[CERPEN] Arti PDR (Prayer, Distance and Relationship) yang Sesungguhnya

Membangun sebuah hubungan dan membawanya ke jenjang yang lebih serius tak semudah membalikkan telapak tangan.

Rana mematikan saluran radio yang memutar lagu Dekat di Hati dari RAN sambil bersungut-sungut. Ini bukan persoalan lagu, tetapi tentang usianya yang hampir menginjak angka tiga puluh dan dia belum menemukan tambatan hati. Bahkan lagu zaman sekarang sudah sampai masa LDR romantis, lantas dirinya?

Advertisement

Rana memilih menghempaskan tubuhnya di atas kasur empuk yang selalu setia menemani hingga saat ini, puncak kegalauan paling akut yang pernah dialami selama fase pertumbuhan seorang Rana. 

Sebenarnya ini bisa diatasinya tanpa perlu kekhawatiran berlebih, namun karena desakan keluarga yang membuat Rana akhirnya terbawa pikiran hingga sulit tidur dan sedikit membenci semua lagu tentang cinta-cintaan.

Samar-samar lagu tadi kembali mengalun, mengusik hati Rana. Dari mana asal suara itu? Apa belum cukup sebaris liriknya membongkar masa lalu yang telah dikemas Rana sedemikian rupa?

Advertisement

"Bagaimana keadaan si charming-mu satu itu?" tanya Mba Sita semakin mengobrak-abrik kotak masa lalu Rana.

"Apa perlu Rana jawab?" sengit Rana gerah. Mba Sita tertawa.

Advertisement

"Sekarang, apa rencanamu untuk membuat keluarga tutup mulut dan berhenti mendesak?" Mba Sita mengganti topic pembicaraan, tahu persis sepupu manisnya benar-benar tidak tertarik untuk membahas masa lalu.

"Mba lihat kamu santai sekali," tambah Mba Sita.

Rana menghela napas, terdengar sedikit berat. Tidak langsung menjawab, lebih tepatnya tampak asik dengan buku tebal di tangannya.

"Ran?"

"Aku sedang LDR, mba!" jawab Rana seadanya. Mba Sita tahu itu jawaban ngaco dari gadis berkerudung putih di depannya.

"Masih berlanjut dengan Rie?" Mba Sita malah menanggapi.

"Apa hanya ada Rie di dunia ini?" Rana balik bertanya.

"Lantas dengan siapa?"

Tidak ada jawaban dari bibir mungil si pemilik nama pena Kirana Dian itu. Berarti hanya ada dua jawaban, antara Rana sudah tenggelam oleh lautan kata dalam bukunya, atau tidak mau berkomentar lagi tentang apapun.

***

Ucapan Rana dengan Mba Sita semalam memang serius. Rana tengah khusyuk menjalankan hubungan jarak jauhnya dengan seseorang, bahkan tak pernah putus ber-chatting ria, membuat Umi penasaran luar biasa.

"Mba Sita bilang kamu sedang dekat dengan seseorang. Siapa dia?" tanya Umi kala ayam baru memperdengarkan kokokan pertamanya.

"Maksud umi?" Rana pura-pura tidak mengerti. Biarlah, urusan seperti ini tidak boleh sampai menyebar terlebih dahulu.

Rana tidak mau membuat kecewa keluarganya karena harapan-harapan kosong.

"Siapa dia? Dari mana asalnya sampai kalian LDR?"

Umi tidak peduli dengan kepura-puraan putri tersayangnya.

Rana hanya tersenyum, "doakan yang terbaik untuk Rana saja, Mi!"

Membangun sebuah hubungan dan membawanya ke jenjang yang lebih serius tak semudah membalikkan telapak tangan. Rana tidak mau yang macam-macam seperti kala SMA dulu, yang menuntut kesempurnaan dalam suatu hubungan. 

Bukan, ini bukan saatnya bermain-main lagi. Hubungannya dengan Rie lima tahun lalu yang berakhir kata putus lewat telepon membuat Rana memilih untuk terus sendiri, dan membuat gadis itu bermetamorfosa menjadi lebih baik.

Rana yang sejak dulu enggan berjilbab, sudah mulai memantapkan hatinya berhijrah. Semakin rajin mengisi masjid meski hanya sekadar berdiam diri mencari inspirasi. 

Rana juga suka membaca buku-buku keagamaan, dan sekarang tengah tergila-gila membaca kisah Khadijah, istri yang paling dicintai Baginda Rasul, wanita hebat kekasih Allah swt. 

Fokus Rana hanya untuk perubahan diri dan karirnya sebagai seorang penulis, tidak lebih. Urusan jodoh, Rana serahkan sepenuhnya kepada sang pemilik cinta yang paling agung.

"Lalu hubungan LDR kamu?" Mba Sita masih membahas.

"Lebih baik Mba Sita jadi penonton kisah cintaku saja, deh! Disutradarai langsung oleh sutradara terbaik sepanjang masa, dan ditulis oleh penulis skenario paling handal yang pernah ada!"

"Siapa? Kamu bakal jadi artis sinetron?"

Rana menggeleng, "Sang Maha Cinta," lanjut Rana sembari mengangkat satu tangannya dengan gaya religious. 

Mba Sita menimpuknya dengan bantal. "Nggak lucu, Ran!"

 Rana terkikik.

Entahlah, biarkan Tuhan yang mengatur akan seperti apa akhir yang baik dalam penantian panjangnya. Tuhan sebaik-baik perencana.

***

"As, nanti kalau Pak Iqbal cari, bilang aku sedang tidak ada di tempat, ya!" pesan Rana pada teman kerjanya suatu sore.

"Rana mau ke mana?" tanya Asma.

"Chatting-an"

"dengan?"

"yang jauh di sana." Rana langsung ngeloyor pergi, sengaja membuat temannya berteriak-teriak penasaran.

Rana merasa nyaman dengan hubungannya kali ini. Bagi gadis berusia dua puluh delapan tahun itu, LDR ini adalah yang paling sakti mandraguna dari LDR manapun, bahkan Dekat di Hati-nya RAN kalah saing. 

Rana tinggal menunggu waktu yang tepat untuk bertemu dengan sosok penyejuk hatinya selama ini, si pengembara paling tangguh yang telah berusaha keras mencari pelabuhan terbaik tempat dirinya kembali pulang tanpa harus pergi lagi.

***

Lantunan indah panggilan sholat berkumandang syahdu menggetarkan hati Rana, menghentikan kegiatan gadis berjilbab merah itu untuk bergegas menjemput kekasih hatinya di rumah nan agung.

Tidak disangka, suara muadzin yang begitu merdu berasal dari seseorang yang belakangan ini tak sengaja ditemuinya. Sudah tiga kali selama sebulan Rana bertemu tanpa direncanakan dan selalu di tempat yang sama, di masjid ini.

"Apa kabar?" tanya suara itu.

Rana mengangguk. "Masih sama seperti terakhir kali kita bertemu" jawab Rana seadanya, berusaha sebiasa mungkin.

"Tidak sangka. Bukankah pertama kali kita bertemu lagi kamu seorang pemred di penerbitan yang melaunching buku keduaku? Kamu ini sebenarnya siapa, sih?" sambungnya lagi, mencoba bercanda. 

Pemuda itu tertawa.

“Saya memang bekerja di sebuah penerbitan. Rumah saya tidak begitu jauh dari masjid, dan jika sempat, saya memang suka menjadi muadzin, terkadang juga menjadi imam di sini” jelas pemuda itu, membuat Rana cukup terkesiap.

"Kapan kamu kembali?" pertanyaan itu meluncur tiba-tiba tanpa bisa Rana tahan.

“Tujuh bulan yang lalu."

Rana mengangguk mengerti.

"Kamu orang yang hebat, Ran!" pujinya tulus. Rana tersenyum berterima kasih.

"Apa yang terjadi padamu sekarang?" tanyanya, terus mencari topic pembicaraan menarik. Rana menghela napas panjang.

"Kamu tahu usiaku kini, dan aku tengah dipusingkan oleh desakan keluarga yang menyuruhku untuk segera menikah," cerita Rana tanpa canggung. Pemuda di sampingnya tertawa kecil.

"Lalu masalahnya? Apa kamu belum menemukan…" pemuda itu tidak meneruskan kalimatnya, namun cukup membuat Rana mengerti.

"Aku masih dalam tahap pendekatan meski hubungan jarak jauh"

"lagi?"

Rana mengangguk.

"Tapi membuatku sangat nyaman. Kalau kamu sendiri?"

Pemuda di samping Rana terdiam sejenak.

"Aku sedang mempersiapkan diri untuk meminang seseorang," jawabnya seraya tersenyum.

Rana ikut tersenyum meski ada kabut, entah itu di mana.

Pertemuan kali ini membuat gadis itu seperti salah jalan. Ada dua perasaan asing yang mendekap hatinya, namun ia tidak tahu pasti.

Aneh, padahal ia sudah lama sekali tidak bertemu dengan pemuda yang memang pernah sangat dekat dengannya.

Pemuda popular zaman SMA dulu yang namanya sangat tidak asing untuk diteriaki oleh kalangan kaum hawa, Richard. Nama bule tetapi pemiliknya asli penduduk lokal.

Rana semakin sering chatting untuk melampiaskan perasaan-perasaan tidak jelas yang tengah dilandanya. Untunglah sinyal  perantara paling hebat  selalu mengalir deras memperlancar komunikasi hati bagi insan yang terpisah jarak sangat jauh itu. Rana masih menunggu Tuhan berkenan mempertemukan mereka dalam masa paling indah sesuai jalan cerita yang dibuat oleh-Nya.

***

Assalamualaikum,

Ran, bisakah kita bertemu? Di tempat terakhir kali. Ada sesuatu yang ingin dibicarakan, mengenai pekerjaan.

Pagi-pagi sekali Rana sudah dikejutkan oleh sms dari nomor tak dikenal, tetapi gadis itu tahu siapa pemilik nomor cantik dengan empat digit terakhir 2015 itu. 

Meskipun kurang enak badan, Rana harus menghargai permintaan temu Richard yang dipikirnya sangat penting. Rana merasa dua hari terakhir ini digeluti oleh sesuatu yang asing, sangat asing. Hatinya bergemuruh kuat, napasnya terkadang memburu tidak normal. Apa yang terjadi padanya?

 "Apa kamu sakit?"

Richard pun mengetahui keanehan Rana. 

Gadis itu menggeleng, tatapannya mengatakan pada pemuda  lebih tepat pria  yang duduk di sampingnya. Latar masjid dengan sepoi-sepoi angin sejuk sebagai pelengkap atas pertemuan mereka.

Richard mengatur napasnya, mencoba memulai percakapan.

"Hal apa yang ingin dibicarakan?" tanya Rana.

"Aku mencari partner kerja" jawab pria itu to the point. Wajah Rana menyiratkan pertanyaan.

"Dan aku memilihmu," lanjutnya. 

Rana memasang raut tak mengerti. Mereka memang sudah lama tidak bertemu, dan bagi Rana, pria di sampingnya selalu tampak berbeda. Tetapi gadis itu sangat menyadari bahwa ada satu hal yang tidak pernah berubah dari seorang Richard di matanya.

Pria dengan rahang kokoh itu menjelaskan segala hal yang baginya memang perlu Rana dengar, terutama tentang perpisahan mereka.

"Maaf atas waktu itu. Maaf jika perantaranya tidak bisa kamu terima."

"Jadi, apa alasanmu?"

Hanya itu pertanyaan yang bisa Rana ajukan, lebih tepatnya sudah lama Rana ingin tahu jawaban Richard untuk pertanyaan satu ini.

"Bukan karena ketidakcocokan seperti yang pernah kukatakan. Bukan karena kejenuhan atas hubungan jarak jauh kita. Tapi aku mempersiapkan segalanya, selalu berharap dan berdoa semoga Tuhan menuliskan namamu dalam buku hidup seorang Richard."

Pria itu membuka sebuah kotak merah, menunjukkan arti mendalam pada isinya.

Rana sungguh tidak percaya. Sekali lagi pria itu  jujur, mantan terindahnya  menjelaskan hingga Rana sangat mengerti. Mereka putus karena memang perlu, bukan karena alasan apapun, terlebih orang ketiga, bukan itu.

Rana tak bisa berucap apapun. Bibirnya kelu. Hatinya bergemuruh kuat, lebih kuat dari sebelumnya. Tuhan telah menjawab semua pertanyaannya. Tentang rindu yang selalu mendera malam-malam Rana, kerinduan tak pasti, terbungkus rapat oleh ketegasan hati Rana.

Ya, memang ada satu hal yang tidak akan berubah dari pria di sampingnya. Dialah Rie yang tetap untuk Rana, yang selalu bersikap lebih dan sedikit bicara, yang memiliki banyak kejutan di setiap pemikirannya.

"Apa maksud LDR yang pernah kau ceritakan?" tanya Richard.

Rana tersimpul tanpa suara.

Hubungan jarak jauh dengan seseorang pilihan Tuhan, lewat chatting doa setiap malam. Menitip rindu tanpa banyak kata modus seperti yang tengah tren di kalangan remaja masa kini. Tak perlu khawatir adanya orang ketiga, atau perubahan rasa atas hubungan tanpa tatap muka. Tuhan menjamin serta selalu melindungi, menjadi mak comblang professional dengan kemungkinan atas kegagalannya berkisar hampir nol persen. Lebih nyaman tanpa merusak hati lantaran galau yang terus menerus. Cukup syarat perbaikan diri menjadi lebih baik.

Tawa Richard lepas mendengar penjelasan panjang Rana.

Tidak perlu banyak kata lagi untuk cerita ini. Tuhan sudah mengakhirinya dengan pertemuan paling indah yang tak pernah mereka duga. 

Richard memperbaiki posisi duduknya.

"Bukan partner kerja. Lebih tepatnya…" dia diam sesaat.

"Maukah kamu menjadi teman hidupku, Ran?"

Puncak rindu paling dahsyat ketika dua orang tak saling telepon, SMS, BBM, tapi keduanya diam-diam saling mendoakan. Sujiwo Tejo.

***

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya

Advertisement

“Artikel ini merupakan kiriman dari pembaca hipwee, isi artikel sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.”

Berikan Komentar

Tim Dalam Artikel Ini

Penulis

Menulis dari Hati, oleh Hati dan untuk Hati

CLOSE