Old But Gold. Kisahku Tentang Mengungkapkan Perasaan Ke Orang yang Dicintai Menggunakan Surat

Apa yang terbesit di kepala kita ketika mendengar kata cinta? Pasti akan timbul banyak definisi dari kita tentang apa itu cinta. Para pujangga pun bahkan belum bisa dengan pasti menjelaskan apa itu cinta dan banyak perbedaan di antara mereka. Yang pasti, cinta adalah sebuah anugerah yang diberikan tuhan kepada setiap manusia. Cinta bisa seperti sebuah krayon yang memberikan warna di hidup kita. 

Advertisement

Cinta bisa menghasilkan banyak warna, seperti bahagia, sedih, semangat, harapan dan lain-lain. Tanpa cinta, hidup ini akan terasa hampa. Semua kita pasti pernah merasakan jatuh cinta. Dan salah satu fase di mana orang mulai mengenal cinta adalah di bangku SMA. Ini bisa dimaklumi karena di fase itu seseorang sedang mengalami masa pubertas. Hormon dopamin yang merupakan hormon penghasil rasa senang (jatuh cinta) sedang tinggi-tingginya.

Ketika orang sedang jatuh cinta, banyak hal aneh dan unik yang seringkali tanpa disadari kita lakukan. Semisal, pura-pura menjadi orang yang humoris padahal aslinya garing, selalu mengutamakan si dia di atas kepentingan pribadi, sampai rela menjadi orang yang terlihat bodoh asal si dia tertawa dan masih banyak lagi. 

Salah satu hal menarik dan menantang pada seseorang yang sedang jatuh cinta adalah bagaimana cara dia menyatakan perasaan ke orang yang dia cintai. Ini menjadi krusial karena cara menyatakan perasaan ini menurut saya menjadi salah satu poin diterimanya perasaan tersebut. Menurut saya sih, semakin unik cara menyatakan perasaanya, makin besar peluang untuk diterima. Menurut saya ya.

Advertisement

Ternyata apa yang saya yakini itu tidak berlaku untuk saya. Padahal saya sudah mencoba untuk menyampaikan perasaan dengan cara yang unik, tapi hasilnya ternyata berbeda dengan apa yang saya yakini sebelumnya. Ya, saya menyampaikan perasaan itu melalui surat. Kenapa saya memutuskan menyampaikannya melalui surat? Dan kenapa cara unik tersebut gagal?

Kalau saya ingat-ingat kenapa saya memutuskan untuk menggunakan surat sebagai media menyampaikan perasaan, Pertama, saya adalah orang yang pemalu. Saya bukan tipe cowok yang lidahnya ringan dalam menyampaikan perasaan ke seseorang. Seperti ada yang mengunci lidah saya untuk berkata secara langsung kalimat saya cinta kamu.

Advertisement

Kedua, saya tidak mau jadi orang yang mainstream. Hampir semua orang yang saya kenal, mereka menyatakan perasaanya kepada orang yang dicintai lewat bertemu langsung atau nembak lewat pesan elektronik seperti sms atau bbm (pada masa itu). Saya tidak mau pakai cara itu karena merasa itu biasa dan sangat tidak keren. Saya mencari cara lain dan akhirnya ketemu, yaitu menggunakan surat.

Ketiga, ada filosofi yang saya yakini dalam menyampaikan perasaan melalui surat. Filosofi saya adalah ketika menggunakan surat, kita akan terlihat apa adanya. Itu bisa dibuktikan dari tulisan tangan di surat tersebut. Di surat cinta saya, itu asli goresan pena tangan saya. Walaupun memang tulisannya seperti cakar ayam, tapi itulah saya. Tidak ada yang saya tutupi.

Dan tentang kenapa akhirnya perasaan saya tak terbalas walaupun menggunakan cara yang unik, pertama, karena dia sudah dekat dengan orang lain. Kedua, mungkin dia tidak mau punya pasangan yang tulisan tangannya jelek seperti saya. Atau yang ketiga, tulisan di surat saya tidak bisa terbaca sehingga dia nggak tau maksud saya dalam surat itu. Mungkin, tidak ada yang tau karena surat itu tidak pernah kunjung mendapat balasan.

Tertarik mengungkapkan perasaan melalui surat? Saran saya perbaiki tulisan tangan kalian terlebih dahulu agar tidak bernasib seperti saya.

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya

Advertisement

“Artikel ini merupakan kiriman dari pembaca hipwee, isi artikel sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.”

Berikan Komentar

Tim Dalam Artikel Ini

Penulis

Biasa dipanggil Dhafin. Seorang mahasiswa Hubungan Internasional di Universitas Mataram. Mencintai dunia kepenulisan sejak SMA dan menulis berbagai macam tulisan bertema islam, sejarah dan isu terkini.

CLOSE