahan. Sepanjang jalan dari Nothing Hill menuju portobello market, mata saya dimanjakan oleh deretan rumah dan toko toko kecil yang berwarna warni dan beruntung saya kesini saat pasar belum ramai pengunjung. Tak sadar ternyata hari mulai gelap dan langit senja musim gugur di portobello market semakin menambah cantiknya Nothing Hill bersanding dengan rumah berwarna warni.

Pernak pernik cantik, baju, kartu pos, dan barang barang koleksi lainnya (bisa dijadikan oleh oleh juga) bisa ditemukan disini dengan harga yang tidak menguras kantong. Seperti 1 set tea gift yang terdiri dari English breakfast, Earl Grey dan English Afternoon tea yang saya beli untuk oleh oleh dengan harga jauh lebih murah daripada ditempat lainnya dan langsung saja saya beberapa untuk teman teman di Jakarta. Sesampainya di Jakarta, teh ini ternyata menjadi favorit teman teman dan saya sendiri. Memang teh Inggris rasanya berbeda dengan teh teh lainnya, makanya #ayokeuk

3. Greenwich Market

Pasar ini merupakan pasar terakhir yang saya kunjungi. Letaknya di Greenwich town central, sekitar 20 menit dari central London agak jauh memang tapi jelas worth it untuk berkunjung kesini. Pasar ini juga merupakan pasar semi outdoor dan hampir mirip dengan portobello market yang menjual barang barang antik. Pasar ini dibagi menjadi 2 bagian, di bagian depan terdapat stand makanan sedangkan dibagian dalam menjual barang barang antik mulai dari lukisan, scarf, sampai dengan sepatu dan terdapat beberapa kafe kecil.

Nuansa romantis sangat terasa di kafe kafe kecil yang hanya bisa memuat beberapa orang saja didalamnya, selain itu aroma harum dari kue yang dipanggang juga menambah kenikmatan sendiri saat menyusuri pasar. Di pasar ini juga terdapat sebuah restoran yang terkenal yaitu Pie and Mash (Traditional Pie & mash with eels) tapi sayang saya belum sempat mencoba pie and mash yang terkenal itu, tapi jika saya kembali lagi ke UK, restoran ini akan masuk di wish list saya, ahhh.. doakan saja supaya bisa terwujud #AyoKeUK #WTGB #OMGB.

Negeri Ratu Elizabeth ini memang sejak dulu mengundang decak kagum saya dan menjadi salah satu travel bucket list saya sejak dulu. Beruntung saya sempat menjejakkan kaki di London dan berharap suatu hari nanti untuk dapat kembali ke sini lagi dan berharap bisa lebih lama menikmati negara yang penuh dengan sejarah klasiknya ini.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya