Tentang Relawan Panti Asuhan, Serta Cara Lain Menemukan Kebahagiaan

Pengalaman pertamaku menjadi relawan dan berkunjung ke panti asuhan.

Ciyee … Bajunya samaan. Anak panti asuhan mana nih?!

Advertisement

Ya ampun, makanan segitu aja baginya teliti banget. Berasa di panti asuhan, deh!

Mungkin ucapan macam itu tak asing di telinga kita. Pelakunya bisa orang-orang terdekat, teman, dan kerabat. Atau jangan-jangan justru kita sendiri pelakunya. Kalau aku sendiri, jujur pernah melakukannya dan aku sangat menyesal. Kukira itu hanya sekadar candaan untuk mencairkan suasana. Namun, kenyataannya salah besar. Qodarullah, Allah menunjukkannya padaku.

Tahun 2015 aku ikut dalam acara yang digagas  komunitas Yatimplay Pekalongan. Acara tersebut bernama Parcel Anak Soleh alias PAS Ramadan yang dilaksanakan di salah satu panti asuhan di Kota Pekalongan bernama Ar-Rabitah Klego. Hari itu adalah kali pertamaku menyambangi panti asuhan. Gedungnya berantai dua yang sangat mirip asrama. Aku dipercaya untuk memandu acara bersama seorang teman. Tentunya aku harus banyak berinteraksi dengan adik-adik peserta acara.

Advertisement

Di hadapanku, duduk puluhan anak berusia 5-12 tahun. Mereka terlihat sangat bersemangat mengikuti setiap rangkaian acara yang penuh dengan permainan. Ada banyak pertunjukan di sini mulai dari game edukasi, atraksi badut, hingga tayangan 3D. Sebab tujuan acara tak lain adalah untuk membuat adik-adik senang.

Kutatap wajah-wajah polos itu dan senyuman mereka yang sederhana. Tapi, pada kedalaman mata mereka tak bisa berdusta, ada pijar kesedihan meresap dalam jiwa. Anak-anak itu tak seberuntung kita– hidup tanpa ayah ibu atau salah satu di antara keduanya.Melalui informasi yang kudapatkan dari pengurus panti, anak-anak tersebut hadir dari berbagai latar keadaan. Ada anak-anak yang memang kehadirannya tak diinginkan. Terlahir dari sebuah hubungan terlarang. Tertolak sebagai anak. Ada yang memang ditinggalkan kedua orang tua sebab berpulang ke haribaan-Nya.

Advertisement

Tak terbayangkan bagaimana hari-hari mereka lewati tanpa kata-kata, Sudah makan belum, Nak? Nak, ini baju sekolah kamu. Sini, ibu suapin. atau dinginnya tubuh yang alpa peluk kasih sayang kedua orang tua. Pasti kesunyian gemar bersemayam di jiwa. Lantas bagaimana pula perasaan mereka tatkala melihat sebayanya  berdampingan dengan orang tua?

Namun, kembali kuyakini bahwa manusia tak bisa memilih lahir dari rahim siapa. Mungkin itulah jalan terbaik yang Allah pilihkan untuk mereka.

Sendu kurasakan tatkala perasaanku sendiri merangkai segenap pertanyaan. Air mata pun kutahan sekuat tenaga. Manusia macam apa aku ini, yang tertawa di balik kisah derita. Lagipula, siapa yang mau tinggal di panti? Siapa mau kehilangan orang tua dalam usia teramat belia? Kenapa begitu tega menertawakannya.

Hari itu, ada banyak pembelajaran kudapatkan. Jika selama ini yang ada di pikiranku adalah kebahagiaan hanyalah milikku sendiri, kali ini tidak. Sebab kebahagiaan tidak hanya untuk dinikmati sendiri. Pertama kalinya aku menyembangi panti asuhan sebagai seorang relawan. Sebuah pengalaman berharga dalam hidup ketika mendedikasikan diri untuk sesama. Ternyata dampak yang ditimbulkan sangatlah luar biasa. Aku seperti menemukan cara lain untuk bahagia. Yang tak pernah kutemukan tatkala membeli benda-benda.

Jika kamu merasa hidupmu selalu kekurangan, cobalah datang ke panti asuhan. Agar kamu merasakan betapa nikmat yang didapat selama ini ternyata luput kamu syukuri. 

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya

Advertisement

“Artikel ini merupakan kiriman dari pembaca hipwee, isi artikel sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.”

Berikan Komentar

Tim Dalam Artikel Ini

Penulis

Lahir 1 Juni di Batang, Jawa Tengah. Seorang guru di SMP Negeri 6 Batang. Menyukai Puisi. Buku kumpulan puisinya berjudul "Senandika Pemantik Api".

Editor

Penikmat buku dan perjalanan

CLOSE