Pala Siau, Komoditas Kualitas Mancanegara dari Ujung Sulawesi

Bagi anak-anak pulau Siau, Sulawesi Utara, menghasilkan uang saku tidaklah terlalu sulit. Cukup datang ke kebun, kumpulkan buah-buah pala yang berserakan di tanah, lalu membawanya ke warung langganan. Pemiliknya akan menimbang hasil mereka, dan keinginan mendapatkan jajan pun terpenuhi.

Advertisement

Ya. Semudah itu. Tanpa perlu merengek-rengek ke orang tua, anak-anak pulau Siau secara mandiri bisa mengasilkan pendapatannya sendiri, hanya melalui buah pala.

Tidak perlu mempertanyakan legalitas hasil panen anak-anak pulau Siau tersebut. Hal ini dikarenakan pemilik kebun telah memberi mereka izin. Kebun-kebun mereka bebas didatangi anak-anak dengan ketentuan hanya boleh mengambil buah pala yang jatuh ke tanah.

Anak-anak pulau Siau juga terlatih memilih buah berkualitas. Tak sulit-sulit amat bagi mereka memilah pala yang masih bagus, meski berserakan di tanah.

Advertisement

Kemampuan itu terasah dari sebuah kebiasaan yang disebut “Mangoepuru” (warga lokal menyebutnya singkat “Mangopur”), yang berarti panen pala yang jatuh di tanah. Ketika panen tiba, anak-anak pulau Siau ikut bersama orang-orang dewasa memanen. Mereka diajarkan untuk mengidentifikasi kualitas buah pala dari yang terbaik hingga biasa-biasa saja. Anak-anak Siau menjadi ahli karena kebiasaan turun-temurun.

Berbicara mengenai sejarahnya, pohon pala yang terdapat di Pulau Siau aslinya berasal dari Ternate. Bibitnya dibawa para leluhur Pulau Siau melalui jalur perdagangan. Dahulu, Kerajaan Siau merupakan bagian dari Kesultanan Maluku, yang mempengaruhi mobilitas perdagangan di antara keduanya, salah satunya buah pala.

Bibit tersebut ditanam oleh warga Pulau Siau. Hingga pada perkembangannya, pala berjenis Myristica Fragrans Houtt tersebut berhasil dikembangbiakkan serta memiliki kualitas lebih baik dari wilayah asalnya.

Buah pala asal Pulau Siau menjadi primadona dunia ketika diperkenalkan pertama kali oleh saudagar-saudagar Eropa ke negeri mereka. Aromanya begitu khas. Mutu minyak di dalamnya digemari warga di sana.

Pada buah pala mengandung senyawa myrisiticin dan macelignan yang bermanfaat bagi kesehatan otak. Senyawa tersebut juga dapat mengurangi kerusakan sistem syaraf otak dan fungsi kognitif yang diderita pasien alzheimer.

Minyak sejenis atsiri itu juga menimbulkan aroma yang khas, yang disukai masyarakat benua biru. Jadilah buah pala, khususnya asal Pulau Siau, sebagai salah satu komoditas paling mahal di negara-negara Eropa.

Akibat hasrat untuk memonopoli, para penjelajah Eropa berlomba-lomba berlayar ke Pulau Siau. Mereka rela terombang-ambing di lautan hingga berbulan-bulan membawa pasukan bersenjata demi menguasai pala asal Siau. Sejarah pun mencatat bahwa Portugis, Spanyol, dan Belanda saling serang satu sama lain, demi memperebutkan komoditas rempah-rempah tersebut.

Zaman berganti, Indonesia telah merdeka. Hingga kini, permintaan pala siau dari benua Eropa tidak pernah berkurang. Mereka menyebutnya “Siau Nutmeg”. Karena jenis tumbuhan pala di Pulau Siau memiliki produktivitas tinggi, hasil panennya mampu memenuhi kebutuhan masyarakat di Belanda, Jerman, Perancis, Italia, Rusia, Amerika, Selandia Baru, bahkan Mesir, dan Vietnam.

Di awal Februari 2021 ini permintaan pala siau di pasar eropa masih terbilang tinggi. Menurut Kabid Daglu Disperindag Sulawesi Utara, ekspor biji pala tujuan Italia mencapai 13 ton. Sedangkan ekspor fuli pala ke Belanda mencapai 20 ton. Total devisa yang dihasilkan dari ke kedua negara itu saja mencapai hingga 542.888 dolar Amerika Serikat.

Tujuh puluh persen perputaran uang di Pulau Siau, Sulawesi Utara, memang berasal dari buah pala. Dikenal luas hingga ke mancanegara pala siau terkenal akan kualitasnya yang nomor satu.

Para peneliti meyakini bahwa keberadaan Gunung Karangetang di Pulau Siau yang menjadikan tanahnya subur. Struktur tanah yang vulkanis mengandung fosfor, kalsium, kalium, dan magnesium yang cocok bagi jenis tanaman keras, seperti pala.

Buah pala adalah salah satu jenis rempah-rempah. Bentuknya bulat lonjong menyerupai melon, berdaging buah, dengan kulitnya berwarna cokelat muda. Saat panen, daging itu dapat langsung dikonsumsi, dan bijinya dipisahkan dari fuli atau kulit pembungkusnya. Setelah itu dijemur.

Proses pengeringan biji pala memakan waktu hingga delapan minggu. Kondisi alam di Pulau Siau tidak saja menghasilkan buah pala yang lebih baik dari wilayah asal, tetapi juga mampu menetralisir kandungan aflatoksin yang dapat memicu kanker di dalamnya.

Kandungan aflatoksin pada pala diyakini akibat proses pengeringan yang tidak sempurna. Oleh karenanya, warga Pulau Siau senantiasa memastikan biji pala yang dijemurnya kering sekering-keringnya.

Iklim cuaca di Pulau Siau juga menunjang bagi proses pengeringan biji pala hingga bersih dari aflaktosin. Ditambah dengan panas bumi yang terkadung di dalam Gunung Karangetang menjadikan kualitas pala siau sebagai primadona warga dunia. (Ed)

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya

Advertisement

“Artikel ini merupakan kiriman dari pembaca hipwee, isi artikel sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.”

Berikan Komentar

Tim Dalam Artikel Ini

Penulis

penulis konten dan novel

CLOSE