Hai, kamu. Apa kabar? Ku lihat kau nampak murung dari biasanya. Namun, aku berharap keadaanmu selalu baik-baik saja. Hai, bolehkah aku menyapamu? Kita memang tak sesering dulu perihal bertemu. Ah ya, kita mulai sibuk dengan urusan masing-masing, mengejar impian, menata masa depan. Kita mulai menjadi orang asing dan kini kita mulai sama-sama merentangkan jarak. Maafkan aku atas sikapku, aku tahu aku adalah orang yang terlalu tega dalam hal menyakiti.

Untukmu yang mencintaku sepenuh hati, dan aku yang perlahan menyakiti. Maafkan aku atas rindumu yang tak bisa ku balas kembali. Aku paham betul tentang sosokmu yang sabar menanti, sedangkan aku adalah orang yang belum bisa lepas dari kata patah hati. Terbilang tiga tahun, kau memilih bungkam dengan rasamu yang berusaha kau tujukan untukku. Sedangkan aku pada saat itu sedang merindukan orang lain, yang bukan kamu. Apa dayaku yang tak pernah melihat seluruh pengharapanmu padaku. Seolah hatiku tertutup rasa dengan orang yang ku sebut dengan kekasihku kala itu.

Advertisement

Lalu, pada hari itu, kau datang dengan sejuta cinta yang lama kau pendam. Bolehkah aku mengatakan bahwa kau datang di saat yang tidak semestinya? Kala aku masih saja berusaha bangkit dari luka perih mengiris dada. Lagi, maafkan aku. Perihal segala keegoisanku tanpa memperhatikan perasaanmu. Sungguh, aku tiada bermaksud untuk menyakiti. Hanya saja, aku terlalu cepat untuk meyakinkan perihal kondisi hati yang membutuhkan sosok pengganti. Ya, aku menerimamu kala itu. Aku seakan-akan merasa benar telah menjatuhkan hatiku padamu. Aku berpura-pura merindu, dan terlalu memberi harapan besar kepadamu. Maafkan atas kekeliruanku.

Aku mencoba untuk sedikit saja membuka hati. Untukmu, yang dengan segala rela untuk selalu mengerti. Namun, aku selalu gagal dalam memahami diri sendiri. Aku masih saja terpuruk dalam luka hati. Aku sadar, bukan dirimu yang aku cari. Aku tidak bermaksud menilaimu tidak baik dalam hal mencintaiku. Hanya saja, aku mulai menyadari bahwa aku yang tidak baik untukmu. Jika kau tahu, aku adalah sosok yang tanpa sadar selalu mempermainkan perasaanmu.

Aku yang terlalu sering memberimu angin penuh harapan, tentang masa depan yang kelak akan kita bina bersama. Aku yang terlampau sering menjanjikanmu banyak hal, mengenai aku yang takkan pernah meninggalkanmu sendirian tanpa perasaan. Kau sempurna. Sungguh. Karna bagiku, kau adalah orang sabar dalam hal mencintai. Hanya saja, pada saat itu kau dan perasaanmu berjuang sendiri. Ku kira banyak wanita di luaran sana yang menginginkan dirimu. Kau yang mencintai wanita dengan bersungguh-sungguh dan aku hanyalah orang yang tak bisa mencintaimu dengan penuh.

Advertisement

Untukmu, yang pernah berkata terlalu takut kehilanganku. Terima kasih untuk segala perhatian dan pengertian yang kau beri. Aku masih saja belum bisa membalasnya dengan cara yang sama. Terima kasih untuk segala waktu yang kau habiskan bersamaku, menjadi pendengar perihal cerita patah hatiku. Terima kasih pernah menuntunku, mengajariku untuk selalu tegar berdiri seperti sosokku yang dulu. Terima kasih untuk rasa cinta yang tak pernah surut kau eja, meski aku tak pernah bisa mengatakan hal yang sama.

Maafkan aku, untuk setiap doa yang kau panjatkan dan aku ada di dalamnya. Maafkan aku, jikalau aku terlalu berdosa karena menjadikanmu pelarian semata. Terkadang, ingatanku masih saja tak bisa jauh darimu. Jahatku itu masih saja menikam pikiranku. Terlebih sebuah lagu ini benar-benar menceritakan tentang rasa bersalahku.


Telah lama, ku tahu engkau. Punya rasa untukku. Kini saat dia tak kembali. Kau nyatakan cintamu. Namun, aku takkan pernah bisa, ku.. takkan pernah merasa, rasakan cinta yang kau beri. Ku terjebak di ruang nostalgia. Semua yang ku rasa kini tak berubah sejak dia pergi. Maafkan aku, hanya ku ingin sendiri ku di sini.


Sekali lagi, aku ingin berterimakasih sepenuh hati. Terima kasih, untuk kerelaanmu menjadi penyembuh.

Mei 2015.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya