Hari-hari ini, banyak sekali pengemis berseliweran. Aku bukan mengajarkan kita untuk membenci pengemis atau menganjurkan untuk memanjakan pengemis.
Jauh dari itu, aku hanya ingin menceritakan pengalamanku yang ada kaitannya dengan pengemis.
Ketika aku berjalan di pasar, aku bertemu seorang pengemis. Berjalan di pantai, aku juga menemukannya. Di kebanyakan tempat umum, ada pengemis kecuali toilet umum.
Waktu itu aku sedang di kampus, kampusku layaknya hotel, mempunyai banyak kaca. Okay, mungkin aku lupa, mungkin waktu itu bukannya di kampus tetapi di tempat kerja. Tetapi aku mohon! Anggap aja Aku sedang di kampus.
Kami berada di depan kelas. Aku curhat ke Zainul, temanku, bahwa aku sedang memendam rasa kepada seorang wanita, tetapi sangat takut untuk mengungkapkannya.
Ia berkata, “Kamu harus segera mengambil tindakan! Sekarang atau tidak sama sekali! Sekarang atau kamu akan meyesal untuk selamanya!”
Kata-katanya cukup membuatku termotivasi.
Ia bertanya, “Sekarang dimana pujaan hatimu itu?”
“Di sana, di dalam!” Aku memandang ke arah kelas.
“Sekarang masuklah! Sebelum kau menyesal!” Ia berlalu meninggalkanku acuh. Seakan sikap acuhnya itu berkata, “Aku tahu, kau tegar kawan!”
Aku membayangkan si Dia sedang duduk di ruang kelas. Oh Tuhan, tubuhku bergetar! Aku ingin segera masuk untuk melihat pujaan hatiku bahkan ingin mengungkapkan rasa cinta ini.
Tekadku sudah bulat! Aku ingin katakan cinta. Ya! sekali lagi, katakan cinta, bukan katakan peta.
Aku memasuki ruang penuh dengan mahasiswa itu. Kakiku bergetar! Aduh lemas sekali, rasanya aku ingin jatuh. Coba siapa saja jelaskan padaku tentang korelasi adrenalin dan pengaruhnya terhadap anggota badan.
Sumpah! Aku sangat bergetar! Getaran kaki yang teramat luar biasa berdampak jelas pada tubuhku. Aku seketika menjadi bahan tontonan para mahasiswa dan mahasiswi. Mereka semua mematung melihatku termasuk si Dia. Akupun terpatung menerawang seisi kelas, semua diam bagai batu dan terpaku melihatku. pandanganku terhenti ketika mataku beradu dengan mata si Dia. Ternyata Aku tak bisa mengatakan apa-apa. Hanya bunyi jangkrik yang terdengar saat itu. “Fuuu*k!”teriakku dalam hati, pandangannya membuat nyaliku ciut. Aku segera berbalik badan dan segera keluar dari kelas.
Aku menghirup udara segar di atas balkon. Aku memandangi rerumputan yang terhampar lalu menarik napas panjang. “Siaaal,” ungkapku kepada rerumputan di bawah sana. Mengapa ketika dekat dengannya aku menjadi sangat tegang dan kaku? Rencana ungkapan cintaku gagal.
Zainul berteriak dari belakang mengagetkanku. “Gimana bro? Berhasil?” tanyanya dengan paras sumringah.
Aku melepaskan pandanganku darinya, dan kembali melihat rerumputan. Sepertinya saat ini, rerumputan lebih segar dari pada muka si Zainul.
“Tolong! Tolong!” Seseorang berteriak ke arah kami. “Ada seseorang yang meninggal.”
“Hah!” Kami terkejut. Aku berpandangan dengan Zainul.
Aku dan Zainul berhamburan berlari ke arah kantin. Zainul lebih sigap, ia berlari menuju orang yang berteriak tersebut. Orang itu adalah pegawai kantin. Zainul dan Pegawai Kantin berusaha masuk melalui pintu dapur.
Pagi itu, kantin baru saja mau buka. Pintu dapur adalah pintu terdekat menuju kantin. Saking tergesanya, si pegawai katin malah menjatuhkan kunci dan masuk dibalik pintu. Jadilah mereka (Zainul dan pegawai) berusaha untuk meraih kembali kunci yang masuk tersebut.
Aku agak lamban. Mungkin bawaan kejadian kelas tadi. Kantin itu mempunyai pintu kaca. Melalui pintu kaca itu, aku melihat seorang ibu dan anak tengah terbaring di lantai. Pakaian mereka lusuh bak pengemis.
Sang ibu terlihat seperti orang yang meninggal tetapi tidak dengan anaknya. Perut anak kecil itu kembang kempis, mungkin karena panik. Di sisi lain, aku melihat Zainul dan pegawai itu masih susah payah meraih kunci dengan sebatang lidi.
Sang ibu tiba-tiba bangun, meraih tangan anaknya hingga bangun juga dan segera keluar dari kantin, melalui pintu yang langsung terhubung ke bagian luar (taman kampus).
Zainul dan pegawai kantin sudah meraih kunci kemudian masuk. Akan tetapi mereka terbengong ketika seorang ibu dan anak yang mereka kira meninggal sudah tidak ada di sana.
“Kemana orang itu?” tanya si pegawai kepadaku dari arah dalam.
Aku tersenyum dengan kejadian tadi. Aku menunjuk pintu yang terbuka dan memainkan jemariku mengisyaratkan bahwa orang itu telah lari dan kabur sejauh mungkin.
Yah mereka berdua lega sekaligus kecewa dengan tampang konyol.
Aku mengingat-ingat betapa Zainul dan si pegawai bersusah payah meraih kunci yang malah jatuh ke dalam. Mereka berdua bahkan beradu argumen dan saran. Sedangkan, di sisi lain orang yang diduga meninggal malah bangun dan melarikan diri.
Aku masuk setelah pintu kaca dibuka.

“Apa ada yang hilang?” tanyaku kepada si Pegawai.
“Laci dan uangnya masih utuh. Hanya beberapa roti telah mereka makan.”
“Syukurlah. Itu yang terpenting. Harga roti itu tidak seberapa dengan uang yang dilaci.”
Aku dan meninggalkan kantin. Di kepala terngiang-ngiang tentang ibu dan anak yang berpakaian lusuh yang sedikit menjadi penghiburku di pagi yang tegang ini. “Mereka hanya pengemis yang kelaparan. Semoga aku bisa bertemu dengan mereka dan makan bareng dengan mereka berdua. Siapa tahu bisa memberi mereka beberapa uang.”
Suatu fenomena yang menggambarkan betapa ironi negeriku.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya