Panduan Bertemu Mantan Pacar untuk Pertama Kalinya: Baiknya Kenang atau Lupakan?

Panduan bertemu mantan untuk pertama kali

Setiap pasangan pasti ingin mendpaatkan hubungan yang langgeng dan awet. Ya walaupun tetap ada lika-liku untuk tetap bertahan dan selalu setia, begitu juga untuk pasangan yang menjalani hubungan jarak jauh atau LDR. Bagiku, LDR adalah momen pertama kalinya aku memiliki pasangan dan berkenalan dengan Apa itu pacaran? dan hal-hal lainnya.

Advertisement

Aku adalah orang yang bisa dibilang sangat malu waktu itu. Ketika aku menyukai seorang wanita, aku akan memendam rasa itu, tanpa pernah mengungkapkannnya. Ketika bertemu saja aku canggung dan gugup. Semenjak aku mengenalnya, sikapku mulai sedikit berubah. Aku baru mengenalnya sekitar 1 minggu. Mengenalnya di Twitter akibat aku salah mengenalinya. Aku mengiranya dia adalah kakaknya temanku, tapi setelah diteliti lebih lanjut, dia bukanlah kakak temanku. Aku sedikit malu akibat hal tersebut, namun tidak bagi dirinya. Dia menganggap hal tersebut biasa dan terkesan lucu.

Cerita berlanjut, dan kami akhirnya kenal lebih dekat dan aku memberanikan diri untuk menembaknya, dan secara mengejutkan dia menerimanya. Sejak saat itu, aku pertama kali punya pacar. Secara tidak langsung juga, kami menjalani hubungan LDR. Hanya berbeda kabupaten lebih tepatnya. Namun kisah itu akhirnya kandas 3 bulan setelahnya, dan aku tidak pernah bertemu dengannya.


Pertemuan dengannya pun terjadi setahun setelahnya, tepatnya pada saat tes ujian masuk universitas negeri. Pertemuan yang kiranya bukanlah sebuah pertemuan yang direncanakan sebelumnya, dan terkesan masih canggung. Terlebih dia waktu itu sudah bersama yang baru.


Advertisement

Pertemuan dengan mantan sebenarnya harus dikenang atau dilupakan? Menurutku bila kalian baru pertama kali berpacaran dan tidak pernah bertemu sama sekali, mungkin kalian LDR juga sama sepertiku, aku rasa kalian dapat  mengenang pertemuan itu. Dalam artian mantan kalian belum mendapat pasangan baru. Namun bila sudah mendapat yang baru, ada dua opsi, yaitu dikenang, atau dilupakan. Terlebih dalam pertemuan tersebut sudah mendapat yang baru, jadi bisa dibilang opsi untuk melupakan dan membuang jauh-jauh ingatan tersebut adalah kuncinya.

Aku paham, dia adalah cinta pertamaku, tapi perlakuan yang kuterima darinya membuatku harus dengan sangat melupakannya. Aku masih bersikap biasa, bak tidak terjadi apa-apa setelah itu. Perasaan kala itu campur aduk, antara excited bertemu dengannya untuk pertama kali dan sakit hati yang tak bisa diukur seberapa sakitnya. Tapi, life must go on, hidup tak harus berhenti ketika melihatnya bersama yang baru.

Advertisement

Bukan suatu halangan kehilangan dirinya, lagian masih banyak orang yang bisa diperjuangkan dibanding dirinya. Bisa dibilang aku dengan mudah dapat melupakannya. Namun melupakan hal tersebut bisa kubilang relatif. Tak semua orang bisa dengan mudah melupakannya. Ada beberapa tahapan yang harus dilewati seseorang untuk dapat benar-benar melupakan mantan yang baru pertama kali dilihatnya.

Kesimpulannya, kembali lagi ke kalian, apakah ingin melupakannya atau mengingatnya. Terkhusus bagi pasangan LDR yang nasibnya sepertiku, mungkin bisa mempertimbangkan perihal apa yang telah kujabarkan tadi. Aku lebih memilih melupakannya, namun apa daya aku terkadang masih mengingatnya bahkan aku sampai menuliskannya. Namun, dengan menuliskannya aku bisa lebih mudah untuk melupakannya. Karena dengan tulisan aku bisa meluapkan semua perasaanku dan mungkin sebagai tempat pelampiasanku untuk melupakannya.

Intinya, setiap orang punya caranya masing-masing untuk mengolah kenangan dengan mantan. Bisa dengan cara melupakan atau melupakannya. Itu kembali ke kalian semua.

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya

Advertisement

“Artikel ini merupakan kiriman dari pembaca hipwee, isi artikel sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.”

Berikan Komentar

Tim Dalam Artikel Ini

Penulis

Seorang mahasiswa yang menulis secara random, dan melihat dari segi lucu suatu permasalahan (mungkin) dan terkadang menulis serius atau menulis tentang kehidupannya,

Editor

Not that millennial in digital era.

CLOSE