Komunikasi adalah suatu bentuk hubungan, baik antar manusia ataupun antar manusia dan Pencipta-nya.
Komunikasi di sini bisa berbagai bentuk, seperti berbicara, menuliskan pesan, penempelan poster atau selebaran, pemasangan iklan dan lain sebagainya. Di sini akan sedikit membahas mengenai komunikasi terutama antar manusia dan berbentuk lisan.

Menurut pengalaman, komunikasi semacam ini dapat memperluas jaringan dan mengakrabkan antar yang diajak berbicara. Namun, ada kalanya seseorang tidak mau untuk berbicara dengan orang tertentu, bahkan antar banyak orang. Bukan berarti mencap diri sebagai introvert, namun terkadang penulis juga perlu waktu sendiri ataupun sekedar tidak mau menggangu seseorang ketika berbicara.

Advertisement

Sekitar 6 atau 5 tahun yang lalu, penulis mulai untuk tidak berbicara dengan salah satu orang. Aku sendiri yang memutuskan untuk tidak mau berbicara dengannya. Namun, aku masih mau mengirim chat ataupun pesan singkat kepadanya, tapi tidak sering atau bisa dibilang jarang sekali, mungkin masih bisa dihitung jari.

Apa yang mendasari untuk tidak mau berbicara kepadanya? Padahal seperti yang aku bilang tadi, dengan berbicara sebagai bentuk dari komunikasi itu sendiri bisa memperluas jaringan dan mengakrabkan antar yang diajak berbicara.

Sewaktu aku masih SMP, aku pernah dan bisa dibilang suka atau tertarik dengan seseorang. Agar lebih mudah mengenalnya, sebut saja Asya (bukan nama sesungguhnya). Sebenarnya hal yang mendasari aku tertarik sama dia karena dia bisa memperhatikan hal-hal kecil dariku.

Advertisement

Mungkin, menurutku yang sudah berada di bangku kuliah ini, hal tersebut sebenarnya wajar-wajar saja. Karena memang kita bertemenan, otomatis terkadang ada perhatian dengan hal-hal tertentu. Walaupun itu kecil, hal lainnya mungkin lebih ke sifat fisik dan tidak perlu terlalu dijelaskan secara detail.

Waktu itu kelas 9, saat pelajaran berlangsung dan gurunya sedang pergi. Ada beberapa soal yang harus dikerjakan. Asyik dengan mengerjakan soal dan bertanya sana-sini. Satu hal, aku waktu itu bau burket yang memang marak-maraknya terjadi ketika masa pubertas, terutama buat cowok-cowok.

Ketika sedang mengerjakan, Asya yang waktu itu duduknya di sampingku, tepatnya di seberang bangku, seketika mengambil buku, dan langsung mengipaskan bukunya ke arahku, tepat di daerah ketiak mungkin. Waduh, pikiranku waktu itu agak sedikit ruwet juga, malu lebih tepatnya. Bayangkan saja, ada cewek yang tiba-tiba ngipasin dengan bukunya, dengan alasan yang bisa dibilang sangat objektif, burket. Malu, lama-lama jadi ada rasa, mungkin begitu lebih tepatnya.

Singkat cerita, gue memang punya rasa sama Asya, namun rasa itu hilang entah kemana, ketika dia mengirimkan pesan lewat chat Facebook yang bertuliskan

"Maaf, kita kayaknya temenan aja" (mungkin begitu pesannya, dengan sedikit improvisasi).

Waktu itu memang aku agak sedikit down. Namun parahnya lagi semenjak saat itu, aku nggak berani lagi ataupun mulai mengacuhkannya. Entah, itu adalah reflek diri atau memang aku pengen jauh aja dan tidak pengen mengganggu kehidupannya lagi. Karena aku tahu, aku bukan apa-apa waktu itu. Walaupun sampai sekarang pun aku belum jadi apa-apa, hanya siswa dan menjadi mahasiswa biasa.

Waktu bergerak ke masa SMA. Kita satu SMA waktu itu, dan ya tetap berlanjut di jalan masing-masing. Aku jarang kumpul sama dia, jarang ngobrol face to face sama dia, hanya mengandalkan pesan aplikasi yang terkadang dibalasnya juga pasti lama. Lewat di depan kelasnya saja, aku harus lihat situasi dan kondisinya, apakah dia ada di depan kelasnya atau tidak.

Kalau iya, langkah kaki langsung kupercepat, tidak mau berlama-lama hanya untuk menyapa teman lainnya yang satu kelas sama Asya. Pernah suatu saat ku kirim pesan ke dia, hanya bertanya mengenai tugas suatu mata pelajaran. Walau aku dan dia beda kelas, namun mata pelajarannya sama, dan waktu itu gurunya juga sama. Hanya mengirim pesan seperlunya saja, tidak lebih. Hanya itu saja komunikasi kami yang masih terjadi waktu sekolah dulu.

Singkatnya, butuh waktu kisaran 3 tahun semenjak dari SMP sampai kami lulus dari SMA untuk bisa berbicara nyaman satu sama lain. Pembicaraan dimulai, ketika aku menghadiri acara perpisahan sekolah. Waktu itu, aku membawa kamera untuk berfoto dan mengabadikan momen-momen yang tercipta kala itu.

Momen itu datang, aku mengambil foto Asya bersama teman-temannya. Aku tidak merasakan apa-apa sih, hanya tidak banyak bicara dan terkesan to the point-nya saja. Aku juga tau dia lolos di salah satu Universitas Negeri yang ada di Pontianak dan mengambil jurusan Pendidikan Dokter.

Dia memang pintar dan rajin, terlihat sejak sekelas sama dia dulu di kelas 7 SMP. Dibilang serius, anaknya nggak serius-serius amat, enak diajak ngobrol menurutku. Setelah acara tersebut, aku bertanya ke dia, foto-fotonya mau dikirim nggak, dan dia menjawab kirim aja lewat chat atau email.

Bukan hanya aku yang punya alasan untuk tidak berbicara dengannya, tapi dia juga punya alasan yang bisa dibilang wajar, karena waktu itu masih zaman-zamannya anak remaja yang labil. Dia mengatakan bahwa hal tersebut cukup aneh buatnya. Yang awalnya hanya kawan, tahu-tahu sudah pengen dianggap lebih, mungkin itu menurutnya.

Alasan yang dilontarkannya cukup masuk akal menurutku, waktu itu mungkin sedang polos-polosnya. Dia juga mengungkapkan bahwa, setelah itu, waktu ia masih kelas 10, ada juga temannya yang hampir mirip dengan gue. Suka dengannya dan dia pun menolaknya. Dan diperlakukannya hampir mirip dengan gue.

Dari sini, aku belajar banyak hal, yaitu menjadi pribadi yang harus bisa berkomunikasi dan nyaman-nyaman aja untuk ngobrol dengan banyak orang, bahkan dengan orang yang berkaitan dengan masa lalu ketika sekolah.

Sekarang beranjak dewasa, harus bisa memilah mana yang harus dibawa perasaan atau yang enggak. Walaupun terkadang kita juga suka lupa hal-hal mana aja yang harus dibaperin atau enggak. Dari cerita ini, aku juga belajar untuk tidak memaksakan suatu perasaan kepada seseorang. Harus melewati beberapa tahapan, bukan berarti untuk pacaran, tapi lebih ke kenal saja, tidak lebih.

Komunikasi memang penting bagi mahasiswa zaman sekarang, tidak harus sebatas chat saja. Tapi harus mampu berhadapan langsung dan menunjukkan perilaku yang baik terhadap lawan bicara kita. Tidak harus dengan teman-teman saja, harus diimbangi dengan orang tua, dosen atau guru kita, orang yang lebih tua dari kita, bahkan untuk orang yang belum kita kenal secara langsung.

Sekali lagi, bangun koneksi dan komunikasi antar sesama, bahkan dengan orang yang dulu pernah menyakiti kita.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya