Penampilan Visual Tashoora sebagai Bentuk Energi Saat di Atas Panggung

Cara Tashoora berinteraksi dengan penonton


Tata busana


Advertisement

Pakaian adalah pelindung tubuh yang juga berfungsi sebagai simbol dari karakter atau sifat dari seseorang. Pakaian sebagai silent language untuk berkomunikasi melalui simbol baik verbal maupun non-verbal. Dengan kita memahami makna dan arti dari simbol yang disampaikan berarti pakaian berhasil mengirimkan pesan dari pemakai ke penonton bagaimana dan siapa dirinya. Pakaian yang kita gunakan juga akan menghasilkan sebuah pernyataan tentang personality kita dari orang lain. Meskipun kita tidak memiliki maksud dari pakaian yang kita pakai, orang lain akan tetap menfasirkan sendiri bahwa yang kita pakai merupakan sebuah pesan.

Gaya berpakaian dan musik merupakan suatu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan. Biasanya kita akan memperhatikan gaya berpakaian dari musisi terkenal, bahkan gaya berpakaian mereka akan menjadi role model bagi beberapa orang. Pakaian yang digunakan juga menjadi branding dari musisi itu sendiri. Misalnya vokalis Barasuara, Iga Massardi yang selalu menggunakan batik saat manggung.

Hal itu akan menjadi personal branding dari Iga Massardi. Atau seperti The Changcuters dengan image tampil seragaman ala biker. Demikian pula dengan Tashoora, cara mereka berpakaian adalah boho atau bohemian yang terinspirasi dari kaum hippie tahun 1960 – 1970-an. Boho biasanya menggunakan warna netral, cerah, dan juga corak yang playful. Spirit dari bohemian ini mirip dengan Tashoora, anti kemapanan, gebrakan, dan kebebasan berekspresi merupakan filosofi yang melandasi pakaian band asal Yogyakarta ini.

Advertisement


Lirik lagu


Lirik yang ditulis Tashoora di setiap lagunya memang dikenal dengan adanya tuntutan, kritikan, isu sosial, dan makna. Merasa geram dengan masalah sosial yang terus bermunculan di lingkungan dan dirasa tak adil yang membuat Tashoora bersuara lewat lagu. Salah satu kasus masalah sosial yang mereka angkat adalah lagu berjudul “Agni”. Lagu ini berisi tentang masalah pelecehan yang menimpa mahasiswi UGM, Agni. Dalam kasus ini, Agni dianggap diperlakukan secara tidak adil meski sebagai korban. Lagu ini bermaksud meminta keadilan dan menuntut penyelesaian masalah tidak hanya dilakukan melalui kekeluargaan.

Advertisement


“Derau amarah,korban yang salah. Bukti dibantah, habis dijarah. Demi nama baik kami, jelas damai kami cari. Hati-hati beri saksi, redam warta jadi fiksi”.


Penggalan lirik lagu “Agni” diatas terlihat jelas bahwa adanya ketidakadilan terhadap korban, dan menggunakan jalur “damai” sebagai jalan pintas untuk mempertahankan nama baik seseorang. Makna ini bisa ditangkap secara langsung oleh pendengar.

Contoh lain dari lagu Tashoora adalah “Nista”. Lagu ini menceritakan tentang jenazah Ibu Hindun dan Ibu Rohbaniah yang ditolak untuk disolatkan di masjid setempat dengan alasan perbedaan pilihan politik yang membuat Ibu Hindun dan Ibu Rohbaniah dicap sebagai pe-nista agama atau kafir.


“Jika datang tanpa aba, senyap menyapa. Dan terbungkam kata-kata “Bela Pe-nista”. Raut resah yang tersisa deras tangisnya. Langit kalur yang bicara”.


Lirik “Nista” di atas menggambarkan ketidakadilan yang dialami keduanya hanya karena perbedaan pilihan politik.


Tampilan visual


Penampilan live dari setiap musisi adalah hal yang ditunggu-tunggu oleh penggemar, karena dalam situasi ini musisi dan penggemar bisa bertatap muka dan merasakan energi di tempat yang sama. Otomatis setiap musis pasti mengeluarkan yang terbaik untuk tampil di hadapan penggemar. Tak terkecuali Tashoora, mereka merasa ingin selalu mengeksplor panggung agar mereka bisa nyaman main di atas panggung, yang kemudian energi mereka akan terserap ke penonton.

Jika bisa bermusik secara maksimal, maka penonton bisa menangkap energi yang dibawakan. Tashoora juga cukup detail terhadap penampilannya di atas panggung, misalnya seperti logo, dan posisi personel yang berdiri sejajar di atas panggung. Bahkan di beberapalagu mereka mempunyai koreografi singkat yang melengkapi penampilan mereka.

Tak hanya energi yang ingin mereka tularkan, alat musik yang tanpa sengaja seragaman berwarna merah juga meiliki makna tersendiri bagi Tashoora. Karena mereka mempunyai preferensi yang sama, yaitu warna merah. Maka mereka berharap warna merah sebagai lambang menyala, sehingga spirit yang mereka punya di atas panggung bisa menular kepada penonton agar lebih membara. Sehingga para penonton bisa pulang dengan membawa semangat dan energi yang ada saat penampilan Tashoora.


Hitung panggung


Band asal kota Gudeg ini tentu tidak begitu saja naik ke permukaan, sebagai band yang berasal dari daerah, mereka juga membutuhkan usaha lebih untuk bisa masuk ke industri musik ibu kota. Tashoora mengaku pernah manggung hanya dintonton oleh beberapa puluh orang. Dan itupun biasanya dominan dengan orang yang mereka kenal.

Panggung demi panggung pun dilalui oleh Tashoora, menurut sang vokalis, kurang lebih mereka sudah menjelajahi 80 panggung acara musik. Mereka mengaku memang menghitung jumlah panggung yang pernah mereka isi untuk data, dan biasanya mereka unggah di Instagram sebagai jejak digital. Hal ini mereka lakukan sebagai bentuk apresiasi terhadap diri sendiri dan penonton. Dengan adanya jejak foto yang mereka unggah, maka akan menjadi kenangan personal antara mereka dengan penonton saat itu.


Asal nama


Setiap musisi pasti mempunyai nama panggungnya sendiri, nama panggung ini biasanya memiliki arti atau filosofinya sendiri. Sama seperti Tashoora, mereka menggunakan nama jalan tempat basecamp mereka berada. Jalan Tasura, Maguwoharjo, Yogyakarta yang dimodifikasi sedikit menjadi Tashoora. Jalan Tasura merupakan saksi bisu terbentuknya Tashoora.

Mereka menggunakan nama jalan agar mengingat bagaimana sejarah mereka terbentuk dan juga apa saja yang mereka lalui setiap latihan di basecamp. Secara tidak langsung, nama Tashoora sendiri akan menyampaikan perkenalan ke orang banyak mengenai jalan Tasura di Yogyakarta yang sebenarnya memiliki esensinya sendiri terhadap personel karena merupakan tempat awal merek bertemu dan terbentuk.

Referensi: Wood, Julia. T (2013). Komunikasi Interpersonal: Interaksi Keseharian (Edisi 6). Salemba Humanika: Jakarta.

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya

Advertisement

“Artikel ini merupakan kiriman dari pembaca hipwee, isi artikel sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.”

Berikan Komentar

Tim Dalam Artikel Ini

CLOSE