"Kan ku ingat sepanjang hidupku"

Advertisement

Kau sentuh hidupku dengan kelembutan di malam itu, harapanku adalah perintahmu hingga kamu kehabisan apa itu yang di sebut orang orang dengan kata cinta tapi sekarang aku bisa bilang kepada diriku sendiri bahwa aku sekarang sudah bebas, aku sekarang punya kesempatan untuk hidup hanya untukku, dan bisa aku katakan dengan lantang kepada diriku sendiri bahwa aku tidak perlu pulang buru buru karena kamu telah pergi.

Tajam, 'ya tajam sekali bagaikan pisau yang menyayat hingga menimbulkan luka yang teramat dalam. Begitulah pula luka yang kau sayatkan padaku semenjak kejadian itu, seperti kau potong hati dari hidupku, ketika aku pura-pura dengan menunjukan sebuah senyum untuk menipu sahabat-sahabat dan semua keluargaku, aku hanya bertanya-tanya apakah mereka tahu jika ini hanyalah pertunjukanku di depan mereka?

Siang malam aku amati teka-teki ini, namun bagaimana mungkin bisa aku sembunyikan dari mataku? Pastilah tidak bisa. Awalnya aku takut, aku ketakutan. aku terus berpikir bagaimana mungkin aku bisa hidup tanpamu. Aku habiskan banyak sekali detik, menit, jam, hari, malam untuk memikirkan betapa kamu salah menilaiku hingga sekarang aku menjadi kuat, dan dari waktu waktu yang ku habiskan aku belajar bertahan, ya aku akan terus bertahan selama aku tahu cara untuk mencinta aku akan terus hidup karena aku punya hidup yang harus aku jalani, dan aku punya cinta untuk aku berikan pada sosok yang tepat.

Advertisement

Teringat jelas saat kejadian itu terjadi, tak sedikit pun tampak raut wajah duka di wajahmu dalam kejadian itu seolah kamu sudah melupakan semua yang telah aku lakukan dan aku perjuangkan bertahun tahun padamu karena mungkin kamu sudah menemukan sosok baru dalam hidupmu walaupun kamu tidak memberitahuku tetapi sangat jelas terlihat bahwa semua yang aku pikirkan itu benar, tak sedikit pun aku tahan keinginanmu untuk menyudahi hubungan kita, aku diam, aku hanya diam dan mengiyakan apa yang kau inginkan tetapi tahukah kamu di dalam diamku itu terjadi gejolak yang begitu dahsyat semua yang ada dalam pikiran seperti saling berbenturan seakan tak menerima keputusanmu yang sebenarnya membuat emosi jiwaku meronta ingin melampiaskan segalanya pada saat itu, tapi hanya aku kuatkan hati untuk tetap tenang dan bersabar menerimanya hingga semua itu berkumpul menjadi sebuah dendam, dendam yang mungkin tak bisa aku maafkan seumur hidupku sehingga berkumpul menjadi satu berubah menjadi sebuah do'a. Do'a yang bagiku sangat buruk.

Oh Tuhan maafkan aku yang pendendam ini, tapi aku hanyalah manusia bisa yang tak luput dari segala bentuk kekurangan, aku selalu mendoakan sesuatu yang buruk terjadi padanya, semua aku panjatkan setiap detik, menit, jam, hari, malam seiring aku berpikir bahwa kau salah menilaiku.

Saat itu memang aku belum bisa menuruti semua yang kamu inginkan sehingga kamu dengan mudahnya menghardikku karena kamu tak pernah mencoba berada di posisiku.

''Silaturahmi" ya kata-kata jangan memutuskan tali silaturahmi yang selalu kamu gadang gadangkan sekembalinya kamu kembali menghubungiku dan meminta maaf setelah kejadian beberapa waktu lalu, seakan tak peduli dengan kata-kataku bahwa jangan pernah menghubungiku walaupun hanya sebatas silaturahmi, karena hanya akan mengorek luka yang telah kau buat padaku dan keluargaku, begitu mudahnya kau memnanggap semua yang telah terjadi itu bagaikan goresan pensil yang mudah dihapus dengan penghapus, tahukah kamu bahwa seumur hidupku aku tak akan pernah bisa memaafkanmu, hingga aku terus memasukan bisikan bisikan dalam pikiranku bahwa aku tidak akan pernah lagi menjumpaimu.

Tapi aku juga tidak bisa menghindari takdir dari Sang Kuasa jika kita suatu saat akan dipertemukan di waktu dan keadaan yang berbeda, karenanya telah kupilih jalan ini, jalan di mana untuk menghindar darimu, dan terus berusaha menjadi aku yang lebih baik, aku yang kuat, aku yang lebih dan lebih dari aku yang saat itu. Sehingga aku telah siap kembali, kembali untuk menunjukan seutas senyum padamu untuk memberitahumu bahwa aku bisa, aku bisa menjalani hidup yang jauh lebih baik dengan atau karena tanpamu. Selamat tinggal masa lalu dan semoga aku bisa menciptakan senyum itu untuk aku persembahkan kepadamu pada saatnya.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya