[CERPEN] Perempuan yang Menangis di Bawah Hujan

cerpen dewasa

Di bawah gemericik air hujan yang kembali turun, sesekali potret cahaya terang di sertai suara gemuruh yang seakan menjadi melodi pengiring tangisan malam. Aku hanya berteduh sembari menyeruput sebotol kopi yang aku beli di mini market, sembari menjinjing satu keresek kopi beserta mie instan, aku membungkus kameraku yang memang selalu aku bawa secara sengaja. Karena terkadang momen yang tepat itu datang secara mendadak.

Hingga beberapa menit berlalu, datanglah seorang wanita dengan tangan berlumuran darah yang sepertinya masih saja menodai pakaian putihnya yang pendek, dengan dada menonjol berteriak, “Lepaskan aku!” Dengan rok pendek di atas lutut. Di bawah hujan dia menepi sembari membawa sebuah tas jinjing kecil berwarna hitam.

Dia menghampiri dan duduk di sampingku. Aku menatapnya, dan dia hanya berkata, “Boleh pinjam korekmu mas?” Seakan tidak terjadi apa apa, dia menyedot dan menghembuskan rokok miliknya, dia menawariku rokok yang ia bawa, kotak rokok itu dilumuri darah yang entah disengaja atau tidak.

“Aku baru saja membunuh seseorang,” ungkapnya. Aku sedikit terkejut dan memberikannya sebotol kopi yang aku bawa. "Kopi?" tanyaku sambili memberikan padanya. Tangannya yang kecil menarik kopi dari tanganku tanpa basa basi. Dia terlihat mencoba untuk tegar di balik rasa gelisahnya. Tangannya pucat dan gemetar. Aku tidak tahu, dia takut atau kedinginan karena memang cuaca malam ini tidak mendukung sama sekali.

Aku kembali membuka percakapan. "Siapa yang kamu bunuh? Kenapa kamu melakukannya?"

Dia hanya tersenyum menyindir, dia malah bertanya, "Apakah Tuhan akan memaafkan aku jika aku membunuh seseorang yang ingin memperkosaku? Apakah aku akan menjadi pendosa jika aku membunuh seseorang yang ingin menodai diriku?"

Aku terdiam sebari menghisap rokok yang dia berikan, sesekali ia mengelap tangannya ke bajunya yang memang sudah basah dan menerawang.

"Entahlah," jawabku.

"Aku hanya seorang wanita pemandu lagu, aku bukan pelacur yang menjual harga dirinya demi uang seratus dua ratus ribu. Aku yakin pekerjaanku halal, tapi kesan orang orang aku sama saja seperti mereka, namun aku tidak pernah menjual tubuhku. Aku memang memiliki seorang putra, tapi aku tidak sudi jika tubuhku harus dicicipi oleh para pria hidung belang,"

Sambil menghisap rokoknya kembali, ia kembali bertanya.

"Apakah aku seorang pendosa? Jika aku memukul kepala seorang pria yang ingin memperkosaku hingga dia tewas? Apakah Tuhan akan memaafkanku jika aku berkata padanya, aku hanya ingin melindungi diriku?"

Aku bungkam dan hanya bisa menjawab, "Kenapa kamu tidak menyerahkan diri saja? Di dunia ini tidak ada pembenaran yang mutlak. Apapun yang kamu lakukan pasti ada pandangan buruk orang terhadapmu. Jika menurut kamu itu benar pegang teguh hatimu, jangan dengarkan perkataan orang lain. Jalani saja apa yang menurutmu benar, meski dunia bilang itu sebuah kesalahan."

Dia hanya tersenyum sambil terus meratap ke atas langit. Kupandang wajahnya, dia memang cantik, dengan tubuh yang sangat proposional, menggunakan heels berwarna sama dengan gincu di bibirnya. Sesekali dia menggigit bibir bawahnya seperti menahan beban yang sangat berat. Kemudian dia menatap ke arahku.

"Kenapa kamu tidak memanggil polisi dan menyerahkan aku pada mereka yang bisa bertindak sebagai orang yang memahami arti kebenaran?"

Aku memalingkan wajahku ke arah lain sambil berkata, “Apakah kamu yakin itu jalan terbaik yang ingin kamu pilih?"

Aku membuka telepon genggamku dan jam menunjukan pukul 01.22 dini hari. Aku hanya kembali menutupnya dan kembali menghisap rokokku yang sudah hampir pada batasnya.

Dia hanya berkata “Aku ingin pulang, aku rindu anakku. Entahlah mungkin ini hari terakhirku untuk bisa di sampingnya.” Lalu dia beranjak bangun dari duduknya dan kembali merapikan rambutnya yang sudah sedikit mengering. Dia membuang rokoknya dan mulai beranjak meninggalkanku.

Dari matanya aku melihat setitik air harapan yang mengalir bersama air hujan yang mulai menderas mengiringi perjalananya, tatapannya ke langit seperti mengisyaratkan kepada dunia, bahwa dunia ini memang kejam. Aku melihat seorang pembunuh, seperti sedang menangis dan membohongi dunia dengan ketegarannya. Air mata yang bercampur air hujan. Aku tidak bisa membedakannya, yang jelas dia hanya datang dan pergi dengan ketegarannya.

Tidak ada pembenaran dalam sebuah pembunuhan, tidak ada pembenaran juga untuk sebuah pelecehan bahkan pemerkosaan. Dunia pasti akan menuntutmu dan memberikanmu sebuah hal yang mereka sebut sebagai “penebusan dosa” Mereka akan menuntutmu atas dosamu, seakan mereka manusia paling suci, Namun meski begitu, inilah dunia yang kita pijak, dunianya para manusia yang menganggap diri mereka Tuhan.

Dalam langkah kecilnya, aku mengambil kamera dan mengabadikan sosoknya yang sangat anggun. Dalam tatapanku dia menggunakan pakaian pengantin yang sangat indah. Dengan mahkota bunga di atas kepalanya. Dia seperti diiringi dua malaikat, dengan sayap putih yang melebar. Dia kembali menatap ke arahku ketika aku mulai memotretnya dia memalingkan muka dan menghilang di bawah hujan.

Sosoknya tidak pernah bisa aku abadikan dalam sebuah potret kamera dan ceritanya hanya menjadi sebuah cerpen yang aku tulis dalam secarik kertas. Andai aku bisa kembali bertemu dengannya, mungkin ada satu kata yang ingin aku sampaikan padanya…

"Maafkan aku hampir memperkosamu."

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya

“Artikel ini merupakan kiriman dari pembaca hipwee, isi artikel sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.”

Berikan Komentar

Tim Dalam Artikel Ini