Penggunaan Bahasa Indonesia Sehari-Hari yang Dicampur dengan Bahasa Lain.

Bahasa Anak Jaksel

Milenial pasti tidak asing dengan penggunaan bahasa Indonesia sehari-hari yang dicampur dengan bahasa lain. Beberapa waktu terakhir ini, terdapat fenomena percampuran bahasa Inggris dengan bahasa Indonesia yang disebut bahasa englonesian. Bahasa englonesian ini tampaknya sedang menjadi populer di kalangan anak muda pengguna media sosial khususnya Twitter. Penggunaan bahasa campuran ini diidentikkan dengan lokasi geografis Jakarta Selatan sehingga sering disebut sebagai bahasa anak Jaksel. Loh apa hubungannya dengan Jakarta Selatan?

Advertisement

Kawasan Jakarta selatan identik dengan kaum hedon. Hal itu yang mengundang masyarakat berasumsi bahwa anak Jaksel kebanyakan anak gaul yang suka ngobrol menggunkan bahasa Inggris campur dengan bahasa Indonesia. Kosa kata which is, prefer, that is why nampaknya sedang digunakan oleh anak Jaksel. Namun seperti apa penggunaan kosakata ala anak Jaksel, berikut penjelasannya :

1. Penggunaan kata “Which Is”

Contoh kalimat : "Aku biasa saja, which is aku tidak benci sama kamu."

Advertisement

Penggunaan ‘which is‘ untuk menggantikan kosakata ‘yang’ atau ‘yang mana’. Apakah kamu pernah mencampurkan bahasa Indonesia dengan kosakata ini juga?

Penggunaan kata which is dalam bahasa Inggris juga ternyata tidak selalu benar. Karena penggunaan makna ‘yang’ dan ‘yang mana’ dalam bahasa Indonesia pergaulan dapat mengacu pada kata lain seperti ‘karena’, ‘maka’, bahkan ‘meski’. Makna-makna tersebut tidak sama dengan makna ‘which is’ yang merupakan relative pronoun atau kata pengganti. Kata pengganti ‘which is’ mengacu pada subjek berupa hewan atau benda atau bahkan menjelaskan kalimat itu sendiri.

Advertisement

2. Penggunaan kata “Prefer”

Contoh kalimat : "Kalau gue sih lebih prefer ke kampus naik mobil dibanding naik motor".

Kosakata ‘prefer‘ umumnya menunjukkan ketertarikan seseorang terhadap salah satu hal dibandingkan hal lainnya. Prefer mengandung arti ‘lebih menyukai’. Namun seringkali anak milenial menambahkan kata ‘lebih’ sebelum kata ‘prefer‘ yang membuat kata ini tidak efisien karena adanya pengulangan kata.

3. Penggunaan kata “That's why”

Contoh kalimat : "That's why kenapa sering pulang malem, kerjaan numpuk bro!"

'That's why' dalam bahasa Indonesia memiliki arti "itulah kenapa", biasa digunakan untuk penghantar ketika ingin menjelaskan penyebab dari suatu masalah. Kata 'why' sendiri memiliki arti yang sama dengan kata 'kenapa', jadi kamu tidak lagi perlu gunakan kata 'kenapa' ketika sudah gunakan 'that's why'.

Nah gimana pendapat kamu tentang fenomena campur bahasa ini? Apakah menurut kamu ini merupakan hal yang sah-sah saja dilakukan atau menggangu sehingga rasanya menjadi masalah?

Penggunaan bahasa campur seperti ini menunjukkan ketidakmampuan seseorang dalam menyusun kalimat, memilih kosa kata, dan menunjukkan ketidakteraturan dalam berpikir. Hal ini dikarenakan banyak diantara pola bahasa ini mengalami pengulangan sehingga komunikasi pun menjadi tidak efektif. Selain itu jika dipandang dari sisi orang asing di Indonesia, pencampuran bahasa ini secara tak langsung akan membuat orang asing di Indonesia jadi malas belajar bahasa Indonesia karena mereka akan beranggapan kalau orang Indonesia saja bicara dengan bahasa campuran, jadi tidak masalah kalau mereka juga menggunakan bahasa campuran.

Namun penggunaan bahasa campuran ini dalam sisi positif menunjukkan kemampuan berbahasa yang baik dan dapat membantu anak milenial memperkaya kosakata dan belajar bertutur bahasa Inggris dalam prakteknya. Tidak dipungkiri jika banyak orang yang merasa kesulitan menemukan lingkungan yang tepat untuk mempraktekan pembelajaran bahasa Inggris. Jadi hal ini bisa menjadi kesempatan bagi mereka.

Sebagai kaum milenial harus tetap menjaga keutuhan bahasa Indonesia, jangan sampai bahasa Indonesia menjadi pudar dan terkikis karena sudah terbiasa menggunakan bahasa campuran.

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya

Advertisement

“Artikel ini merupakan kiriman dari pembaca hipwee, isi artikel sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.”

Berikan Komentar

Tim Dalam Artikel Ini

CLOSE