Pentingnya Mengetahui Risiko Kehamilan Beda Rhesus Antara Ibu dan Janin

Tiap manusia memiliki tipe darah yang berbeda-beda dan dapat diklasifikasikan dengan beberapa cara penggolongan darah. Darah manusia yang dibedakan dengan ada tidaknya antigen dan antibodi pada tubuh secara umum dikenal sebagai sistem penggolongan darah ABO. Selain itu, terdapat sistem penggolongan darah yang tidak kalah penting yaitu sistem rhesus. Rhesus adalah suatu penggolongan atas dasar keberadaan substansi antigen-D pada darah. Sistem ini menggolongkan darah menjadi 2 yaitu rhesus positif dan rhesus negatif. Antigen-D dapat ditemukan pada permukaan eritrosit (sel darah merah) dengan rhesus positif dan tidak ada pada permukaan eritrosit dengan rhesus negatif.

Pada sistem rhesus, antibodi anti-Rh akan muncul pada orang dengan rhesus negatif apabila orang tersebut telah terpapar eritrosit dengan antigen-D atau darah dengan rhesus positif. Misalnya pada ibu hamil yang memiliki Rh- dan janin yang dikandungnya memiliki Rh+. Kondisi ini disebut sebagai inkompatibilitas rhesus. Selama kehamilan, eritrosit janin dapat melintas menuju sel darah ibu melalui plasenta. Ibu yang memiliki Rh- akan menganggap antigen-D yang ada pada eritrosit bayi Rh+ sebagai substansi asing. Akibatnya, ibu akan merespons dengan cara membentuk antibodi anti-Rh dan akan melawan eritrosit bayi (isoimunisasi). Sel-sel eritrosit janin akan pecah dan menyebabkan terjadinya pemecahan hemoglobin (Hb). Akibatnya, janin akan mengalami anemia hemo lipid yang dapat membahayakan nyawa. Risiko terjadinya anemia adalah sekitar 0,35% dan membutuhkan transfusi pada 10% kasus diantaranya.

Selain itu, produk darah yang pecah juga akan menghasilkan bilirubin tinggi yang akan menyebabkan bayi berwarna kuning (ikterus). Kadar bilirubin yang tinggi dapat menyerang otak dan menyebabkan cerebral palsy bahkan berisiko kematian apabila tidak segera ditangani. Isoimunisasi eritrosit terjadi pada sekitar 4000 bayi per tahun dengan 15% diantaranya meninggal dalam kandungan. Namun, pada kehamilan pertama biasanya tidak akan terjadi respon tersebut karena antibodi yang terbentuk berupa immunoglobulin M (IgM) yang memiliki ukuran besar sehingga tidak dapat melewati plasenta. Pada kehamilan berikutnya yang terbentuk adalah immunoglobulin G (IgG) yang berukuran lebih kecil sehingga dapat melewati plasenta. Risiko terjadinya isoimunisasi pada kehamilan pertama adalah sekitar 0,7% sampai 1%.

Ada beberapa cara yang bisa dilakukan untuk mencegah terjadinya isoimunisasi. Wanita yang belum mengalaminya dapat diberikan imunoglobulin anti-D dosis profilaksis. Pemberian ini menciptakan efek seperti tubuh sudah memiliki antibodi sehingga tidak akan menghasilkan antibodi sebenarnya yang akan menyerang janin. Diperkirakan sekitar 1% wanita Rh- akan membentuk antibodi apabila tidak diberikan profilaksis dan 7-9% akan membentuk antibodi 6 bulan setelah persalinan. Janin harus dipantau secara ketat agar dapat deteksi dini kemungkinan terjadinya anemia, perdarahan, ikterus, dan berbagai risiko lainnya. Inkompatibilitas rhesus sulit dihindari namun risikonya bisa diminimalisir dengan cara skrining golongan darah lengkap calon suami istri pada pemeriksaan pra nikah serta pada ibu dan bapak sebelum program hamil. Pengecekan golongan darah juga dapat dilakukan pada bayi dalam kandungan yaitu dengan cara cord sampling.

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya

“Artikel ini merupakan kiriman dari pembaca hipwee, isi artikel sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.”

Berikan Komentar

Tim Dalam Artikel Ini