Pentingnya Pendidikan Karakter di Era Globalisasi

Globalisasi adalah proses global atau komprehensif dimana setiap orang tidak mengetahui atau terikat oleh batas negara, artinya setiap individu dapat berhubungan dan bertukar informasi tanpa memandang waktu dan jarak melalui media cetak dan elektronik. Globalisasi juga menjadi sarana pertukaran budaya dan hubungan sosial ekonomi tanpa melihat status sosial dan perkembangan yang terkandung dalam kehidupan sehari-hari. Globalisasi mempunyai dampak yang sangat berarti bagi dunia, khususnya bagi kehidupan manusia. Melalui proses globalisasi seluruh tatanan kehidupan dan peradaban di dunia semakin dinamis dari waktu ke waktu, melalui globalisasi berbagai aspek kehidupan menjadi lebih mudah dan lebih tidak terbatas.

Perkembangan globalisasi saat ini memang berkembang sangat pesat, namun semua itu tentunya dipengaruhi oleh beberapa faktor pendorong, diantaranya disebabkan oleh infrastruktur telekomunikasi, kemajuan teknologi, kemajuan transportasi, pertukaran budaya, dan lain-lain, namun globalisasi tidak sepenuhnya berdampak baik bagi kehidupan kita saat ini, salah satu contohnya adalah menjadikan manusia memiliki sifat atau sikap yang individualis, yang hanya mementingkan keuntungan sendiri tanpa memikirkan bagaimana nasib yang akan dirasakan oleh orang lain. Semua ini terjadi karena kurangnya pendidikan karakter baik bagi anak-anak usia dini, dewasa, atau lanjut usia. Pendidikan karakter merupakan suatu sistem pendidikan yang bertujuan untuk menanamkan nilai-nilai karakter tertentu kepada peserta didik, di mana di dalamnya terdapat komponen pengetahuan, kesadaran atau kemauan, serta tindakan untuk melakukan nilai-nilai tersebut.

Jadi, pendidikan karakter adalah suatu usaha manusia secara sadar dan terencana untuk mendidik dan memberdayakan potensi peserta didik guna membangun karakter pribadinya sehingga dapat menjadi individu yang bermanfaat bagi diri sendiri dan lingkungan. Karakter identik dengan akhlak, etika, dan moral, sehingga karakter merupakan nilai-nilai perilaku manusia yang universal meliputi seluruh aktivitas manusia, baik dalam rangka berhubungan dengan Tuhan, dengan dirinya, dengan sesama manusia, maupun dengan lingkungannya. Karakter tersebut biasanya dapat kita temui dalam bentuk pikiran, sikap, perasaan, perkataan, dan perbuatan berdasarkan norma-norma agama, hukum, tata krama, budaya, dan adat istiadat. Jadi karakter tidak selalu menjadi gambaran diri seseorang berdasarkan persepsi orang lain, tetapi perilaku yang apa adanya.

Di zaman era globalisasi seperti saat ini, seringkali kita temui anak-anak milenial yang menjalani aktivitas sehari-hari dengan sesuka hatinya sendiri tanpa memikirkan orang lain, mungkin bisa dibilang tata kramanya terhadap lingkungan sekitarnya sudah menipis. Bukan hanya itu, saat ini banyak sekali kita temui anak-anak atau remaja atau bahkan orang tua, yang akan melakukan segala cara untuk meraih kemenangan atau kesenangannya sendiri. Salah satu contoh yang sering terjadi di kehidupan anak-anak atau remaja saat ini yaitu ketika mereka berlomba-lomba dalam meraih nilai yang terbaik di sekolah mereka, ambisi mereka yang sangat tinggi memang patut untuk ditiru, namun di satu sisi terkadang ambisi mereka yang sangat tinggi tersebut dapat menumbuhkan rasa egois dalam diri mereka, perasaan ingin menang sendiri, tidak menghargai pendapat orang lain, bahkan mungkin melakukan suatu kecurangan untuk meraih predikat tinggi yang mereka inginkan.

Padahal, sejatinya percuma ketika kita hanya memiliki ilmu yang tinggi atau jabatan yang tinggi, namun kita tidak memiliki rasa simpati atau empati terhadap orang lain atau lingkungan sekitar kita, hal tersebut akan menjadikan keberadaan kita sulit diterima oleh masyarakat. Padahal kita sebagai makhluk sosial seharusnya kita memperluas lagi interaksi kita dengan orang lain, karena seluruh kemampuan yang kita miliki pada akhirnya mayoritas akan kita terapkan dalam dunia pekerjaan yang mana pasti akan melakukan interaksi secara langsung dengan banyak orang dengan berbagai macam latar belakang yang berbeda. Jika sejak saat ini kita tidak bisa menghargai argumentasi orang lain, maka itu akan mempersulit kita sendiri ketika sudah memasuki dunia profesi. Dari penjelasan di atas, seharusnya kita sadar, bahwa bukan hanya nilai atau jabatan tinggi saja yang kita butuhkan untuk kesuksesan kita kedepannya, namun ada satu hal yang lebih penting dari semua itu, yaitu bagaimana cara kita menjaga tata krama kita sehari-hari.

Karena ketika kita memiliki tata krama yang baik, sekurang apapun pengetahuan kita terhadap sesuatu masih dapat diatasi, kita dapat bertanya atau mungkin meminta tolong untuk dijelaskan mengenai hal apa yang kita belum pahami sehingga seiring berjalannya waktu kita dapat memahami hal tersebut tanpa harus kehilangan moral dalam diri kita.

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya

“Artikel ini merupakan kiriman dari pembaca hipwee, isi artikel sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.”

Berikan Komentar

Tim Dalam Artikel Ini

Penulis