Tidak Ada yang Lebih Menyakitkan Daripada Orang yang Memanfaatkan Ketulusan Orang Lain, Lantas Meninggalkannya Begitu Saja

Aku pernah berada pada posisi di mana aku tidak memiliki satu orang pun yang aku percaya. Aku berpikir, mungkin tidak ada orang yang bersedia untuk menjadi temanku dan menerimaku apa adanya. Mulanya aku mencoba untuk menikmati kesendirian ini dengan lapang dada. Tanpa teman sama sekali tentunya.

Advertisement

Aku memang hanya manusia biasa yang memiliki kekurangan di mana-mana. Mungkin wajar saja jika tidak ada orang yang tertarik untuk menjadi temanku. Aku cenderung tertutup dan lebih suka menarik diri dari pergaulan. Mungkin itu sebabnya kenapa aku sulit sekali untuk dekat dengan orang lain.

Sampai akhirnya aku mengenalmu dan matamu menyiratkan tanda seolah kamu berkata Mari kita berteman!

Aku menyambutmu dengan gembira. Aku kira, selamanya aku akan hidup tanpa satu orang pun kawan. Tapi, Tuhan memang Maha Baik dalam segala hal. Dia mengirimku seorang kawan yang mampu mengisi hari-hariku yang biasa-biasa saja. Bagiku, tidak apa hanya memiliki satu orang teman dari pada tidak ada sama sekali. Begitu baik karunia yang Tuhan berikan kepadaku. Aku merasakan duniaku semakin lengkap dengan kehadirannya. Aku berjanji akan menjadi teman yang baik bagimu.

Advertisement

Aku tidak tahu bagaimana menjadi teman yang baik dan tidak membosankan. Tapi, aku berusaha untuk selalu ada ketika kamu membutuhkan kehadiranku. Aku juga tidak pernah merasa keberatan jika kamu meminta bantuan apa pun dariku. Apa pun yang kamu minta, aku selalu berusaha untuk mengabulkannya. Apa lagi jika kamu sedang berada dalam kesulitan, maka aku akan menjadi orang pertama yang hadir sebagai penolongmu. Perintah apa pun yang kamu suruh, aku pasti langsung melaksanakannya. Bagiku, kebahagiaan temanku adalah kebahagiaanku juga. Aku tulus dan ikhlas melakukan apa pun yang kamu mau. Aku tidak ingin kehilangan kesempatan ini, aku tidak mau kehilangan satu-satunya teman yang aku miliki.

Semakin berjalan hari-hari yang kita lalui, aku mulai merasakan kejanggalan.  Permintaanmu semakin mengada-ada dan tidak jarang aku merasa tidak sanggup mengabulkannya. Jika permintaanmu tidak dituruti, kamu mulai memasang wajah yang tidak enak kulihat. Kamu pun selalu mengungkit-ungkit janjiku yang dulu kalau aku akan menjadi temanmu selamanya. Selain itu, kamu selalu menggunakan kalimat andalanmu yaitu Mana kesetiaanmu sebagai teman? Tidak ada yang bersedia menjadi temanmu selain aku!

Advertisement

Menyakitkan sekali mendengar kata-kata itu. Tidak kusangka kalau ternyata kedatanganmu hanya ingin memanfaatkan diriku yang kurang pergaulan ini. Sudah banyak waktu dan materi yang telah aku berikan demi dirimu. Tapi sayangnya, ketulusan dan keikhlasanku selama ini tidak berarti apa-apa bagimu.

Dan sudah kutebak, kamu tidak sudi lagi untuk menjadi temanku dan akhirnya perlahan meninggalkanku dengan hati yang remuk redam. Kini aku kembali sendiri. Apakah ada orang yang mau berteman denganku lagi?

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya

Advertisement

“Artikel ini merupakan kiriman dari pembaca hipwee, isi artikel sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.”

Berikan Komentar

Tim Dalam Artikel Ini

Penulis

Masih berusaha untuk menulis ditengah kesibukan mengurus anak

CLOSE