Bertemu denganmu, lalu jatuh cinta kepadamu. Caramu berbicara dan bercerita kepadaku membuatku terus memikirkanmu. Kau yang selalu berusaha berkabar denganku membuatku semakin ingin selalu tahu kabarmu. Aku memang bukan orang yang bisa mengungkapkan perhatian dan kepedulian kepada orang yang telah membuatku jatuh hati. Lucu memang, tetapi ya begitulah diriku, terlalu takut untuk peduli.

Semakin hari, semakin menjadi jadi rasa ini, degupnya tak lagi setenang dulu saat pertama kali bertemu denganmu. Hingga aku yakin bahwa aku telah jatuh hati padamu. Namun ku hanya bisa berharap dalam hati dan terus mengaharap kabarmu. Hingga pada suatu hari kau mulai menjauh dariku, dan tiba-tiba terdengar kau telah mendapatkan tambatan hatimu.

Sakit? Kecewa? Marah? sudah pasti, namun apa daya, aku hanya bisa memendamnya dalam hati, tak ada yang bisa ku salahkan kecuali diriku sendiri yang dengan mudahnya jatuh hati kepadamu. Tidak, kau tidak akan pernah bersalah, karena kau belum pernah berjanji apapun kepadaku. Kau hanya telah berhasil membuatku nyaman di dekatmu dan membawaku terbang memumbung tinggi. Hingga aku tak sadar kau tiba-tiba pergi dan aku meringkuk bersama sepi. Ah yasudahlah mungkin kau memang bukan untukku. Namun, sampai saat ini, setelah aku telah berusaha singgah di beberapa hati, masih saja hati kecilku menginginkanmu. Entahlah apa yang bisa membautku sebegitu sulitnya melupakan kenangan bersamamu yang sebenarnya belum menjadi siapa-siapaku.

Sampai tiba-tiba ku dengar kau sudah tak lagi bersama tambatan hatimu itu, dan muncul kembali harapku. Ternyata kita tidak bisa lagi seperti dulu, aku terlalu sibuk membuat benteng di antara kita walaupun aku sadar sebenarnya hati kecilku masih saja menginginkanmu. Kali ini harapku hanyalah sekedar ingin terus menjadi temanmu yang sering kau bagi ceritamu dan melihat lengkung indah di bibirmu. Nyaman, memang nyaman sekali ketika ada di dekatmu, tak pernah lelah aku mendengar ceritamu. Aku senang melihatmu bahagia walaupun bukan karenaku, asalkan kau tak pernah membahas dan membawa dia tambatan hatimu yang baru di depanku.

Yang terpenting sekarang adalah aku masih bisa terus bersua denganmu, karena nyamanku di dekatmu tak bisa lagi terganti. Bohong besar memang jika aku ikhlas kau bahagia bersama orang lain, tentu tidak….hati kecilku tetap berharap pada akhirnya kau akan bahagia hanya denganku.