Penjelasan di Balik Tangisan yang Ternyata Tidak Melulu Karena Kesedihan, Ternyata Lebih Kompleks Daripada itu!

penyebab manusia menangis

Kata sedih menurut KBBI dapat diartikan sebagai pilu dalam hati, duka, atau perasaan susah. Sehingga dapat diartikan bahwa sedih merupakan respon terhadap pengalaman yang dialami sehari-hari, yang dipicu dengan peristiwa tertentu seperti, berduka, kehilangan pasangan, kecewa, dan pengalaman yang kurang mengenakkan lainnya. Sedih merupakan salah satu dari lima emosi dasar yang dimiliki oleh setiap manusia tanpa terkecuali. Pada dasarnya, tidak salah apabila terkadang kita merasakan sedih. Karena emosi merupakan suatu hal yang tidak bisa lepas dari kondisi biologis pada suatu organisme hidup, baik hewan ataupun manusia

 (Wicaksono, 2015)

Advertisement

Lalu mengapa manusia mempunyai emosi sedih? Pada dasarnya, manusia adalah makhluk sosial. Emosi sedih yang dimiliki manusia, merupakan respon emosional yang wajar dan sehat yang apabila diungkapkan akan menjadi sinyal yang kuat untuk menarik orang lain, bahwa kita sedang membutuhkan perhatian dari diri sendiri dan dari orang lain (Schaeffer, 2019).

Seperti contoh ketika seorang bayi yang membutuhkan sesuatu, akan cenderung untuk mengungkapkan kesedihannya dengan menangis untuk memberikan sinyal pada orangtuanya bahwa ia membutuhkan sesuatu. Dengan kata lain, peran emosi sedih yang ada pada manusia adalah sebagai isyarat agar manusia dapat memiliki rasa empati terhadap diri sendiri, orang lain, bahkan cakupan  dunia yang lebih luas, karena manusia adalah spesies yang sangat sosial (Schaeffer, 2019).

Terbentuknya emosi tidak lepas dari peran bagian otak yang dikenal dengan sistem limbik, di mana Amygdala dan Hippocampus memiliki peran besar dalam pembentukan emosi seseorang. Menurut Anderson (2014), emosi dalam diri seseorang sudah diatur secara hierarkis. Yang artinya, otak manusia sudah mengatur kapan seseorang akan merasa senang, marah, bahkan sedih.

Advertisement

Sebenarnya berbagai macam emosi tersebut dapat direspon oleh manusia dengan berbagai cara. Namun, ada satu perilaku yang sering dilakukan bahkan perilaku ini digunakan sebagai alat berkomunikasi sebelum manusia mengenal bahasa, yaitu menangis. Kebanyakan orang mengira bahwa menangis merupakan respon ketika seseorang mengalami kesedihan atau pengalaman yang kurang menyenangkan. Namun, nyatanya menangis memilliki cakupan yang lebih luas. Menurut Ardianto (2016), menangis merupakan cerminan dari penyaluran emosi yang terdiri atas emosi kesedihan, kegembiraan, kekagetan, ketakutan, cinta kasih, kebencian, dan kemarahan, yang perwujudannya dapat melalui gerakan atau reaksi emosional. Jadi, tindakan menangis ini menyesuaikan dengan pengaruh dari luar atau stimulus yang ditangkap oleh indera manusia. Walau menangis disebabkan oleh berbagai macam emosi, tetapi secara umum menangis merupakan kegiatan yang melahirkan perasaan sedih, kecewa, menyesal, kehilangan dan sebagainya (Ardianto, 2016).

Berdasarkan pengamatan Trimble (2012), hewan akan cenderung untuk mengeluarkan suara atau teriakan untuk mengekspresikan rasa sakit atau kehilangan yang setara dengan manusia, tetapi tangisan yang menggambarkan kesedihan lebih menjadi ciri khas dari manusia. Karena manusia cenderung kesulitan untuk mendeskripsikan emosinya secara jelas, maka menangis menjadi tindakan yang tepat untuk menyampaikan penderitaan pribadi, terkhusus saat bersedih.

Advertisement

Selain itu, ternyata perilaku menangis pada manusia adalah perilaku turun-temurun dari leluhur kita. Trimble (2020) mengungkapkan bahwa, menangis muncul pertama kali saat prosesi menguburkan orang mati, dimana dalam prosesi tersebut para leluhur membuat api dari batu lempung, patung binatang dan manusia serta membakarnya bersama dengan jenazah. Tanpa sadar melalui prosesi tersebut, mereka mulai memikirkan kehidupan setelah mati, sebuah upacara, yang secara otomatis menyiratkan aura emosional dan pengakuan kehilangan. Selain itu, benda peninggalan yang ditinggalkanpun juga meninggalkan kenangan dengan sang pemilik yang dengan mudah memancing air mata ketika dlihat ataupun disentuh. Kemudian lama-kelamaan hal ini berkembang menjadi alat komunikasi untuk menunjukkan empati, belas kasihan, kebaikan sesuai dengan apa yang diprogram otak.

Ketika seseorang mengalami kesedihan, otak manusia akan memproses stimulus yang ditangkap oleh indera manusia kemudian disalurkan ke bagian sistem limbik yang berada di otak tengah. Kemudian bagian dari sistem limbik yaitu Amygdala (emosi) dan Hippocampus (memori) akan melakukan “komunikasi”, di mana memori yang tersimpan dapat membentuk emosi seseorang. Selanjutnya, saraf simpatik akan mengaktifkan mode stres dan Hippocampus akan mengeluarkan hormon untuk menyeimbangkan tubuh selama periode stres. Saraf simpatik yang mengatur kelenjar air mata yaitu neurotransmitter acetylcholine, akan mengaktifkan reseptor yang menyebabkan keluarnya air mata.

(Kyu, 2018)

Menangis merupakan suatu respon wajar ketika seseorang mengalami kesedihan. Namun, dalam beberapa anggapan tertentu, menangis merupakan tindakan memanjakan diri, lemah, cengeng, bahkan gangguan kejiwaan atau depresi

(Masman, 2010). Padahal antara sedih dan depresi merupakan dua hal yang berbeda. Sedih merupakan emosi atau respon normal terhadap sesuatu yang menyedihkan, sedangkan depresi merupakan gangguan serius tentang suasana hati yang membutuhkan penanganan serius (Masman, 2010). Disamping itu, masih melakatnya anggapan masyarakat bahwa seseorang harus tetap kuat dalam keadaan apapun, termasuk kuat untuk tidak menangis. Dalam budaya masyarakat kita yang cenderung mendefinisikan kesedihan secara sempit, membuat seseorang enggan untuk mengekspresikan kesedihan, khususnya menangis dan memilih untuk memendam atau menahan kesedihan tersebut.

Seperti yang kita ketahui bahwa budaya masyarakat juga berpengaruh pada perbedaan perilaku menangis bagi wanita dan pria. Dimana wanita cenderung memiliki rata-rata menangis yang tinggi dibandingkan pria, yaitu sebanyak 2-5 kali tiap bulan, sedangkan pria hanya 0-1 kali tiap bulan. Perbedaan ini terjadi mulai pada usia anak-anak yang kemungkinan besar akibat perbedaan sosialisasi, misalnya anak laki-laki sering diajarkan untuk tidak menangis yang kemudian dapat menyebabkan hilangnya kemampuan menangis saat dewasa

(Ocklenburg, 2017). Hal ini dikarenakan masyarakat masih memiliki pola pikir bahwa wanita digambarkan sebagai sosok yang lemah lembut, penyayang dan baik. Sedangkan pria lebih digambarkan sebagai sosok yang kuat dan tangguh. Itulah sebabnya orangtua mendidik anaknya, terkhusus bagi anak laki-laki untuk tidak menangis atau menjadi pribadi yang cengeng. Tanpa disadari perilaku ini akan menimbulkan “krisis diam-diam”, di mana anak laki-laki akan tampak kuat, tangguh, dan percaya diri, tetapi sebenarnya mereka tertekan, apalagi hal ini sudah mulai ditanamkan sejak usia 3-5 tahun yang berdampak terhadap terhambatnya proses perkembangan emosional yang sehat (Lawson, 2004).  

Seperti yang sudah dijelaskan di atas, ketika seseorang bersedih, maka saraf simpatik yang mengatur kelenjar air mata yaitu neurotransmitter acetylcholine akan mengaktifkan reseptor yang kemudian menyebabkan seseorang menangis. Tentu saja kondisi ini akan berbeda ketika seseorang menahan untuk tidak menangis. Ketika seseorang menahan tangis, maka saraf simpatik menjadi tegang dan otak akan mengirim sinyal ke kelenjar adrenal untuk melepaskan hormon stress, yaitu adrenaline dan kortisol. Kemudian hormon tersebut akan meningkatkan denyut jantung dan tekanan darah, yang dapat menimbulkan sesak di dada ataupun napas menjadi berat pada seseorang

(Tarungan, 2016)

Akibatnya, ketika seseorang menahan kesedihan, maka kecenderungan untuk mudah marah, mudah lelah, mudah bosan dan mudah rapuh akan lebih tinggi

(Masman, 2010). Di samping itu, menahan kesedihan akan berdampak pada gangguan kejiwaan seperti depresi. Menurut Schaeffer (2019), depresi merupakan akibat ketika seseorang mengalami banyak kesedihan dan belum ditangani dengan baik, yang berdampak pada stress berat kemudian berujung depresi.

Menangis dapat memberikan dampak positif bagi kita diantaranya, mengurangi stress karena saat sedang emosional, air mata yang dikeluarkan mengandung hormon stres dan merangsang produksi endorphin sebagai penghilang rasa sakit dan memberikan perasaan lebih baik (Orloff, 2010). Selain itu, menangis menurut Ardianto (2016), jika dikaji dari dunia kesehatan adalah menangis mengeluarkan garam-garaman seperti halnya melalui keringat dan air seni, maka dapat dikatakan bahwa menangis emosional mengeluarkan racun dalam tubuh.

Seharusnya sudah bukan sesuatu yang aneh lagi bahwa menangis adalah bagian dari emosi sedih yang perlu diekspresikan. Untuk itu, pola perilaku untuk menahan kesedihan perlu dihindari. Karena selain memberikan dampak yang besar, tentunya akan berpengaruh juga terhadap produktivitas seseorang dalam beraktivitas. Maka perlu disadari bahwa emosi sedih memiliki manfaat yang baik untuk seseorang. Menurut Masman (2010), manfaat dari bersedih, antara lain:

(1) Menyadarkan seseorang bahwa dirinya sedang tidak baik-baik saja dan membutuhkan pertolongan

(2) Dengan bersedih, secara tidak langsung seseorang dapat menenangkan diri dan dapat berpikir matang tentang jalan keluar yang akan diambil

(3) Bersedih dapat merubah pola pikir seseorang, bahwa semua membutuhkan proses dan akan indah pada waktunya

(4) Serta dengan bersedih, seseorang akan lebih menghargai diri sendiri.

Dengan begitu, dapat dilihat bahwa ketika rasa sedih disikapi yang dengan dewasa akan menjadi obat bagi jiwa diri kita sendiri. Tetapi sebaliknya, bila rasa sedih tidak disikapi dengan dewasa, maka suatu saat akan menjadi bom waktu yang akan meledak menghancurkan diri kita sendiri.

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya

Advertisement

“Artikel ini merupakan kiriman dari pembaca hipwee, isi artikel sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.”

Berikan Komentar

Tim Dalam Artikel Ini

Penulis

Halo, aku Zefany Sekar Sasongko. Biasa dipanggil Ze/ Nini. Sekarang aku kuliah di Universitas Brawijaya dengan prodi Psikologi. Ini kali pertama aku nulis di media online, Hope you enjoy :)

CLOSE