Kring.. kring.. kringg.

Ponselku berbunyi,kucoba mengabaikan pesan yang ada, karena aku masih di kuasai oleh rasa ngantuk, setelah semalaman lembur mengerjakan tugas-tugas kuliah yang begitu banyak membuatku malas untuk beranjak dari ranjang empukku, sekilas aku mengabaikannya, tapi aku berfikir ‘ mana tau ada pesan yang penting dari kampus’ pikirku kembali. Kucoba melawan rasa ngantuk dan mencari dari mana asal bunyi yang mengganggu tidurku, setelah aku temukan ternyata pesan dari mama “ nak penyakit ayah kambuh lagi, sekarang lagi di rumah sakit umum Sidikalang” aku sangat sedih, tidak bisa berbuat apa – apa untuk membantu ayah. Aku masih berstatus mahasiswa di salah satu PTN di kota Medan, aku hanya bisa membantu ayah lewat doa dan suport agar mama tidak lelah untuk tetap merawat ayah. Ku putuskan untuk pulang ke kampung halaman setelah ku timang- timanang ayah lebih penting dari segalanya.

Advertisement

**

Aku menyayanginya dan sangat menyayanginya, ayah yang selama ini aku banggakan harus terbaring dirumah sakit karena sakit kangker, aku menangis tak bisa berbuat apa – apa untuk ayah. Kata dokter yang menangangi ayahku, usia ayahku tidak lama lagi, bagai di sambar petir aku mendengar perkataan suster tersebut. “ dokter bukanlah Tuhan, jadi tidak berhak bicara seperti itu terhadap ayahku, dia pasti baik-baik saja, dia pasti sembuh” bentak ku pada dokter. “ yah, klo seperti itu nak, kita berdoa saja supaya Tuhan memberikan kuasanya agar ayah anda bisa secepatnya sembuh, karna penyakit kangkernya bukan banya pada otak lagi tetapi telah menggerogoti seluruh tubuhnya termaksuk hatinya” . betapa curnya hatiku mendengar ucapan dokter tersebut, bagaimana mungkin aku bisa hidup tampa ayah.? Siapa yang akan menafkahi keluargaku .? bagaimana pula nasip adik-adik ku .? Ibu ku ..? yah, semuanya membuatku semakin sedih, aku taktau harus bagaimana lagi,hanya bisa menangis dan berharap ayah cepat sembuh.

Tiba –tiba aku di kejutkan oleh suara teriakan keras memanggil namaku

Advertisement

“Bang Franssss? “

Yah itu adek ku, si Kembar, Yanti dan Yanto. Mereka duduk di bangku SMA, kelas 3,yang sedang mengikuti UN. Dan aku di sambut pula dengan gadis kecil kesayanganku, Grace. Dia anak paling kecil yang sekarang sebentar lagi mengikuti UN kelas 3 SMP. Tak terbayangkan olehku, wajah manis adik- adik ku, bila tau penyakit ayah yang semakin parah, tapi ku coba tegar di hadapan adik- adik ku dan tetap memberikan semangat, walaupun sebenarnya hatiku sangat rapuh, bahkan hancur berkeping- keping.

“ Kalian datang? bersama siapa? Mama mana?’ tukasku pada mereka

“ Ibu sedang kerja bang, jadi tidak bisa ikut menemani kita’’ kata Yanto

“ Eh, ada dokter, dok gimana keadaan ayah saya?’’

Pertanyaan itu membuatku terkejut, sesegera mungkin aku menjawap pertanyaan adikku sebelum dokter menjawabnya.

“ Dek, ayah baik- baik saya ,Cuma ayah kitalagi butuh istirahat yang banyak dan perawatan intensif, biarayah cepatsembuh, yakan Dok?‘’ ujarku untuk meyakinkan adik- adik ku.

“ Iya nak,’’ sahut dokter tersebut sambil pergi meninggalkan kami.

Di rumah, pagi itu nampak sibuk, adik adik ku yang akan berangkat sekolah untuk mengikuti ujian, dan mama yang sibuk berkemas untuk menjenguk Ayah, karena semalaman aku yang jaga, dan akan di gantikan dengan mama.

Tiba-tiba ponselku berdering.

Kringg kringg kringg

Panggilan masuk

“Halo, selamat pagi. Ini siapa?”

“Halo, selamat pagi kembali, kami dari pihak rumah sakit, Dokter Liana, ayah anda dalam keadaan sekarat dan di bawa ke ruang UGD, secepatnya anda kemari.”

“ Baik dok,” jawabku

Sebenarnya aku sudah hampir pingsang mendengar kbar buruk dari dokter, tapi aku tidakmenunjukkan hal itu di depan adik adik ku. Apalagi mereka akan mengikuti UN, bisa saja mereka jadi tidak fokus nantinya terhadap Ujiannya karena terlalu memikirkan keadaan ayah, ku kumpulkan semua tenangaku untuk tetap tegar dan kusuruh adik- adik ku secepatnya berangkat sekolah agar tidak terlambat, dan aku bersama mama pergi ke rumah sakit lagi. Sesampainya disana sesuatu yang tidak aku harapkan terjadi pada ayahku.

“ Dok, bagaimana dengan ayah saya?”

“Kamu yang sabar yah nak, bu, Ayah mu sudah tidak ada barusan ayah mu meninggal, anda bisa melihat di ruang UGD, setelah semuanya selesai di bereskan, kami telah berusaha semampu kami, tapi penyakitnya telah menghantam organ dalam, jadi tidak dapatdi selamatkan lagi,dia telah menghemnuskan nafas terakhirnya”

Aku lari memasuki ruang UGD, kudapati ayahku yang sedang tidur terlelap, ku goyang- goyangkan tubuhnya, seakan aku tidak percaya dengan apa yang terjadi.

“ Ayaaaaaaaaaahhhhhhhhhhhh , bangun ayah, ini aku yah Frans, bangun ayah, ayah masih hidupkan .? ayah bangun..ini aku yah, anak ayah, ”

Tapi semua usahaku untuk membangunkan ayah terasa sia sia, kulihat mama di sampingku ikutmenangis, mungkin aku harusmengiklaskan semuanya terjadi, selama hidup ayah diasudah cukupmenderita dan tersiksa atas penyakit yang di deritanya. Mungkin aku harus cukut kuat dan iklas menerima semuaini.

Ku peluk mamaku dengan erat dan mencoba menguatkan dia, mama selama ini cukup sabar merawat ayah, selama bertahun tahun.

“ mamaaaa,,, ayah sudah tidak aja, kita harus lebih kuat lagi mengalani ini semua meski tampa ayah,”

Jenajah ayah di bawa ke rumah kami sebelum di makamkan, rumah sebelumnya telah di bereskan oleh Bibikku, ku dapati pula di rumah ke 3 saudaraku, betapa hancurnya hatiku, bagaimana kami sanggup menerima kenyataan ini. Semua keluargaku datang baik dari mama maupun ayah, kuliahat betapa kesedihan menghampiri kami, semua menangis dan bersedih dan yang paling membuat aku hancur ,ketika adik kembarku pergi sekolah esoknya Untuk UN. Karna aku tidak mengijinkan dia tidak mengikuti UN kamim dalam suasana berduka, sejuta suport ku berikan untuk Si kembar agar mau mengikuti UN, aku memang berhasil, tapi,,pagi itu setelah memakai seragam sekolah dan membawa perlengkapan ujian, Si kembar menghampiri Ayahku.

“ Ayah,,, aku pergi sekolah yah, hari ini kami ujian. Ayah,, bangun ayah,, apa ayah tidak mau melihatku pergi ujian ..? ayah bangun untuk sebentar saja. Ayah dengar aku, aku mau ujiaaaaannnnn, bangunlah dulu ayah, huhuuhuhuhh… ayah, doakanlah kami yah biar nanti bisa lulus, aku pergi ayah .”

Si kembarpun menangis takhenti-hentinya di samping ayah, tak sanggup aku melihat nya, tangisan adikku memecahkan keheningan di pagi itu, sunggu sangatlah miris hatiku, segera ku ajak adikku pergi kesekolah secepatnya dengan alasan supaya tidak terlambat, selama3 hari ayah terbaring tak berdaya di rumah ini. Di kerumungi banyak orang dan di iringi tangisan dari semua orang, meratapi semua ini, “ ayah apakahengkau mendengar.? Sedikit saja jeritan hatiku .? bisakah engkau mengerti , aku tak mampu hidup tampamu.”

**

Ini adalah hari terakhir ayah di rumah ini,ini hari terakhir aku melihatnya, ku ambil camera untuk mengabadikan wajah tampan ayahku yang hanya bisa berbaring kaku tak berdaya. Ku belai wajah ayahku, begitu putih dan dingin,

“Ayah, bagaimana keadaanmu hari ini .? ayah tidak sakit lagi kan .? ayah tidak perlu memakan obatlagi kan .? ayah sudah sehat, ayah tidak perlu ke dokter lagi, ayah aku tau mengapa ini semua terjadi, itu karena Tuhan tidak tega melihat ayah terus dalam kesakitan, itu makanya Dia mengirimkan malaykat pembebas untuk menyembuhkan ayah, walaupun kesembuhan yang sesungguhnya itu adalah kematian, ayah, tidur yang tenanglah, dalam tidur panjangmu , tidur dalam damai, hidup kembali bersama Tuhan, ayah bahagialah engkau disana bertemu dengan Yesus, ayah, selamat jalan untukmu, bahagialah disana, seiring engkau dapati rumah baru yang indah untukmu ayah, aku akan tetap mencintaimu dan merindukanmu.”

Sorenya, ayah akan di hantar ketempat peristirahatannya, banyak orang ikut untuk melihat proses pemakaman ayahku, Aku, si kembar , Grace dan Mama ikut serta disana beserta semua keluarga. Setelah kembali dari sana, ku coba menghibur keluargaku dengar berbagai cara aku tidak boleh rapuh, aku harus terlihat lebih kuat lagi,karena aku anak laki – laki yang paling besar, tanggung jawabku semakin besar.

Semua memang sudah berlalu, seminggu sesudah kematian ayah,kumulai terbiasa meski masih dalam suasana duka tapi aku harus kuat, yang membuatku rapu kembali ketika paskah tiba, semua orang ber Suka ria, tapi tidak untuk aku dan keluargaku , keheningan kembali di pecahkan dengan tangisan adik ku Grace tiba- tiba menangis malam itu.
“Ayah, dimana kamu .? ini malam paskah, kenapa ayah tidak disini, ini tidak seperti tahun kemarin,.dulu semuanya terasaindah, ayah selalu memberikan kami kado Paskah, tapi kenapa malam ini tidak, ayah aku mohon hadirlah dalam mimpiku walau hanya sejenak untuk melepaskan kerinduanku padamu. Ayyyyaaaaaahhhhhh, aku rindu.”

Kupeluk erat adik ku, “ sayang, kita yang sabar yah dek, ayah sudah tenang di surga sana, ayah tidak ingin engkau menangis, jangan sedih lagi sayang, kita haruscukup kuat menghadapinya, adikku yang manis ,ayah akan banggamelihatkita dari surga sana , kalau Grace bisa ceria seperti dulu, kamu harus semangat sayang, aku yakin ini sudah jalan Tuhan, jangan menangis lagi, jangan larut dalam kesedihan, masa depan kita masih panjang Dik,kita haruslebih semangat lagi, kau tau sayang, kamu adalah kebanggaan ayah,jadi berjuanglah hinggananti kamu sukses” ujarku padanya. Dalam keheningan malam dan isak tangisnya jadi lagu yang membawa adik ku tidur dalam pelukanku.

Tuhan,ini malam paskah pertama tampa Ayah, ini begitu menyedihkan bagi kami, aku mohon berikanlah kami kesabaran dan menjalani ini semua. Kutau semua pasti indah pada waktunya, malam ini dan malam selanjudnya akan aku nikmati tampa hadirmu ayah,aku sayang ayah, aku rindu ayah. Doakan aku suapa bisa menggantikan tanggung jawabmu sebagai ayah dalam rumah ini.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya