Jika muncul pembahasan tentang pendidikan didesaku maka semua merasa berkepentingan. Pembahsannya menjadi heboh dimana-mana. Di sawah, rumah, surau, masjid, berugak, poskamling, TV, koran, website, medsos, malah mungkin sampai kekalangan dunia jin ikut urun rembug pemikirannya tentang pendidikan di desaku.

Berita di TV meributkan tentang kebijakan baru pendidikan. Setiap ahli saling berdebat. Masing-masing bertahan pada teorinya. Ahli satunya bertahan pada kebijakan baru. Tidak ada pilihan lain jika ini aturan, maka semuanya harus melaksanakannya. Semuanya harus sama, tidak boleh berbeda. Agar pendidikan ini dapat kita petakan secara nasional. Kita seragamkan semuanya.

Advertisement

Ahli yang lainnya mengungkapkan. Kita tidak bisa menseragamkan semuanya. Negara kitakan luas, tidak satu budaya, tidak satu kultur, tidak semuanya memiliki fasilitas yang sama. Maka pendidikan yang kita urus itu berdasarkan keluasan yang berada di negara kita. Kita tidak bisa menganggapnya sama.

“Pendidikan itu penting bagi anak-anak kita. Agar anak kita besok kalau menyambut gawe (kerja) lebih mudah dan mendapatkan keahlian yang mantap untuk menjejaki karirnya.” Ucap salah seorang wali murid di sampingku. Tidak kusengaja mendengar mereka mengobrol tentang itu. Saat perjalananku menuju kampus.


Pendidikan itu penting bagi siapa? Mungkin maksud ibu tadi adalah penting bagi kehidupan anak-anaknya. Kalau berpikir nasional maka pendidikan penting bagi putra putri suatu bangsa. Karena merekalah yang akan menyambut mengelola negara ini. Jadi pendidikan itu sangat penting bagi seluruh subyek yang ada dalam negara.


Advertisement

Semua orang membutuhkan pendidikan. Mulai dari profesor, para doktor, para sarjana, anak-anak SMA, anak-anak SMP, anak-anak SD, anak-anak TK, anak-anak Paud bahkan anak yang masih dalam kandungan. Tapi biasanya yang ada dalam perut ibu masih terlupakan oleh negara kita, oleh orangtua-orangtua kita.


Long life education, pendidikan sepanjang umur. Menuntut ilmu dari kandungan sampai ke liang lahat.


Pendidikan penting bagi seluruh warga negara, bagi rakyat, bagi petani, tukang becak, driver, kusir, gelandangan, pak presiden, pak menteri, pak gubernur, pak bupati, pak camat, pak kepala desa, pak kadus, pak RW, pak RT, bapak dan ibu dirumah. Pendidikan untuk semua orang. Pantas saja pendidikan menjadi obrolan penting bagi semua orang. Yang paling kaya sampai yang paling dianggap miskin. Tidak terkecuali, pendidikan itu penting bagi semua.

Tapi kita renungkan kembali obrolan tentang pendidikan. Obrolannya bukan untuk rembug tapi saling membela kepentingan masing-masing. Kepentingan dari orang-orang yang dipercaya mengelola pendidikan dan kepentingan orang-orang yang diatur untuk mengikuti kehendak orang-orang yang dipercaya.

Katanya sih orang-orang yang dipercaya mengurus pendidikan. Tetapi kenyataannya mereka tidak dipercaya oleh orang yang diminta untuk mengikuti kehendak dari yang dipercaya. Lucu.

Pendidikan itu kepentingan-kah atau penting? Pendidikan itu penting bukan kepentingan. Jadi kalimat perjuangan dan kebijakan yang diterapkan adalah bagaimana mengelola pendidikan itu menjadi penting bagi warga negara, bagi rakyat, setiap subyek.

Pertanyakan kembali, pendidikan itu kepentingankah atau penting? Ya kepentingan juga. Tapi bukan kepentingan golongan tetapi kepentingan bagi seluruh manusia. Kebijakan pendidikan itu harus mementingkan semuanya. Kebijakan pendidikan seharusnya menarik kepentingan semua orang bukan golongan.


Pendidikan menjadi kepentingan setiap orang apabila, dalam setiap kebijakan ada rembugkan bersama yang transparan. Tidak satu arah, tapi dengan prinsip keterbuakaan, kerendahan hati, saling melengkapi, kebersamaan. Sehingga semuanya dianggap penting dan berkepentingan, semuanya harus dilibatkan.


Obrolan kita saat ini tentang pendidikan masih saja pada halaman memperdebatkan kepentingan masing-masing. Ketika ada aturan baru pada protes, pad ramai-ramai tidak setuju. Ya bukan salah yang protes juga. Dimungkin karena kurangnya rembugan, keterbukaan, kerendahan hati untuk saling menghargai.

Aturannya kaku, tidak bisa berkembang. Ya wajar saja ada protes, ada ketidak setujuan. Rembug dulu baru mengeluarkan peraturan.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya