Kenapa memantaskan diri dijadikan salah satu tolak ukur untuk mendapatkan segala sesuatu, bukan hanya jodoh, tapi juga impian dan masa depan? karena untuk sampai pada apa yang kita cita-citakan dibutuhkan perjuangan dan pengorbanan. Dan mustahil ada perjuangan dan pengorbanan, jika kita tidak memperbaiki dan memantaskan diri selama proses itu. Sebagai contoh, ketika kita ingin mendapatkan nilai A pada suatu mata kuliah, tentunya kita yang mungkin pada awalnya malas bangun pagi, harus membiasakan diri bangun pagi jika kuliah dimulai jam 8 pagi. Kita yang biasanya malas ke perpustakaan jadi rajin menghabiskan waktu membaca buku di perpustakaan mencari referensi, bahkan berbagai artikel berbahasa inggris dari jurnal internasionalpun kita baca tuntas meski dengan bantuan google translate.

Kemudian tentang impian dimasa depan, kitapun juga harus memantaskan diri bagi impian kita tersebut sejak hari ini. Karena apa yang kita miliki 5 atau 10 tahun lagi, ditentukan oleh apa yang kita lakukan dan upayakan hari ini. Jika mendambakan hidup yang mapan di masa depan, maka bekerja keras dan berdo’a adalah hal yang harus kita lakukan. Terlebih lagi, jika kita ingin hidup bahagia di akhirat, kita tidak boleh menjadikan kesibukan dunia sebagai alasan untuk mengabaikan beribadah kepada Tuhan. Iringi setiap usaha kita di dunia ini dengan berdo’a dan beribadah kepada Tuuhan, agar lelah kita jadi berkah dan kesuksesam kita dirahmati-Nya.

Advertisement

Maka pada akhirnya, apapun impian kita, tugas kita yang utama adalah memantaskan diri untuk impian tersebut. Sebab jika kita sudah memperbaiki diri dan memantaskan diri, maka Tuhan akan berikan yang terbaik untuk kita, meskipun terkadang tidak sesuai dengan apa yang kita harapkan, tapi percayalah, hadiah Alloh untuk kerja keras kita selalu yang terbaik.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya