Pada dasarnya semua orang menyukai hal-hal yang menyangkup kenyamanan. Hal-hal tersebut bisa termasuk pergaulan, lingkungan, dan hal-hal lain yang membuat anda merasa seperti dirumah. Perasaan ini bernama zona nyaman. Pada saat berada di zona nyaman, memang membuat manusia merasa santai, bebas dari tekanan, fleksibel, senang, dan bebas. Zona nyaman membuat manusia tidak ingin keluar dari zona tersebut dan ingin terus berada disana karena mereka merasa nyaman. Namun, apakah menetap di zona nyaman hal yang baik bagi kita?

Pada kenyataan, tanpa anda sadari menetap di zona nyaman membuat manusia sulit untuk maju dan berkembang. Mengapa begitu? Menetap di zona nyaman secara tidak langsung membuat manusia melakukan hal-hal yang sama. Seperti rutinitas setiap hari. Dengan melakukan aktifitas-aktifitas atau hal-hal yang sama setiap hari, maka manusia akan sulit untuk berkembang, maju, dan mengalami pengalaman yang baru. Mengalami pengalaman baru  membantu anda untuk berkembang dan maju karena anda belajar sesuatu yang baru dan mengelami hal-hal berbeda. Sehingga anda mendapatkan pelajaran dan inovasi baru yang diterima.

Advertisement

Contoh yang baik dari keluar dari zona nyaman adalah pergi ke lingkungan yang baru , bergaul dengan orang-orang yang baru, dan melakukan hal-hal yang baru. Tiga hal ini dialami oleh seseorang yang mengikuti program CISV di negara Denmark. Orang tersebut bernama Nataja Azalee Prameswara, dengan panggilan nama Aylee. Ia mengikuti program CISV di negara Denmark. Program CISV adalah program yang ditemukan pada tahun 1951 oleh Doris Twitchell Allen.

Program ini bertujuan untuk mengedukasi dan menginspirasi anak-anak remaja untuk melatih mereka menjadi orang yang lebih baik dan ingin membuat dunia ini dunia yang lebih damai dan lebih baik. Anak-anak remaja yang ikut program ini tidak hanya dari satu negara tapi dari seluruh dunia. Program ini diselenggarakan di berbeda-beda negara juga.

Setelah melakukan wawancara dan mengobrol mengenai pengalamannya saat mengikuti program CISV, penulis dapat memahami lebih dalam mengenai apa yang dialami oleh Aylee. Penulis dapat menggambarkan kegelisahan dan perasaan tidak nyaman yang dialami oleh Aylee. Namun penulis juga dapat memahami dan menggalih lebih dalam cara mengatasai perasaan tidak nyaman saat ingin keluar dari zona nyaman.

Advertisement

Pertanyaan pertama yang penulis lontarkan adalah “Apa sajakah pengalaman kamu saat ikut CISV?”. Jawaban dari pertanyaan tersebut adalah “Pada saat aku ikut CISV, salah satu hal yang aku rasain itu adalah homesick karena merasa kangen dengan rumah, negara sendiri, dan juga teman-teman aku”. Dijawabannya, Aylee menjelaskan bahwa ia merasa kangen dan tidak nyaman karena jauh dari rumah, negara sendiri, dan juga teman-temannya.

Penulis lanjut menanyakan pertanyaan kedua yaitu “Mengapa kamu bisa merasakan hal-hal tersebut?. Aylee pun menjawab “Saya merasa gelisah dan tidak nyaman karena sudah terbiasa dengan suasana rumah dalam keseharian. Jadi, kalau jauh rasa kangennya muncul.” Aylee menjelaskan bahwa ia kangen dengan suasana rumah. Ia sudah terbiasa dengan lingkungan rumahnya sehingga ia merasa nyaman. Namun, kondisinya berbeda pada saat ia ikut CISV. Lingkungannya pun berbeda, orang-orang yang ia temui juga beda, dan bahasa yang ia gunakan juga berbeda dari bahasa yang ia gunakan sehari-hari di Indonesia.

Pertanyaan ketiga yang penulis lontarkan adalah “Bagaimana cara kamu mengatasi masalah ini?” Aylee pun menjawab “Cara aku mengatasi kegelisahan adalah dengan mencoba menikmati keadaan yang ada pada saat itu. Aku juga mencoba untuk menyibukkan diri agar pikiran aku teralihkan dari pikiran rumah.” Aylee menjelaskan bahwa cara ia mengatasi rasa tidak nyaman dan kegelisahannya adalah untuk menikmati perjalanannya disana dan untuk membuat dirinya sibuk melakukan banyak hal. Mengapa demikian? Karena kalau anda sibuk dengan suatu hal, pasti saja anda lupa dengan hal lain, anda akan terpaku dengan kesibukkan yang anda lakukan.

Penulis lanjut menanyakan pertanyaan keempat yaitu “Siapa yang membantumu untuk mengatasi masalah tersebut? Ada gak yang ngebantu untuk ngelupain perasaan tidak nyaman itu?” Aylee menjawab “Ada, yaitu delegasi aku sendiri. Karena mereka yang membuat aku melupakan semua keresahanku. Mereka juga membuat aku tetap sibuk disana. Delegasi saya bernama Akbar, Dio, dan Aurin.” Aylee menjelaskan bahwa delegasi dari program CISV sangat membantu dia untuk melupakan semua keresahan dan rasa tidak nyaman yang ia alami pada saat itu.

Untuk pertanyaan selanjutnya, penulis menanyakan “Di negara mana kamu ngikutin program CISV?” jawaban yang Aylee berikan adalah “Di Denmark”. Dengan jelas, bisa diketahui bahwa Aylee berada di negara yang jauh dari tanah air dan bahasa yang digunakan juga sangat asing. Pertanyaan selanjutnya adalah “Kapan kamu mengikuti program CISV?”. Aylee menjelaskan “Pada saat saya kelas 6 SD, pada tahun 2015.” Dapat dilihat Aylee mengikuti program CISV pada saat usia yang sangat kecil. Mengatasi perasaan homesick bisa dibilang cukup sulit untuk anak yang masih menduduki kelas 6 SD.

Mengatasi rasa gelisah, resah, dan tidak nyaman adalah hal yang sangat sulit. Apalagi untuk anak yang umurnya masih kecil. Namun, semua itu dapat diatasi. Walaupun sulit, tapi tidak ada yang tidak mungkin. Kesimpulannya adalah, keluar dari zona nyaman adalah sesuatu hal yang menyenangkan. Walaupun memang susah mengatasi rasa gelisah, resah dan tidak nyamannya namun sekalinya anda dapat mengatasi hal-hal tersebut, perasaan yang anda rasakan akan sangat indah.

Anda akan merasa bangga dan lega. Keluar dari zona nyaman juga berarti anda akan mengalami hal-hal yang anda belum pernah alami sebelumnya dalam hidup anda. Dengan adanya pengalaman baru, maka anda akan menambah wawasan dan belajar hal-hal baru. Ini akan membiarkan kalian untuk berkembang.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya