Tempat idamanmu

Aku masih terseret arus kegundahan dan kegelisahan karena dilema dalam hatiku, oleh kian kencangnya arus perselisihan karena adanya perbedaan pemahaman juga permikiran antara kamu dan aku yang terus saja berlanjut seperti bola salju, yang semakin lama semakin membesar dan seakan tak terkendali lagi melanda hari-hari yang masih bisa kita miliki bersama walau sebatas obrolan maya.


Percakapan kita kini lebih sering berisikan pertengkaran yang tak berujung.


Advertisement

Terkadang hadir rasa jenuh dan ingin berhenti dari semua ini, manakala ingat obrolan kita tak semanis dulu, yang biasanya selalu indah-indah, kini telah bertransformasi menjadi kekesalan, kemarahan, perbedaan pendapat dan saling menyalahkan. Mungkin karena kita sama-sama egois, sama-sama tak mau menerima semua dengan kerelaan hati. Masing-masing bersikukuh menunjuk yang lain yang bersalah.

Aku tak menyangkal bahwa bisa saja aku melakukan kesalahan yang tak kusengaja, walau nyatanya aku dari hati selalu meniatkan untuk menjaga hubungan ini, menjaga perasaanmu tetap baik dan aman, namun toh akhirnya semua jadi kontra produktif dengan tujuan. Apa yang direncanakan menjadi pelanggeng jalinan antara kamu dan aku ternyata justru menjadi ancaman paling serius bagi hubungan itu sendiri.

Dulu…, kamu selalu mengkhawatirkan jika hubungan ini harus berakhir, ternyata sekarang malah sebaliknya, kamu justru selalu menantangku dengan gaung perpisahan, entah apa yang ada dalam benakmu, atau apa sebenarnya keinginanmu. Sementara komunikasi kita semakin jarang, karena masing-masing merasa perlu menghindari pertengkaran, namun semua itu tak membuat jadi lebih baik, kekesalan dalam hatimu kian berkembang, tercermin dalam setiap percakapan yang kini selalu terjadi.

Advertisement


Di lain sisi aku masih tetap berharap agar ini bisa terlewati dan bisa membaik.


Sudah lama aku tetapkan dalam hatiku untuk mengajakmu jalan-jalan ke tempat yang paling kamu idamkan selama ini, yang selalu kamu posting dalam statusmu, tapi aku tak berani membicarakannya padamu. Seperti juga halnya dengan dirimu, aku pun masih trauma dengan peristiwa dua tahun lalu, kita janjian untuk ketemu, mengatur rencana dan membeli persiapan, ternyata aku gagal berangkat. Walau aku menjelaskan keadaan saat itu, tapi kamu sangat kecewa dan sakit hati hingga kini, dan masih saja tetap jadi kenangan pahit yang tak termaafkan.

Aku tak berani lagi merencanakan sesuatu, sementara jika tak direncanakan, kamu sendiri mungkin kesulitan untuk mendapatkan libur agar rencana bisa berjalan. Sementara jika aku bicarakan, takutnya ada hal tak terduga yang nantinya takkan pernah bisa kamu maklumi, yang akan jadi luka baru lagi buatmu, dan pastinya akan membuatmu semakin sakit hati kepadaku, seolah aku ini sengaja melukaimu.

Waktu makin dekat, aku beranikan diri untuk menyampaikan niat dan keinginanku, bukan sebagai rencana, yang tentunya akan berjalan jika kita sama-sama punya kesempan. Aku sudah berjanji bahwa suatu ketika akan mengajakmu ke tempat yang sangat kamu kagumi keindahannya itu pada hari ulang tahunmu kali ini.

Semua itu hanya untuk membuatmu senang saja. Aku tak berharap apapun dari hal ini, sepenuhnya kulakukan untukmu. Mungkin ini akan menjadi perjalanan terakhir kamu dan aku, karena aku tak tahu apakah hubungan kita akan membaik atau tidak, mengingat perkembangan komunikasi kita tak lagi seperti orang berkasih, tapi justru seperti permusuhan yang tiada akhir.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya