Ini tentang dukaku. Tentang kebodohan yang sulit untuk dijelaskan. Tentang bagaimana aku merampas kebahagiaan orang lain. Maaf, untuk dua tahun belakangan ini luka itu masih menyayatmu. Dengan sangat menyesal aku pun tak tahu saat itu kekasihmu memilihku.

Seharusnya saat semuanya terjadi, tak kubiarkan kita bertengkar memperebutkannya, waktu itu harusnya aku yang mengalah. Seharusnya saat itu tak kubiarkan kekasihmu mengulurkan tangan padaku. Karena kesedihanku kamu terluka, kisahmu harus kau relakan mati bersamaan dengan kisahku yang baru saja dimulai.

Advertisement

Begini saja, mari kita limpahkan semua kesalahan pada mantan kekasihku, dia yang membuatku terluka parah. Hingga tak bisa kutemukan lagi selain dirinya. Pikiranku selalu tertuju padanya, bagaimana mungkin dunia nyataku mampu meraihku, sedangkan mantan kekasihku masih berdiri dipintu itu.

Seharusnya kekasihmu tak usah memperdulikanku, mungkin LUKA kita ini tidak akan terjadi.

Ini bukan tentang lukamu saja, ini tentang lukaku dan lukanya juga. Untuk membuatku tersenyum dia merelakan kisahnya hancur, hanya untuk menggenggam tanganku dia melepaskan genggamanmu. Tetapi kamu tenang saja namamu selalu dihatinya, aku pastikan itu.

Advertisement

Sepuluh bulan pertama kami, kulalui juga dengan tangisan. Tak ubahnya sepertimu, aku juga terluka. Bagaimana mungkin aku tidak menangi, hatinya masih dipenuhi dengan cintamu. Setiap hari kamu masih menghubunginya berharap dia memutuskanku dan kembali padamu. Dia tak pernah tau, setiap kali aku tau tentangmu masih dihari-harinya aku merasakan sakit lagi, tak ubahnya dengan sakit 3 tahun lalu. Aku hanya bisa menghela nafas panjang dan mengatakan "tak apa, semua akan baik-baik saja", hanya kata-kata itu yang bisa menguatkan hariku.

Sekarang mungkin kamu berlalu pergi, seketika dia enggan memutuskanku dan mungkin kamu lelah menunggu. Belakangan ini kudengar kamu menemukan pengganti dia. Jujur aku menangis pertama kali mengetahuinya. Kenapa kamu segagabah itu? Kenapa kamu tidak memperjuangkan hatinya lebih jauh lagi? Kenapa kamu tidak menunggunya saja? Barangkali hatinya masih tersentuh lagi oleh cintamu.

Sungguh aku seperti orang yang hina, aku mematahkan hatimu. Aku pernah berpikir untuk mengembalikan kekasihmu. pernah kudiskusikan padanya untuk memperbaiki segala. Tapi aku tak tega mematahkan hati kekasihmu lagi. Dia cukup terluka kehilanganmu.

Dia bersandar dibahuku, aku tau saat itu dia terpukul hebat mendengarmu mendapat penggantinya. Aku hanya bisa mengelus rambutnya dan mengatakan "tak apa, semuanya belum terlambat. Yakinkan kembali hatinya. Hatinya masih tetap untukmu, kembalilah padanya", dengan berat hati aku mengatakannya. Dia tetap tak ingin kembali. Lalu aku harus bagaimana lagi? Aku selalu dihantui rasa bersalah.

Kdua tanganku tak pantas untuk meminta maaf padamu. Salahku terlalu besar padamu. Sebagai gantinya aku akan menjaganya untuk kita berdua, untuk cintaku cintamu. Maafkan aku membuatmu patah hati. membuatmu merasakan luka yang menyayat seperti yang ku alami dulu.

Mafkan aku, andai saja waktu bisa ku ulang kembali, tak kubiarkan kamu patah hati. Maafkan aku..

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya