Mungkin aku telah lupa hari dan tanggalnya. Tepatnya kapan aku memang lupa. Tapi satu hal yang kuingat kala itu adalah kemeriahan tingkahnya yang tidak dibuat-buat. Terlebih berkumpul bersama sahabat dekatnya. Puput. Iya aku memanggilnya demikian. Nama yang simpel. Ringkas. Mudah diingat. Dan tahukah kau, bukan Puput nama aslinya. Atau nama panggilan pada umumnya. Aku yang memberi nama itu padanya. Sengaja. Dan aku suka-suka saja. Nyaman-nyaman saja.

Bukan aku sedang merayu atau menunjukkan eksistensiku sebagai mahasiswa bahasa dan sastra Indonesia. Kamu adalah orang yang berhasil membuatku kagum sekaligus terkesan.

Perempuan yang ingin aku ceritakan kali ini bukanlah Puput. Tidak seperti hari kemarin sebab aku sudah membahasnya dengan detail. Aku ingin sedikit berbeda. Membuat cerita yang menurutku menarik. Bisa dijadikan inspirasi. Dapat dikenang. Untuk dia tentunya. Juga karena aku selalu menyukai kenangan. Semua.

Namanya Atikah. Lengkapnya Atikah Ratrih Kusumastuti. Dia itu teman perempuanku. Teman kuliah. Satu kelas malahan. Kelas D. Di jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. Ahh.. meski sekali lagi mengingat jurusan yang kumasuki sekarang, masihlah ada rasa getir dan duka. Mengendap begitu saja di ulu hati. Dalam. Susah dihilangkan. Masih sakit hingga sekarang. Dan aku tak tahu apa obat mujarab memulihkan ingatan-ingatan, rentetan kegagalan selama berbaju putih abu-abu. Tapi mungkin, apa yang kurasa juga dirasa oleh Atikah. Entah sama tidaknya pegalaman itu. Entah lika-liku apa yang dia lewati. Persisnya aku tak tahu. Sama sekali tidak.

Advertisement

Atikah.

Setiap kali aku berjumpa, ia selalu memasang wajah cemberut. Apalagi jika aku dekat dengan Puput. Jika aku memanjakannya. Memanggil namanya dengan tulus. Memperhatikan kehadirannya ketimbang Atikah. Aku sempat berpikir, mungkin aku harus membagi perhatianku kepadanya. Sebatas menyapa mungkin. Atau… membuatkan nama khusus untuknya? Semata agar ia tak memasang wajah jeleknya. Aku tidak suka.


Sendi. Indah. Putri. Abel. Titian. Vivi. Amel. Via? Oh jangan, itu panggilan untuk Puput juga. Kalau aku sedang malas memanggilnya Puput. Kira-kira apa yang pas. Cocok. Enak untuk didengar.


***

Sudah terlampau banyak di sana perempuan rupawan. Satu hal saja yang ingin kutawarkan dengan menjadi minimalis. Tidak perlu "wah" untuk menunjang penampilanmu!

Sesaat sebelum foto kelas dimulai, kami sibuk mengurus tugas untuk ujian akhir semester. Saling koordinasi bagaimana kejelasan selanjutnya. Semata tugas itu cepat selesai dan mendapat hasil paling maksimal. Tentang proyek menerbitkan majalah.

Tempat itu biasanya sepi. Tapi mendadak ramai ketika kelas kuliah selesai, tempat itu sudah dipenuhi orang berbaju orange. Tapi aku lupa berapa jumlah orang saat itu.


“Tolong fotoin aku sama Puput!” pintaku. Buru-buru Atikah melipat bibirnya, kerutan-kerutan di wajahnya makin tampak jelas. Menyembul begitu saja. “Di sini saja. Hayu cepat! Pakai handphone yang kameranya bersih dan bening.” Aku memintanya lagi, kali ini lebih ekspresif karena aku sudah tak sabar.


Di luar, suara tidaklah sebising biasanya. Suara kendaraan bermotor. Suara orang bicara. Suara tawa meledak-ledak. Langkah kaki semrawut melintas depan aula kampus. Semua suara itu terasa aneh di telingaku. Yang ada, yang terasa, yang kutemukan sebongkah kedamaian. Meski sesaat. Aku suka. Semua yang di sekitarku bergembira. Akhirnya dapat berkumpul meski beberapa orang tidak hadir karena mengikuti acara yang dibuat anak-anak bahasa. Edukasi serta kunjungan kerja ke kampus di Jakarta. Katanya?

Tidak hanya aku. Yang lain pun sibuk berfoto ria.

Kami menunggu dengan sabar seseorang yang akan mengabadikan momen sore itu. Seseorang yang membantu kami menyimpan kenangan, peristiwa kami selama menempuh mata kuliah Jurnalistik. Kamera yang dibawa dosen itu beberapa kali diujicobakan. Satu dua jepretan mencari objek terbagus. Viky, orang yang kami tunggu tak kunjung datang hingga kami terpaksa meminta bantuan seorang satpam mengabadikan momen itu. Kuingat Puput menghampiri satpam itu. Berdialog sebentar, lantas ia berjalan ke arah kami. Ia setuju menuruti permintaan Puput.

***

Aku tidak meledek karena fisikmu. Hanya saja aku heran, mengapa orang bertubuh pendek pandai memancing rindu. Bahkan aku lupa caranya untuk menyapamu di setiap perkuliahan.

Aku, laki-laki yang suka melihat, menilai seorang perempuan dari tinggi badan. Juga porsi tubuh perempuan. Tapi untuk momen tertentu, rasanya menghakimi seorang perempuan dari tampilan fisik bukanlah diriku. Tak ketinggalan untuk Atikah. Tidaklah cantik orangnya, tidak juga jelek. Tapi pendek. Lebih pendek ketimbang Puput. Tidak sedikit ledekan kecil yang kulontarkan padanya. Dari Puput, aku, dan teman lainnya. Pikirku, aku yang memiliki tinggi 168,5cm, suka ilfeel jika melihat Atikah. Karena aku menginginkan perempuan yang bisa mengimbangi tinggi badanku. Kadang aku membayangkan, berjodoh dengan Atikah kelak. Tinggi anak-anakku berapa cm? 150cm. 160cm. 170cm. Lebih dari itu? Atau bahkan sama dengan tinggi milik ibunya?

Aku tak ambil pusing!

***

Rasanya baru kemarin kita berjumpa. Bicara tentang cinta dan kehidupan. Terutama hari di mana kita akan menjadi orang yang sebenarnya.

Kelas Jurnalistik memang telah selesai. Setelah menempuh tiga mata kuliah dalam jurusan pilihan, kami-aku-Atikah-juga Puput kecil akan berpisah. Tidak bertemu. Hanya menyapa. Mengingat kembali kekonyolan yang pernah terjadi. Bisa tentang awal pembentukan redaksi majalah. Tentang hiruk-pikuk kelas dari anak-anak yang sibuk bicara sendiri. Namun, paling gereget dan susah dilupakan adalah betapa cueknya kami menanggapi ceramah dari dosen.

*Untuk perempuan yang ingin kupanggil RAMYUN!

Depan Kampus II UAD, Rabu, 28 Desember 2016