Saat ini masyarakat Indonesia tengah disibukkan dengan hajatan besar-besaran, bagaimana tidak tampuk kepemimpinan nomor satu indonesia sedang "dilelang'', untuk memimpin Indonesia lima tahun kedepan. tua-muda, yang miskin yang kaya entah siapapun orangnya kalaupun memegang kartu identitas sebagai warga negara Indonesia pastinya menyambut ataupun menunggu-nunggu momen ini dengan berbagai cara. Ada yang sampai menjadi relawan salah satu calon yang memberikan dukungan tanpa peduli keringat, hingga ada yang cukup menjadi golongan putih namun tak ingin dicecar sebagai apatis, sebuah pilihan katanya.

Terlepas dari itu semua, di balik kemeriahan suatu hajatan terdapat tuan acara yang 'mengurusi' acara dengan penuh perjuangan. Negara indonesia yang dikenal sebagai negara maritim yang masyarakatnya terpisah di berbagai pulau bukanlah suatu penghalang, apalagi untuk mencapai daerah terdepan yang mengharuskan melewati hutan tropis yang dibelah oleh sungai-sungai tak ‘berpenghubung’.

Advertisement

Hingga akhirnya empunya acara berhasil menghimpun seluruh suara warga Indonesia berbekal kemauan ataupun sesederhana kata-kata kebersamaan agar seluruh warga Indonesia bisa menikmati yang katanya pesta demokrasi. Tak peduli jiwa dan raga taruhannya, hal ini tentunya bukan kasus baru di telinga saudara, dimana seperti yang dilansir oleh tribunnews, Hingga Sabtu (27/4/2019) pukul 18.00 WIB, Komisi Pemilihan Umum (KPU) mengumumkan, jumlah petugas Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara (KPPS) yang meninggal dunia sudah mencapai 272 orang, sementara yang sakit berjumlah 1.878 orang.

Namun cerita yang sebenarnya belum selesai sampai disitu, kenyataan bahwa perjuangan secara totalitas sang empunya acara harus ternodai dengan banyaknya hoaks-hoaks negative yang bermuara pada politik kebencian, ataupun saling menjatuhkan nya antar pendukung calon-calon pemimpin bangsa. Sehingga abu-abu untuk menentukan mana fakta mana fitnah, yang mulanya bertetangga kini harus bermusuhan akibat beda pilihan. Hal ini selaras dengan data dari Amnesty International Indonesia melalui laporan tahunannya 2017, menggambarkan bahwa, perkembangan HAM di 159 negara di dunia menempatkan politik kebencian sebagai isu menonjol di berbagai negara, termasuk di Indonesia.

Dimana di Indonesia sendiri politik kebencian tersebut mengeksploitasi isu politik identitas, sentimen moralitas agama dan nasionalisme sempit oleh aktor negara dan non-negara yang mengajak pengikut mereka dan masyarakat luas untuk membenci mereka yang dianggap berbeda, sehingga dapat melemahkan ketahanan nasional.  Jadi, apakah pemilu kini berubah menjadi sebuah ajang pesta ‘disintegrasi’?

Advertisement

Lantas apa itu ‘Pesta Disintegrasi’?  Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, pesta berarti perayaan sedangkan Disintegrasi berarti keadaan tidak bersatu padu; keadaan terpecah belah; hilangnya keutuhan atau persatuan; perpecahan. Sehingga bila dipadukan maka pesta disintegrasi merupakan perayaan perpecahan. Dimana dalam kasus ini maka pemilu yang dahulu selalu dielu-elukan oleh rakyat Indonesia kini menjadi ajang memecah belah bangsa. Sebenarnya secara tidak langsung hal ini merupakan dampak berkelanjutan dari pemilu itu sendiri, bila dari masyarakatnya sendiri terlalu hectic ataupun tertutup hingga lupa berjabat tangan dan tidak saling legowo atau berbesar hati, tergantung masyarakatnya bagaimana memaknai secara positif dan dewasa. Jadi pertanyaan nya adalah bagaimana anda memaknai secara positif tentang pesta demokrasi  atau kah anda hanya akan membiarkan nya larut menjadi pesta disintegrasi ? Pilihan tentunya di tangan anda.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya